Rss Feed
Rss Feed

Minggu, 19 Februari 2012

HITAM PUTIH ARINI

Pijakan kaki pertamaku di sekolah ini merupakan anugerah yang terbesar sepanjang usia. Ingin aku berteriak dan menunjukkan pada tetangga-tetangga yang dulu mencemo’oh tentang cita-citaku. “Buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi Rin, paling ujung-ujungnya kembali ke dapur juga.” Selentingan kasak kusuk tetangga terdengar senter di telingaku. “Ealaah Yu, mana kuat orang tuanya menanggung biaya kuliah. Alih-alih lulus, hamil iya. Anak kuliahan sekarangkan banyak yang hamil sebelum nikah.“ Jika wanita dan lelaki tua super itu tak mendukungku. Maka, niscaya nasibku terkungkung seperti gadis-gadis desaku yang sedari muda dipaksa menikah. Ialah orang tuaku, manusia super yang selalu membimbing dan mendukungku.
Pagi ini begitu indah, angin lembut menelusup di setiap helaian rambutku. Suara gaduh kendaraan bermotor menjadi harmoni alam dengan alunan yang nyaman. Hilir mudik remaja berseragam putih abu-abu membentuk ketertaanan yang begitu rapi. Mereka semua sama, berseragam.
 Langkahku begitu ringan menuju sebuah gedung berlantai tiga yang menjadi bukti bahwa aku ada dan berdaya. Entah, semua terasa indah. Mungkin karena batinku yang lapang hari ini.
            "Ibu, Bapak, tersenyumlah. Sudah waktunya engkau beristirahat dan mengalihkan beban kehidupan ke pundak anakmu ini. Katakan pada setiap orang yang mencemo’ohku dulu, bahwa anakmu ini telah bekerja sebagai guru di SMA Negeri faforit di kota.“ Ungkapku dalam hati.
 “Selamat pagi Bu.“ lelaki separuh baya itu mengulurkan tangannya padaku. “Selamat pagi Pak.“ Tangan kami saling bergenggam “Saya Prasetyo, selamat datang di sekolah kami. Ke ruangan saya dulu ya Bu.“ Lelaki berpakaian rapi itu mempersilahkanku masuk keruangannya. Pak Prasetyo adalah kepala sekolah di SMA ini.
Dengan sengaja, kakiku melangkah membuntuti Pak Prasetyo. Rupanya spirit dari jiwa yang berbunga-bunga ini mengalir ke kaki, tangan, mata, mulut hingga semua terasa begitu sumringah. Tak terasa, ruangan lebar penuh dengan meja guru yang di atasnya tertumpuk buku-buku pun terlewati. “Silahkan masuk Bu, silahkan duduk.“ Suara Pak Prasetyo membawaku pada kenyataan, aku kini sudah di dalam ruang Kepala Sekolah. “Terimakasih Pak.“ Sambutku.  
Setelah agak lama bercakap, kami pun keluar ruangan, selanjutnya aku diperkenalkan pada segenap dewan guru yang ada di ruangan itu. Ya, tepat di depan ruang Kepala Sekolah adalah ruang guru. Semua memakai seragam coklat kekuning-kuningan serta co-card di masing-masing sakunya, kecuali aku. “Rupanya mereka kebanyakan sudah diangkat menjadi PNS, Pegawai Negeri Sipil. Orang berpenghasilan tetap yang digaji oleh Negara.“ Pikirku dalam hati. PNS di desaku sangat disegani. Berbeda statusnya jika dibahas di dalam kampus.
Pak Prasetyopun keluar ruangan dengan aku disamping beliau, perhatian seluruh guru yang ada dalam ruangan itu sontak terpusat pada kami. “Selamat pagi Bapak dan Ibu guru sekalian, Ibu ini adalah guru baru yang nantinya akan bekerjasama dengan kita dalam memajukan sekolah kita. Sangat saya harapkan, Bapak dan Ibu dapat membimbing dan bekerjasama dengannya. Untuk itu silahkan memperkenalkan diri.“ Orang nomor satu di SMA itu mempersilahkanku. “Terimakasih, nama saya Arini Ningsih. Fokus keilmuan saya adalah biologi. Dan karena saya orang baru disini, maka mohon bimbingan bapak serta ibu semua, terimaksih“  Terlihat gurat wajah  tanpa ekspresi dari mereka.
Setelah bersalam-salaman, situasi menjadi lain. Wajah para guru dan kariawan yang tadinya terlihat tegang tanpa ekspresi, kini berubah lebih teduh dan akrab. Pak Johan, guru yang pertama datang ke mejaku. Bercakap-cakap ringan, tentang kota kelahiran, Universitas asal, sampai ke alamat rumah dan kos-kosan.. Pak Johan sebenarnya belum pantas di panggil dengan sebutan pak, sama dengan aku, belum pantas dipanggil ibu. Usianya lebih tua setahun dariku. Hari pertama yang sangat mengesan, tak mungkin terlupa. “Ini adalah titik balik nasib keluargaku.“ Pikirku.
Tiga minggu beselang, usahaku menyeseuaikan diri dengan iklim sekolah ini pun menuai hasil. Seluruh guru akrab denganku, jadwal mengajarpun lancar kujalankan tanpa kesulitan. Mengenai murid yang agak bandel dan nakal itu kuanggap sudah biasa, akupun pernah di posisi mereka. Tak dapat ku pungkiri, yang sangat mempengaruhi kemulusan jalanku itu adalah Pak Johan. Kami selalu inten berdiskusi tentang apapun. Ia berkali-kali menyambangi kosanku. Beruntung sekali diri ini, hingga kau berikan partner yang selalu bisa mendukung dan menemaniku. “Terimakasih ya Allah.“

###

Luki dan Fajar, teman sebangku paling mengesan selama aku mengajar. Merekalah profokator kelas untuk tidak mendengarkan seluruh penjelasan dariku, kecuali Ayu dan Heri yang tak terpengaruh. Tak hanya satu teknik yang mereka praktekkan, mulai dari ngobrol sendiri, main lempar-lemparan kertas, sampai memukul-mukul mejapun mereka lancarkan. Entah apa niat kedua bocah itu berangkat sekolah. Sementara itu, Aku pun tak mau kalah, beberapa trik ku praktekkan untuk menimbulkan kelas yang efektif. Beberapa metode dalam metode PAIKEM pun ku jalankan. Namun rupanya merekalah pemenangnya.
Semakin gerah saja aku dengan kelakuan dua bocah pembuat ulah itu. mereka tak juga takut setelah kuperingatkan bahwa nilai ulangannya tidak akan keluar. Beberapa hari kemudian, kekesalanku memuncak. “Sesekali mereka harus diberi pelajaran dan tindakan tegas.“ Pikirku. “Tolong ya mas berdua, bisa tutup pintu dari luar?“ Begitu ucapku halus pada mereka suatu saat setelah proses pembelajaran dimulai. Merekapun keluar dengan santainya. Selanjutnya, kelaspun berlangsung kondusif.
Memang, mereka sangat bertolak belakang dengan Ayu dan Heri, siswa yang selalu memeperhatikan dan paham penjelasan. Seperti mereka itulah seharusnya anak sekolah. Jika saja Luki dan Fajar tak selalu mengacau, aku percaya mereka bisa seperti yang lain. Menjadi siswa yang normal.
Heri dan Ayu adalah murid kesayangan hampir seluruh guru di sini. Selain cerdas dan patuh, ia juga aktif di segenap kegiatan ekstrakulikuler dan OSIS. Tak jarang mereka mendapatkan bonus dari guru dan beasiswa dari sekolah. Sempat aku membayangkan mempunyai anak seperti mereka.
Seluruh cerita dan anggapan itupun aku ceritakan pada Pak Johan, karena memang ialah guru yang mempunyai kedekatan lebih denganku. “Pak Johan, tadi saya mengeluarkan Luki dan Fajar dari kelas. Bagaimana tidak, mereka selalu menjadi pengganggu proses belajar mengajar. Hal itu membuat emosiku memuncak.“ Sedikit cakapku pada guru muda pengajar Agama Kristen itu di kantin khusus guru.
Dengan wajah serius, guru muda itu memandang mataku tajam “Bu Arini, begitulah tantangan sekaligus misi seorang guru. Bukan sekedar mentransfer pengetahuan, melainkan juga mengajarkan ilmu bagaimana hakikat kehidupan. Begitulah, kita membawa warna putih untuk dipercik-percikankan pada permukaan-permukaan yang masih hitam. Dan kamu tidak boleh berputus asa. Di agamamu putus asa sangat dilarangkan?“ Matanya begitu tajam memandangku. Aku sangat terkesan dengan kata-katanya yang begitu bijak.
Prilaki usil kedua bocah itu semaki, menjadi saja. Pernah saat ku beri pertanyaan pada pasangan sebangku itu tentang buah apa yang bisa dikonsumsi secara keseluruhan. Belum menjawab, mereka malah balas bertanya, “kalau Ibu jawabnya apa?” Pertanyaan itu membuatku geram dan diam. “Kalau menurut saya sih buah durian Bu.” Sahut Fajar begitu yakin. “Bijinya bisa dimakan, daging buahnya juga bisa dimakan.” “Kulitnya?” Tanyaku mengejar. “Kulitnya ya buat ibu saja. Ha...ha...” Mereka tertawa cekikikan. Mendengar jawaban itu, sontak seluruh kelas bergemuruh. Lagi-lagi mereka harus dikeuarkan untuk kesekian kali demi terciptanya kelas yang kondusif. “Ma’af pak Johan, aku belum bisa menjalankan nasihatmu.“ Bisikku dalam hati.
Entah mengapa, aku bisa bercerita semua hanya pada pak johan. Tapi yang jelas aku merasa nyaman di dekatnya. Mungkin itu karena ia dewasa dan sangat perhatiaan padaku. Sesekali pak Johan mengingatkanku untuk makan, menjaga kesehatan, memberikan support dan solusi jika ada masalah, dan hal-hal lain yang membuatku semakin merasa sangat aman dan nyaman di tanah rantau. Sempat aku berpikir bahwa ia adalah Guardian anggel  yang dikirim Allah padaku. 
Tak sengaja, tatapan mata, dan ucapan-ucapan lelaki ganteng yang begitu bijak itu pun selalu terlintas di benakku. Tak dapat kulupa, dalam hatiku terbersit harap pada guru muda yang bernama lengkap Johan Kusuma itu. Seperti Ayu dan Heri yang selalu bersama. Bagai kupu-kupu dengan sayapnya, mereka selalu berdua. Mereka sudah berpacaran sejak kelas X Ingin aku kembali ke masa-masa SMA dulu yang kulewatkan begitu saja. Tentu saja dengan pak Johan, diam-diam hatiku tak bisa dibohongi.
Perasaan-perasaan itu begitu halus menelusup ke dalam relung hatiku yang terdalam. Interaksi kami semakin akrab saja setiap hari. “Samakah yang dirasakan pak Johan dengan yang kurasa saat ini.“ Bisikku dalam hati. 
Malam ini, 17 Desember, adalah tanggal kelahiranku. Malam yang aneh, mengapa aku selalu ingat pada pak Johan, padahal sama sekali tak kurencanakan keberadaannya malam ini. Entahlah, sampai kemudian keanehan itu terjawab ketika tiba-tiba pak Johan berada di depan kosku. Ia berdandan rapi dan berwibawa. Wajahnya yang putih, bersinar dibalut blazer berwarna hitam itu berada di bola mataku yang berbinar ceria. Dengan rangkaian bunga, ia pelan-pelan mengungkapkan isi hatinya padaku “Selamat ulang tahun Arini. Ma’af tak dapat ku pendam lagi perasaan ini. Begitu lama rasa ini terakumulasi dalam hatiku. Cinta, itulah yang kurasakan. Maukah kau menjadi pendamping hidupku selamanya Arini?“  Ada sejuta panah yang tertancap di jantungku, nafasku terhenti, semua yang ku pikirkan mendadak hilang, tubuhku gemetar tak terkontrol, inilah lelaki yang pertama berkata seperti ini padaku. “Saya juga merasakan hal yang sama Pak.” Begitu jawabku terbata. Taman depan kosku menjadi saksi terjalinnya ikatan sepasang kekasih. Johan dan Arini.
Bunga-bunga cinta kami mengakar dilubuk hati. Bercanda dan tertawa bersama, dunia ini begitu indah. Tak jarang lamunanku memanjang di sisi-sisi kamar menyebar dan memenuhi seluruh ruang alam imajinasiku. Sering kami bertemu di kos dan sesekali jalan-jalan ke tempat yang indah. Sangat bertolak belakang dengan situasi di sekolah yang memaksa kami berlaku seperti tak ada hubungan apa-apa. Murid-murid tak boleh tahu tentang hubungan ini, dan kami harus berlaku profesional jika tak ingin terjadi masalah dengan murid, guru dan seluruh dewan sekolah.
“Guru adalah manusia yang sempurna di depan muridnya.“ Kata-kata dosen strategi belajar mengajar yang selalu terngiang di benakku. Sekolah adalah instansi suci yang harus berjalan sempurna bagiku. Seorang murid harus patuh pada guru, dan guru harus menjadi contoh yang baik bagi muridnya. Atas dasar itulah, kami bersepakat tidak menampakkan jika kami telah resmi mempunyai hubungan cinta.

###

Dua bulan sudah aku bekerja di gedung yang megah ini. Masih seperti biasa, kebiasaan Luki dan fajar gaduh di kelas tak kunjung hilang. Ayu dan Heri semakin disayangi semua guru, baru saja mereka memenangi lomba karya ilmiah yang diselenggarakan salah satu Universitas ternama di kota itu setelah seminggu di bimbing eksklusive oleh guru-guru yang berkompeten. Bertolak belakang dengan pasangan Luki dan Fajar yang selalu membuat ulah dan dikucilkan oleh kebanyakan guru.
Hari minggu di ahir bulan, saatnya aku pulang kampung. Ini adalah gaji ke dua yang kukirim untuk keluargaku di rumah. Seperti biasa, mata kedua orang tua itu selalu basah ketika melihatku pulang. Mereka memelukku erat-erat, seakan tak ada yang boleh memisahkan kami lagi. Akupun melakukan hal yang sama. “Terimakasih anakku, kamu telah mewujudkan harapan Ibu dan Bapakmu.” “Ibu, Bapak.“ Kamipun menangis sesenggukan kala itu. Aku memang dibesarkan dengan kasih dan sayang. Sampai sore, akupun kembali ke kota beriring lambaian tangan dan doa dari bapak dan ibu.
Sesampai di kos, aku membagi-bagikan jajan yang ku bawa dari kampung pada keluarga keduaku, Ibu kos dan tetangga-tetangga kamar. Suasana penuh keakraban, itulah yang kurasakan saat kami berkumpul dan bercanda bersama. Semua penghuni kos tahu bahwa ada hubungan yang istimewa antara aku dan Pak Johan. “Kapan Rin, nikahnya? Kami diundangkan?” Itulah yang kerap menjadi ledekan ketika kami menuntaskan kebersamaan. Dan aku selalu menjawabnya dengan sunggingan bibir.

###  

Hari senin selang satu bulan setelah ULTAH-ku, terjadi hal yang tak biasa di sekolah. Aku bertanya-tanya dalam hati, ada apa ini. Pandangan seluruh guru terlihat sinis padaku. Tak ada yang mengajakku bicara lagi, sedikitpun. Begitu juga dengan kepala sekolah, saat ku sapa, beliau menjawabnya singkat dan bernada sinis. Hal yang sangat menyiksa bagiku, dibiarkan terombang-ambing dalam ketidak tahuan. Hal serupapun kuperhatikan juga terjadi pada Pak Johan. Tak ada yang memperdulikan kami. Alih-alih menyapa, memandang saja segan.
Jam istirahat, kami berdua makan di kantin. Sambil ngobrol-ngobrol tentang hal yang aneh hari ini. Sama denganku, pak Johan pun bingung. Sampai kita mendengar bisik ibu-ibu penjaga kantin. “Katanya, bu Arini dan pak Johan berpacaran ya Bu?” “Iyy!!” jawab salah seorangnya lagi. “Katanya sih, ada salah seorang murid memergokinya sedang berciuman di taman kota. Katanya juga, mereka sempat melihat keduanya berpelukan di depan kosan.” Sambung Ibu yang satunya. “Seluruh guru juga pasti sudah tahukan.” “Berani sekali mereka ya..” Sahut Ibu tua yang lain singkat. Obrolan itu terhenti saat kami menyerahkan uang membayar makanan yang kami pesan.
“Ow, ternyata itu masalahnya.” Kataku pada pak Johan. “Za..za..za..” Sahut pak Johan sambil tetap berjalan. Hari itu serasa karir kami berada di ujung tanduk. Kami merasa telah melakukan dosa dan pelanggaran yang sangat besar. “Ya Allah, tolonglah kami.” Doaku dalam hati.
Bel sekolah pun berbunyi, warna putih abu-abu berhamburan keluar dari ruang kelas masing-masing. Keluar yag terahir adalah para guru. Hari itu sangat panas, sepanas hati dan pikiranku saat ini. Rupanya mental kami benar-benar diuji hari ini.
Sesampaiku di meja, ada surat yang terletak jelas di atas tumpukan buku tugas murid-murid. Kubuka perlahan, pandanganku merangkai tiap kata di atas kertas tersebut. Otakku mengatakan bahwa itu adalah surat panggilan sekaligus peringatan untukku atas hubungan spesialku dengan pak Johan. Kalimat yang paling kuingat adalah “Harap menghadap kepala sekolah setelah jam belajar mengajar selesai.” Kurasa masa depan yang dibanggakan orang tauku hancur terkeping saat itu. Kakiku gontai melangkah ke ruang Kepala Sekolah.  
Seperti dugaanku sebelumnya, Pak Johan sudah berada di ruangan itu sebeluku. Tempat itu berubah menjadi tempat yang sangat angker. Hawa dingin mengalir keseluruh tubuhku, meski saat itu tepat pukul 14.00 WIB. Aku duduk di kursi samping pak Johan. Di tepi meja, ada Kepala Sekolah yang siap mengintrogasi atau entah apalah yang akan beliau lakukan saat itu. Tak ada senyum sedikitpun yang mengembang. “Kalian berdua seyogyanya bisa menjaga nama baik kalian sendiri dan sekolah. Bukan malah mencontohkan hal yang seperti itu. Kalian tahu kekeliruan kalian kan?” Tanya Bapak berkumis itu dengan nada serius. Kami hanya terdiam. “Ada tiga pilihan yang bisa kalian lakukan. Menikah secepatnya dalam minggu ini, kalian berdua dikeluarkan dengan tidak hormat dari instansi, atau salah satu dari kalian harus ada yang pergi dari sini. Silahkan keluar dan pikirkanlah matang-matang.” “Terimakasih Pak, jawab kami mengakhiri.” Kamipun keluar dari ruangan itu.
Setelah kejadian itu, kami melakukan percakapan serius tentang masalah tadi di kosanku. Kulihat wajah pak Johan begitu tegang dan kusut. Percakapan itu berlangsung lama. Selanjutnya kamipun membesarkan hati dan mental untuk melanjutkan hubungan dengan lebih serius. Kami akan meminta restu dari masing-masing orang tua. Hal itu kami lakukan untuk mengurangi beban yang menggelayut di hati. Kami merasa telah membohongi semua orang khusunya orangtua dan institusi sekolah.
Satu minggu penuh kami mengajukan cuti untuk mengurus rencana pernikahan yang belum tentu disetujui itu. Hari pertama, pak Johan lah yang bertandang ke rumahku. Awalnya Bapak dan Ibu menyambut baik. Namun setelah ia memperkenalkan diri secara lebih detail tentang agama dan seluruh keluarganya yang Kristian. Wajah kedua orangtuaku memerah, dan situasi hatiku berubah tegang. Ada kemurkaan tersimpan pada kedua wajah orang yang kusayang itu. “Kami tidak akan menikahkan Arini dengan orang kafir. Lebih baik anak kami tidak lagi bekerja dari pada harus menikah dengan orang sepertimu, kami masih bisa membiayai hidupnya.” Itulah kata terakhir yang benar-benar mengahiri kehangatan awal tadi. Hatiku hancur berkeping. Ada gumpalan awan di dada yang memaksa mataku meneteskan air. Entah air apa. Dengan penuh kekecewaan, pak Johan pun pulang setelah aku lihat setiitik air mata di pipinya.
Setelah kejadian itu, ku benamkan diriku di kamar. Layaknya Kartini yang dipingit oleh adat, aku memingit diriku sendiri. Sangat bertolak belakang dengan harapan. Orangtuaku tak dapat merestui hubunganku hanya karena perbedaan keyakinan. “Tak pernah aku berdoa semoga kau melenceng dari ajaran agama Arini.“ Begitu kata ibu sambil berlinangan air mata di kamarku.
Itulah minggu kehancuran hatiku. “Jauh-jauh aku pulang meminta restu, namun yang kudapat bendu.“ Pikirku dalam hati. Sepasang kekasih yang saling mencintai, dipaksa berpisah oleh agama dan adat yang lama aku yakini. Dua pilihan yang tak dapat dipilih, simalakama.“ Keluhku dalam hati.

###  

Setelah satu minggu memingit diri dalam ruang dan renungan. Kini saatnya aku melaksanakan keputusan. Aku harus berkorban, berpamitan dan menyatakan keluar dari institusi itu supaya pak Johan bisa tetap bekerja di sana. Kupaksakan hal ini demi masa depan pak Johan dan senyum orang tuaku. Aku tidak ingin dicap sebagai anak yang tak berbakti oleh orangtua yang membesarkan dan mendidikku sedari bayi.
Siang itu juga aku menghadap Kepala Sekolah dan mengatakan keputusan akhirku. Tak kulihat pak Johan siang itu. Malah yang kutemui adalah cerita pak Prasetyo tentang Heri dan Ayu, murid kesayanganku dulu. Kesucian cinta serta prestasi Heri dan Ayu, terhapuskan oleh setitik nafsu. Mereka tertangkap sedang melakukan hubungan intim saat dipercaya pihak sekolah mengikuti workshop keorganisasian. Tak urung, merekapun di keluarkan dari sekolah. Sepasang murid kesayanganku dulu terjerat ke dalam lembah yang sangat hina. Mereka hancurkan masa depan. Sedang Luki dan Fajar masih seperti biasa, selalu usil dan menjadi langganan Badan Konseling sekolah. Aku tertegun, “Isyarat apa ini Tuhan, apa yang harus ku pelajari dari kejadian ini?“ Bisikku dalam hati. Ternyata satir antara hitam dan putih sangatlah tipis. “Tuhan, tolong jelaskan hakikat hitam dan putih ini.“

…..++…..
edy arif tirtana
Ngaliyan, 2011
Posting Komentar