Rss Feed
Rss Feed

Minggu, 19 Februari 2012

TANDA SAYANG

 “Goool..” Teriak teman-teman saat tendangan kerasku menjebol gawang Danu. Gembira bukan kepalang, begitu yang kurasa. RW kami unggul atas RW 03 dengan skor 1-0 pada kompetisi sepak bola antar RW di Desaku sore itu. Setelah peluit akhir pertandingan dibunyikan wasit, serentak Romdoni di angkat dan di lempar-lempar ke udara. Pikirku, “seperti Lionel Messi saja Ia.” Sore terindah, untuk bola dan tim yang ku sayang.
Namun sayang, piala tidak diberikan saat itu juga. Jadi, perayaan kemenangan terasa kurang lengkap. “Harusnya, piala langsung diberikan saja ya.” Ucap Danang. “Iya jadi kurang seru.” Sahut Heru. “Mungkin panitia hari kemerdekaan kali ini kekurangan dana kali ya. Ha..ha…” Kami pun tertawa bersama. “Tapi, sekali merdeka, tetap merdeka kan. Kita menang. Jadi juara” Timpalku meramaikan, “Hidup RW 05. Hidup RW 05.” Sekali lagi kami berteriak teriak serempak. Tak terkecuali aku, sebagai official team.
“Sore-sore begini, jadi teringat Bayu ya. Seperti waktu selesai latihan saja.” “Mungkin kalau ada bayu skornya tidak cuman 1-0, tapi 3-0.” Hendro melanjutkan. Memang, bayulah yang paling mahir bermain sepak bola di RW kami. Tidak seperti aku, sebab itulah teman-teman mempercayakan posisi official team kepadaku. “Kenapa Bayu tidak boleh bermain dengan kita lagi ya?” Tanya Aldi. “Entahlah, tapi yang jelas Ia tidak ikut latihan sejak kakinya terkilir waktu latihan dan terpincang-pincang saat pulang.” “Aku yang mengantarkannya pulang kerumah saat itu. Terdengar suara ibunya sangat keras memarahinya.” Teman-temanpun mulai ramai membicarakan Bayu sore itu.
Memang sudah lama Bayu tidak pernah bermain lagi dengan kami seperti dulu. Mulai saat itu, aku tak pernah sekalipun bertemu dengannya. Bahkan di sekolah, ia sudah tidak masuk selama empat hari sampai saat ini. Semula, ialah yang akan dijadikan sebagai kapten tim kami. Namun sekali lagi sayang ia tak bisa dating, apalagi bermain sampai sore ini.
“Bagaimana jika kita besok menengok Bayu ke rumahnya saja?” Tiba-tiba Budi berdiri. “Iya, sekarangkan pertandingan sudah selesai sudah tidak ada latihan lagi. Usul yang bagus tuh Bud.” Sahut Ridlo dengan nada semangat. “Tapi, masak kita kesana hanya menengok saja. Tidak membawa buah atau apa gitu?” “Iya, sebaiknya kita membawa susu atau buah saja. Uangnya, dari iuran kita saja bagaimana?” Imbuhku. “Setuju..setuju.” Jawab mereka bersamaan. “Kita iuran, per orang Rp. 2.000 di kumpulkan kepadaku. Aku tunggu besok pagi di halaman sekolah. Tapi berhubung matahari sudah mulai tenggelam, kita pulang saja dulu agar tidak dimarahi Mami.” “Ha…ha….” Kamipun tertawa serempak. Selanjutnya pulang ke rumah masing-masing. 
Langit merah semakin tampak di sebelah barat, ku percepat langkahku menuju rumah. Sambil bernyanyi-nyanyi, tak terasa sampai juga di depan pintu rumah. “Kok sampai sore baru pulang Mal?” Tanya Ibu kepadaku. “Iya Bu, tadi istirahat dulu disana.” Jawabku singkat. “Kamu cepat mandi, di atas meja telah ibu siapkan susu dan tahu bakso kesukaanmu.” “Asyik…” Aku pun cepat berlari melepas baju dan melesat ke kamar mandi. “Bolanya menang mal?” Suara ayah keras dari meja makan. “Siip… menang Yah. Terimakasih doanya.” Dari kamar mnadi ku menjawab.
Setelah mandi dan shalat terselesaikan, langsung aku menuju meja makan. Telah terhidang satu gelas besar susu dan empat potong tahu bakso. “Beruntung sekali aku memiliki Ibu yang selalu sayang padaku. Terimakasih Ibu. Tak hanya Ibu. Tapi aku juga mempunyai ayah yang sangat super. Beliau masih sempat meluangkan waktu untuk bermain bola denganku. Apalagi saat aku dikado bola oleh ayah saat ulang tahun, serasa mau terbang ke langit. Dari saat itu, aku berjanji akan selalu sayang dan hormat pada Ayah dan Ibu.
Tak terasa, pagipun tiba. Teringat akan rencana untuk menengok Bayu, aku pun bergegas mandi, ganti baju dan berpamitan pada Ayah dan Ibu. “Ayah, Ibu, Akmal pergi menengok Bayu dulu ya. Kemarin Ia sakit.” “Hati-hati ya” Jawab Ibu. Aku pun berlari sambil mengucapkan salam.
Tak begitu lama berlari, sudah kulihat teman-teman berkumpul di halaman sekolah. “Ma’af ya teman-teman.” Tidak menghiraukan permintaan ma’afku, mereka malah asyik berbincang-bincang. “Ayah dan Ibuku memang paling joss. Beliau semalam memijit badanku.” “Meskipun ibuku suka marah-marah, tapi tetap saja beliau sayang padaku. Buktinya aku masih diberi makan dan di sekolahkan sampai sekarang.” “Aku juga sangat sayang dengan Ayah dan Ibuku. Tapi aku tidak mau mengatakannya pada kalian.” Bisikku dalam hati. Tak selang lama setelah mereka bercakap-cakap, dikeluarkanlah uang masing-masing Rp. 2.000 per orang. “Karena kau datang terlambat, maka kaulah yang harus membeli buah dan susu untuk Bayu, kami menunggu disini.” Roni menawarkan. “Siap.” Akupun bergegas membeli buah dan susu, seterusnya ku bawa lagi ke sekolah. Kamipun berangkat bersama ke rumah Bayu.
Tak begitu jauh rumah Bayu dari sekolah kami, hanya satu 1 km saja. Tapi melelahkan juga jika ditempuh dengan jalan kaki. Pagi itu Nampak ramai sekali di rumah Bayu. Ada orang hilir mudik mengangkat barang-barang dari dalam rumah Bayu. “Ada apa ya di rumah Bayu?” Kami pun bertanya-tanya dalam hati. Sambil terus mendekat akhirnya kami sampai depan rumahnya.
Bayu yang melihat kami di depan rumahnya langsung menghampiri kami. “Ku kira kakimu masih sakit Yu?” Tanyaku mengawali. “Aku kan pemain bola sejati, masak terkilir begitu saja lama sembuhnya.” Jawab Bayu melucu. Kami pun tertawa ramai sekali.
Mendengar tawa keras kami, Ibu Bayu keluar. Tidak seperti yang kami kira. Ibu setengah tua itu membentak-bentak kami. “Gara-gara kalian, Bayu sakit kakinya. Sampai tidak bisa masuk sekolah. Aku tidak akan ijinkan bayu bermain lagi dengan kalian. Dasar anak-anak liar.” Begitu kata ibunya. “Bayu, cepat masuk!” Ibu tua berambut keriting itu pun masuk ke dalam rumah.
“Teman-teman, ma’afkan ibuku ya… beliau berkata seperti itu semata-mata karena sangat sayang padaku. Maka ibuku sangat ingin menjagaku dari bahaya. Jangan diambil hati ya… mungkin itulah tanda sayang dari ibu padaku.” Ucap Bayu tergugup. Spontan terucap dari mulutku “Tidak apa-apa Bayu. Tapi tanda sayang kami padamu tidak seperti ibumu. Tanda sayang kami merupakan ini.” Sambil ku ulurkan bungkusan susu dan buah yang dari tadi aku bawa. Bayu pun menerimanya sambil tertawa. Disusul dengan tawa keras kami untuk ke dua kalinya. 
---##---
edy arif tirtana
Ngaliyan, 2011
Poskan Komentar