Rss Feed
Rss Feed

Senin, 20 Februari 2012

MINGGU CERIA BERSAMA PAMAN SUGI

Selamat pagi matahari, selamat datang hari minggu yang ku sayang, lalu senyum imutkupun menyambut datangnya hari libur ini. Sangat menyenangkan, setelah enam hari penuh belajar di sekolah, akhirnya tiba hari yang ku tunggu. Hari minggu. Bukan aku saja yang menyayangi hari minggu, tapi teman-teman satu kelasku juga. Mulai dari Rara, Silvi, Agung, Yuni, Desi sampai Panji, mereka selalu merindu hari minggu. 
Aku dan teman-teman selalu merencanakan suatu kegiatan pada hari itu. Kemarin, saat jam istirahat kami bercakap-cakap, pasti ada banyak ide yang muncul. Sabtu itu Rara mengusulkan bermain PS saja di rumahnya, Agung mengajak bersepeda keliling komplek perumahan, Panji mengajak bermain di sungai, akan tetapi yang disepakati adalah ideku, yaitu berkunjung ke rumah kreatif paman Sugi sambil naik sepeda. Huufh…, Pasti asyik banget.
Biasanya, setelah bersepakat tentang kegiatan apa yang akan dilakukan, kami bersepakat terlebih dahulu mengenai tempat berkumpul sebelum menuju lokasi bersama. Kami bersepakat berkumpul di halaman sekolah saja saat itu. Maklum, jarak rumah paman Sugi agak lebih dekat dari sekolah ketimbang dari rumah kami. Tentang waktunya, kita bersepakat pukul 08.00 WIB tepat harus sudah tiba di halaman sekolah.
Setelah terbangun, sesegera mungkin kurapikan selimut dan bantalku. Selanjutnya mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Itu karena jam sudah menunjukan pukul 06.30 WIB. “Aku harus sampai sekolah lebih awal kali ini.” Bisikkudalam hati. Selesai mandi dan ganti baju, pasti Mama dan Papaku sudah menunggu di depan Televisi. Iya, itu karena Mama sudah hafal kebiasaanku. “Mau kemana Rin hari ini?” Tanya Mama sambil tersenyum. “Ke rumah paman Sugi ya? Ayah ku menyambung. “Iya Pa.” Jawabku singkat. “Makan dulu.” Selanjutnya mama mengambil sepiring nasi komplit dengan lauk dan segelas susu. Mamaku adalah mama paling baik se-dunia. “Terimaksih Ma.” Ucapku pelan.
“Ririn pergi dulu ya Ma, Pa.” “Iya, hati-hati.” Jawab orang-orang nomor satu buatku itu. Selanjutnya, kukayuh pedal sepedaku sekencang mungkin menuju sekolah. Melewati rumah Panji, aku berteriak “Ayo Nji…!!” Nampaknya ia belum berangkat. “Siap.” Jawabnya kencang. Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan Silvi, Agung, dan Zuni. Rupanya mereka berangkat bersama. “Aku salip kalian, ha..ha..” Teriakku kencang. Terlihat ekspresi mereka kaget.  Akhirnya, tibalah aku di halaman sekolah pertama kali, disusul tiga kawanan tadi dan satu persatu teman-teman yang lain. Ramai sekali saat itu. Penuh dengan keceriaan khas liburan.
“Sudah berkumpul semua?” “Saatnya berangkat.” Lanjutku kencang. Kamipun mengayuh pedal sepeda menuju rumah kreasi paman Sugi. 
Tak berselang lama, kamipun samapai di rumah paman Sugi. Banyak lukisan dan patung-patung menghiasi rumahnya. Taman yang luas, membuat kami merasa segar. Di pojok taman sebelah barat, terlihat sebuah rumah-rumahan yang terbuat dari kayu –biasanya disebut gazebo-, dan paman Sugi sudah melambai-lambaikan tangannya kepada kami. “Ayo anak-anak kesinilah, Paman akan mengajak kalian bermain.” “Siap, Paman.” Kamipun ramai-ramai berlari menuju paman Sugi.
Sambil memegang sebuah buku, paman Sugi menanyai satu persatu nama kami. Semangat sekali orang tua itu. Meski rambut diatas kepalanya sudah memutih, wajahnya selalu nampak ceria. Setelah itu, kamipun akrab dengannya.
“Paman akan mengajak kalian mengenal dolanan-dolanan tradisional dan memainkannya bersama-sama.” “Kenapa harus dolanan tradisional Paman?” Tanyaku penasaran. “Lha iya, karena dolanan tradisional pada masa sekarang ini sudah banyak dilupakan oleh anak-anak. Lihat teman-temanmu yang lain, malah sibuk bermain Play Station, Game on Line, atau apalah yang malahan menutup diri. Mereka pikir pergaulan, ketangkasan, dan kecerdasan emosional itu tidak penting? Mereka itu kasihan, sudah kehilangan keceriaan masa kecilnya gara-gara kebanyakan nonton sinetron dan gosip-gosip. Ha..ha..” “O..begitu ya Paman.” Kamipun mengangguk paham.
Setelah itu, kami memainkan dolanan-dolanan tradisional satu persatu sesuai dengan arahan paman Sugi. Mulai dari yang namanya Patungan, Sekongan, brag, sampai engklek telah kami lakukan. Ramai sekali. Seringkali kami tertawa bersama-sama, berlarian, hingga gendong-gendongan. 
Saat kami bermain sekongan, situasi sangat seru. Ada tiga buah kayu yang ditata saling menopang. Selanjutnya, kami melemparinya menurut undian. Setelah ada yang berhasil merobohkan tatanan kayu tersebut, maka semuanya berlarian mencari tempat persembunyian. Kecuali yang ada di urutan paling belakang, karena ia harus menjaga dan mencari persembunyian kami satu persatu. Saat itu Panji yang kebagian jaga.
Tak terasa, hari sudah siang dan saatnya berpamitan meskipun sebenarnya masih ingin mencoba permainan-permainan lainnya. Kami berpamitan dengan paman Sugi, selanjutnya mengayuh sepeda ke rumah masing-masing.
Sesampai di rumah, Papa dan Mama sudah menyambut dengan senyuman. “Paman Sugi dan dolanan tradisionalnya, asyik banget Ma. Dahsyat deh pokoknya.” Mama dan Papa tertawa. “Makan siang, mandi, setelah itu istirahat ya..” Mama mengelus kepalaku. “Siap Ma.” Jawabku semangat. “Terimakasih Tuhan, kau berikan Mama dan Papa terbaik bagiku.” Bisikku dalam hati.

edy arif tirtana

Poskan Komentar