Rss Feed
Rss Feed

Minggu, 17 Juni 2012

KOMPARASI PRESTASI BELAJAR SISWA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dengan yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siswa MA Walisongo Pecangaan Jepara Tahun Ajaran 2010/2011.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (fiel reseach) yang bersifat deskriptif kuantitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara tahun ajaran 2010/2011 yang jumlahnya sebanyak 29 siswa.
Data hasil penelitian yang terkumpul, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik. Pengujian hipotesis menggunakan analisis uji-t. Dari penghitungan tersebut menunjukkan bahwa prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siswa kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara tahun ajaran 2010/2011 mempunyai nilai rata-rata 73,5. yang berada dalam interval 70 – 74 dengan kategori kurang. Sedangkan prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siswa kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara tahun ajaran 2010/2011 adalah 74 nilai itu berada dalam interval 72 – 74 dengan  kategori cukup. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis statistik bahwa nilai t sebesar  -0,1126225 berada lebih kecil daripada nilai t yang ada dalam tabel baik pada taraf signifikansi 5% yaitu 1,703 dan pada taraf signifikansi 1% yaitu 2,473 dengan dk 27.
Dengan dk sebesar 27 diperoleh t tabel pada taraf signifikansi 5% = 1,701 dan pada taraf signifikansi 1% = 2,473. atau dapat ditulis, dalam taraf signifikansi 1% thitung  -0,1126225 < ttabel 2,473 . jika thitung -0,1126225 > ttabel 1,703. Jadi hipotesa alternatif (Ha) yang diajukan yaitu ada perbedaan adalah ditolak, dan hipotesa nihil (Ho) yang mengatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan adalah diterima.
Dari hasil penghitungan di atas, dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan yang tidak, pada siswa kelas XI IPA  MA Walisongo Pecangaan Jepara tahun ajaran 2010/2011.


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kegiatan yang berintikan interaksi antara siswa dengan pendidik serta berbagai sumber pendidikan (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005: 24-25) Sedangkan proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam suatu interaksi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dengan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Proses belajar mengajar ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar. (Moh.Uzer Usman, 2006: 4)
Lebih khusus lagi, bahwa biologi merupakan ilmu yang mempelajari seluk beluk makhluk hidup, hewan, tumbuhan, dan jasad renik. (M.H. Sitorus, 1999: 23) Dalam biologi juga dipelajari tentang struktur fisik dan fungsi alat-alat tubuh manusia dengan segala keingintahuannya. Segenap alat-alat tubuh manusia bekerja masing-masing tetapi satu sama lain saling membantu. Biologi mempelajari hal tersebut berkaitan dengan lingkungannya. Kedua aspek itu, baik tubuh manusia maupun alam dipandang sebagai sistem, dan dalam setiap sistem terdapat komponen-komponen yang saling menunjang agar keseluruhan sistem dapat berlangsung. (Nuryani, Y. Rustman, dkk, 2004: 14)
Keseluruhan paparan di atas sejalan dengan pandangan Dirjen Dikdasmen yang menyebutkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai akademik yang bersifat pemenuhan aspek kognitif, tetapi juga berorientasi pada cara anak didik dapat belajar dari lingkungan, pengalaman, dan kehebatan orang lain, kekayaan dan luasnya hamparan alam sehingga mereka bisa mengembangkan sikap kreatif dan daya pikir imajinatif.
 Dengan pendekatan kontekstual tersebut, seorang guru berusaha menunjukkan kepada siswa, betapa materi lingkungan hidup yang dipelajari sebenarnya sangat dekat, bahkan berinteraksi secara langsung dengan pengalaman keseharian mereka. Akibatnya, pembelajaran materi lingkungan hidup dapat berlangsung dengan penuh makna, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap lingkungan hidup.
Untuk merealisasikan tujuan tersebut, sekolah sebenarnya telah memiliki piranti-piranti yang terbentuk dalam sistem. Dalam hal ini adalah kegiatan intra dan ekstrakulikuler. Diharapkan keduanya dapat bersinergi secara seimbang dan saling mendukung. Sehingga tidak akan muncul benturan-benturan yang kadang memaksa pendidik ataupun siswa untuk memilih satu dari kedua pilihan yang menyulitkan.
Dalam kenyataannya terdapat suatu pilihan yang dilematis antara pendidik dan peserta didik dalam pelaksanaan kegiatan intra dan ekstrakulikuler. Hal tersebut karena tidak adanya hubungan yang sinergis antara keduanya. Atau belum ditemukan formula yang ampuh untuk mengkolaborasikan kedua potensi itu.
 Fakta lapangan menunjukkan bahwa seorang siswa memperoleh nilai rendah pada mata pelajaran tertentu, sementara siswa itu menjadi siswa yang paling rajin dalam kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya. Ia selalu menjadi wakil sekolah dalam setiap ajang pertemuan maupun perlombaan dan tak jarang ia mendapatkan juara. Apakah segenap aktifitas ekstrakulikulernya itu menyita waktu belajarnya di rumah sehingga nilai pelajarannya menjadi korban. (Drs. Suparlan, M. Ed, 2008: 164) Anggapan itulah yang banyak muncul ketika seorang siswa mendapatkan nilai kurang memuaskan pada suatu pelajaran.
Jalan keluar dari problema di atas adalah adanya sinergitas antara kegiatan intra dan ekstrakulikuler. Dalam kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) yang ada di MA Walisongo Pecangaan Jepara, jika dilihat dari materinya, terdapat suatu hubungan yang saling mendukung dengan kegiatan belajar mengajar. Materi-materi yang diajarkan dalam PMR sebagian besar merupakan aplikasi dari materi biologi yang diterima dalam kelas.
Dapat dicontohkan pada materi Pertolongan Pertama (PP), dalam materi tersebut dipelajari ilmu fa’al (anatomi) terlebih dahulu dan diikuti dengan studi kasus kemudian praktik lapangan ataupun simulasi. Dalam materi Perawatan Keluarga (PK), siswa diajarkan tentang ilmu gizi, gejala infeksi penyakit, dasar-dasar kesehatan dan kebersihan tubuh. Sedang pada materi Tranfusi Darah, siswa diajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan tranfusi darah beserta praktiknya. Selain materi yang sesuai, Palang Merah Remaja (PMR) juga menawarkan penghayatan hidup dan pembentukan kepribadian serta mental siswa.
Di samping materi yang sesuai, dalam Palang Merah Remaja (PMR) juga terdapat materi yang memang tidak berhubungan dengan pelajaran biologi seperti sejarah Palang Merah Indonesia (PMI), dasar-dasar ke-PMR-an, kepemimpinan dan keorganisasian, baris berbaris dan sebagainya. Dalam beberapa materi itulah yang disinyalir menimbulkan kurangnya waktu belajar siswa di rumah.
Berangkat dari anggapan tersebut, maka penulis berusaha untuk memunculkan fakta penelitian bahwa apakah sebenarnya kesibukan seorang siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler, dalam hal ini Palang Merah Remaja (PMR) dapat menghambat prestasi belajar siswa. Atau kegiatan ekstrakulikuler tersebut menjadi kegiatan yang positif untuk prestasi belajar siswa di kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara. 
Mengingat urgensi dari permasalahan yang terurai di atas, maka penulis akan melakukan penelitian tentang perbandingan prestasi belajar antara siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan siswa yang tidak menjadi angggota ekstrakulikuler Palang Merah Remaja (PMR).
Berangkat dari anggapan tersebut, maka penulis berusaha untuk memunculkan fakta penelitian bahwa apakah sebenarnya kesibukan seorang siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler, dalam hal ini Palang Merah Remaja (PMR) dapat menghambat prestasi belajar siswa. Atau kegiatan ekstrakulikuler tersebut menjadi kegiatan yang positif untuk prestasi belajar siswa di kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara. 
Mengingat urgensi dari permasalahan yang terurai di atas, maka penulis akan melakukan penelitian tentang perbandingan prestasu belajar antara siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Palang Merah Remaja (PMR) dan siswa yang tidak mengikuti atau menjadi angggota ekstrakulikuler Palang Merah Remaja (PMR). Dengan demikian, judul yang diajukan adalah “Studi Komparasi Prestasi Belajar Biologi Antara Siswa yang Menjadi Anggota Palang Merah Remaja (PMR) dengan Siswa yang tidak Menjadi Anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada Siswa Kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara Tahun Ajaran 2010/2011.” 

B.  Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang di atas, dapat diketahui permasalahan yang ada adalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) di kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara?
2.   Bagaimana prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) di kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara?
3.   Adakah perbedaan yang terjadi antara prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan yang tidak di kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara?

C.  Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini terselesaikan, yang diharapkan adalah adanya kemanfaatan. Setidaknya, manfaat yang dapat diambil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.   Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dan telaah para pendidik untuk meningkatkan dedikasi dan loyalitas terhadap tugas dan tanggung jawab pendidik maupun siswa.
2.   Hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahan koreksi hubungan antara materi pelajaran biologi dan ekstrakulikuler Palang Merah Remaja (PMR).
3.   Hasil dari penelitian ini dapat menjadi bukti bahwa apakah kegiatan ekstrakulikuler Palang Merah Remaja (PMR) memang menjadi penyebab turunnya prestasi belajar siswa atau tidak.
4.   Untuk menambah khazanah bahan kepustakaan bagi yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.
 
BAB II
LANDASAN TEORI

A.  LANDASAN TEORI
1.   Prestasi Belajar Biologi
Untuk mengetahui prestasi belajar biologi, terlebih dahulu akan dibahas tentang pengertian belajar, pembelajaran biologi kemudian barulah akan dibahas tentang prestasi belajar biologi secara menyeluruh.
a.   Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat dan merupakan proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. (Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2007: 11) Dalam hal ini, belajar mensyaratkan adanya perubahan pada diri tiap individu yang belajar.
Dalam buku yang lain, belajar belajar diartikan sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman indivudu dan interaksi dengan lingkungan yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik. (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 141) Jadi, dalam menjalankan proses belajar hendaknya tidak hanya mengacu pada satu ranah saja, melainkan harus mengkolaborasikan antara berbagai macam ranah demi tercapainya hasil belajar yang optimal.
Dengan demikian dapat dik­atakan bahwa belajar merupakan rangkaian kegiatan jiwa raga atau psiko-fisik untuk menuju ke arah perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Pernyataan lain tentang belajar dikemukakan oleh Throndike salah satu pendiri aliran teori belajar tingkah laku, bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan) dan respon (yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakan). Atau lebih jelasnya, perubahan tingkah laku itu dapat berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati) atau nonkonkret (tidak bisa diamati). (Hamzah B. Uno, 2008: 7)
Masih tentang belajar, Oemar Hamalik dalam bukunya Proses Belajar Mengajar menyebutkan bahwa belajar merupakan memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through expreriencing). Menurut pengertian trersebut, belajar merupakan proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih dalam dari pada itu, yakni mengalami. Dan hasil belajar bukan merupakan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. (Oemar Hamalik, 2008: 27) Dari pernyataan tersebut dapat ditangkap bahwa keberhasilan dalam belajar dapat diukur dari seberapa bisa pelajar mempraktikan sesuatu yang dipelajari dalam kehidupannya sehari-hari.
Melihat beberapa definisi di atas, maka belajar dapat disebut sebagai jenis kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari proses belajar masih sangat umum dan bisa mengarah kemana saja, tergantung individu yang melakukannya. Dapat dikatakan bahwa belajar menghasilkan suatu perubahan tinggkah laku dimana tingkah laku itu dapat menuju keaarah yang lebih baik, tetapi ada juga kemungkinan menuju kearah yang lebih buruk. (Ngalim Purwanto, 2000: 85) Sehingga perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari belajar, tergantung dari masing-masing individu pelajar. Jadi belum tentu setelah belajar akan didapat hasil atau menimbulkan perilaku yang lebih baik.
Dari berbagai pendapat para ahli tentang belajar, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen penting dalam belajar. Adapun elemen-elemen penting tersebut yaitu:
1)   Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
2)   Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar.
3)   Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. (M. Ngalim Purwanto, 1990: 85)
b.   Pembelajaran Biologi
Pengertian pembelajaran serta biologi menjadi hal yang wajib untuk diuraikan sebelum peneliti membahas tentang pembelajaran biologi. Hal tersebut dilakukan demi menghindari pembahasan yang tidak fokus. Berikut akan dibahas berturut-turut mengenai pengertian biologi dan pembelajaran biologi.
Biologi merupakan ilmu yang mempelajari seluk beluk makhluk hidup, hewan, tumbuhan dan jasad renik, masing-masing dikenal sebagai zoologi dan botani. (MH. Sitorus, 1999: 23) Pembelajaran biologi merupakan proses yang diselenggarakan guru untuk pembelajaran siswa dalam belajar bagaimana memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam mempelajari seluk beluk makhluk hidup.
Lebih dikerucutkan lagi, pembelajaran biologi bertujuan untuk menanamkan kesadaran terhadap keindahan dan ketertatanan alam semesta sehingga siswa dapat meningkatkan keyakinan  dan keimanan terhadap Tuhan. serta menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan dan menjaganya dari kerusakan. Selain itu, pembelajaran biologi bertujuan untuk menjadikan warga negara yang menguasai sains dan teknologi  demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jika diurai lebih rinci, pembelajaran biologi bertujuan untuk:
a.   Meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan, kebanggaan nasional serta keimanan terhadap Tuhan.
b.   Memahami konsep-konsep biologi dan saling keterkaintannya dengan bidang yang lain.
c.   Mengembangkan daya penalaran untuk memecahkan permasalahan yang dialami sehari-hari dalam kehidupan.
d.   Menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia.
e.   Mengembangkan keterampilan proses untuk memperoleh konsep-konsep biologi kemudian menumbuhkan nilai dan sikap ilmiah.
f.    Memberikan bekal dan pengetahuan dasar untuk melanjutkan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (Nuryani Y. Rustaman, dkk., 2003: 61)
Setelah dipaparkan beberapa pengertian tentang belajar, maka pembelajaran dapat didefinisikan sebagai proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan tingkahlaku menuju ke arah yang lebih baik bagi peserta didik. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sistem penyampaian dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai, sehingga hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dapat tercapai. (Kunandar, 2007: 287)
Pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.   Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana tertentu.
b.   Interdependence atau saling tegantung, dalam arti unsur-unsur dalam sistem pembelajaran serasi dalam suatu keseluruhan.
c.   Tujuan, berarti sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. (Oemar Hamalik, 2008: 66)
Pelajar diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan ataupun ilmu yang diperoleh dalam praktik kehidupan sehari-hari. Sehingga pembiasaan atau praktik bisa dipandang sangat penting dalam rangka mensukseskan tujuan pendidikan biologi ataupun ilmu-ilmu yang lain.   Hal tersebutlah yang sangat ditekankan dalam pembelajaran biologi.
c.   Prestasi belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh setelah melalui proses belajar. (Mulyono Abdurrahman, 1999: 37) Dalam hal ini, belajar merupakan suatu proses. Hasil belajar dapat berupa keilmuan dan pengetahuan, konsep atau fakta kognitif, kepribadian, sikap, afektif, Kelakuan, keterampilan dan penampilan psikomotorik. (Sudirman AM, 2001: 28-29)
Hasil belajar bukan hanya berupa penguasaan pengetahuan. akan  tetapi kecakapan dan keterampilan lihat, menganalisis, memecahkan masalah, membuat rencana dan mengadakan pembagian kerja dilihat sangat penting. Dengan demikian, aktivitas dan produk yang dihasilkan dari kegiatan belajar ini mendapatkan penilaian. (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 179) Lebih lanjut lagi, setelah hasil belajar mendapatkan penilaian maka akan menimbulkan statu efek yang dinamai prestasi belajar. Penilaian yang dimaksud disini bukan hanya berwujud nilai ataupun angka-angka, melainkan lebih dari itu. Nilai adalah suatu respon dari sesuatu yang telah dilakukan.
Prestasi merupakan hasil dari usaha yang dilakukan sebelumnya atau dapat dikatakan sebagai hasil dari apa yang telah dilakukan atau dikerjakan. (Depdikbud, 1994: 700) Sedangkan belajar diartikan sebagai sesuatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. (Slameto, 1995: 2) Dalam hal ini prestasi belajar diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar dan diberi penilaian.
 Selanjutnya, prestasi belajar merupakan penguasaan atau keterampilan yang dikembangkan dari mata pelajaran, biasanya ditunjukan dengan nilai-nilai tes atau angka yang diberikan oleh pendidik. (Tulus Tu’lu, 2004: 75)
Tes merupakan salah satu wahana program penilaian pendidikan. Sebagai salah satu alat penilaian, tes biasanya didevinisikan sebagai kumpulan butir soal yang jawabannya dapat dinyatakan dengan benar atau salah. (Mudjijo, 1995: 1) Sedang penilaian atau tes tersebut berfungsi untuk melihat sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai peserta didik dalam suatu program pengajaran.
Jika dilihat dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tes dan non tes. Tes ini dapat diberikan secara tulisan, lisan, maupun tindakan. Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif  dan ada juga yang disajikan dalam bentuk essay atau uraian. Sedangkan yang termasuk non tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala, sosiometri, dan studi kasus. (Nana Sudjana, 2004: 5)
Prestasi belajar ini bisa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi atau tes yang dilakukan oleh pendidik terhadap tugas anak didik dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya. (Tulus Tu’lu, 2004: 75) Dengan demikian untuk menuju prestasi belajar, memerlukan hasil yang bias dibuktikan dengan serangkaian tes. Setelah dilakukan tes, maka diperolehlah nilai dan kemudian prestasi.
Hasil belajar yang dicapai peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya. Baik faktor yang berasal dari dalam diri (internal) maupun faktor dari luar diri (eksternal). Pengenalan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar penting artinya dalam mewujudkan kompetensi sesuai dengan yang diharapkan. Faktor-faktor tersebut meliputi:
1)   Faktor internal
a)   faktor jasmaniah (fisiologi, morfologi dan lain sebagainya)
b)   Faktor psikologis: intelegensi, perhatian, minat, kesiapan dan kematangan.
2)   Faktor eksternal
a)   faktor keluarga: cara orang tua mendidik, keadaan ekomoni keluarga, latar belakang kebudayaan, pengertian orang tua dan suasana rumah.
b)   Faktor sekolah, matode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, waktu sekolah, metode belajar dan lain sebagainya.
c)   Faktor masyarakat meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.(Slameto,1995: 54)
Hal serupa juga dipaparkan oleh Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan. Tetapi dalam buku itu ia menambah faktor yang mempengaruhi hasil belajar dengan satu item tambahan, yaitu faktor teknik belajar.
Teknik belajar merupakan cara yang digunakan pelajar untuk memahami atau mengambil ilmu dari apa yang ia pelajari saat itu. Ada beberapa teknik belajar yang dikemukakannya, antara lain:
1)   Teknik totalitas
Metode ini sering disebut dengan metode global. Pembahasan pelajaran dilakukan secara menyeluruh. Oleh karena itu, metode ini hanya baik digunakan untuk mempelajari bahan pelajaran yang tak begitu banyak dan panjang. Misalnya, menghafal devinisi, kata-kata yang sulit, dan sebagainya.
2)   Teknik bagian
Metode ini digunakan jika bahan pelajaran terlalu banyak dan panjang. Bahan pelajaran secara terpaksa dipotong-potong dan dipelajari secara bertahap, atau secara sepotong demi sepotong.
3)   Teknik gabungan
Metode ini merupakan kolaborasi antara metode global dan metode bagian. Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam metode ini adalah sebagai berikut:
a)   Mempelajari bahan pelajaran secara musyawarah.
b)   Membaginya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
c)   Mempelajari bagian demi bagian.
d)   Diahiri dengan mempelajari secara menyeluruh.
e)   Teknik berencana (sistematis).
Sebenarnya, seseorang yang belajar mengikuti rencana atau jadwal dengan tarjet-tarjet tertentu dapat dikatakan telah melakukan kegiatan belajar secara sistematis. Siapa yang dapat mencapai tarjet belajarnya dengan manajemen waktu dan pikiran yang tepat dan cepat, maka ia dikatakan telah berhasil dalam belajar. Belajar tidak boleh hanya berdasarkan hasrat kemauan dan keinginan saja, sebab dengan hal tersebut akan menyebabkan adanya penumpukan tugas yang akhirnya dapat memicu stres. Oleh karena itu, belajar yang efektif dan efisien adalah belajar yang teratur, yaitu dengan menggunakan metode belajar secara sistematis. (M. Ngalim Purwanto, 2000:115-120)
Sedangkan menurut Wasty Soemanto, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar digolongkan menjadi tiga, yaitu : (Wasty Soemanto, 1998: 113-121)
1).    Faktor-faktor stimulus belajar yaitu segala hal di luar individu yang merangsang individu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar.
Stimulus dalam hal ini mencakup :
a).        Panjangnya bahan pelajaran
Panjangnya bahan pelajaran berhubungan dengan jumlah bahan pelajaran. Semakin panjang bahan pelajaran, semakin panjang pula waktu yang diperlukan oleh individu untuk mempelajarinya. Sehingga memunculkan faktor kelelahan dan kejemuan dalam menghadapi atau mengerjakan bahan yang banyak pada diri siswa. Di samping itu juga menimbulkan “interferensi” yaitu gangguan kesan ingatan akibat terjadinya pertukaran reproduksi antara kesan lama dengan kesan baru sehingga terjadi kesalahan maksud yang tidak disadari.
b).        Kesulitan bahan pelajaran
Tingkat kesulitan bahan pelajaran mempengaruhi kecepatan siswa, demikian juga bahan yang sulit memerlukan aktivitas belajar yang intensif.
c). Berartinya bahan pelajaran
Bahan yang berarti adalah bahan yang dapat dikenali yang berarti memungkinkan individu untuk belajar.
d).        Berat ringannya tugas
Mengenai berat atau ringannya suatu tugas berhubungan dengan tingkat kemampuan individu, karena kapasitas intelektual serta pengalaman masing-masing siswa berbeda. Di samping itu, kematangan usia siswa menjadi indikator atas berat atau ringannya tugas.
e).        Suasana lingkungan eksternal
Suasana lingkungan eksternal seperti cuaca, waktu, kondisi kebersihan tempat dan sebagainya mempengaruhi sikap dan reaksi individu dalam aktivitas belajarnya, karena belajar adalah interaksi dengan lingkungannya.
2).    Faktor-faktor metode belajar meliputi hal-hal sebagai berikut :
a).        Kegiatan berlatih atau praktek
Berlatih sebaiknya diberikan secara terdistribusi karena dapat menjamin terpeliharanya stamina dan kegairahan belajar. Dan jangan diberikan secara maraton (non stop) karena dapat mengakibatkan kelelahan dan kebosanan.
b).        Overlearning dan drill
Overlearning berlaku bagi latihan ketrampilan motorik seperti bermain piano atau menjahit. Dan drill berlaku bagi kegiatan berlatih abstraksi seperti berhitung.
c). Resitasi selama belajar
Kombinasi kegiatan membaca dengan resitasi sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca dan juga kemampuan menghafal bahan pelajaran.
d).        Pengenalan tentang hasil-hasil belajar
Pengenalan terhadap hasil atau kemajuan belajar siswa adalah penting, karena dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai akan lebih berusaha meningkatkan hasil belajar selanjutnya.
e).        Belajar dengan keseluruhan dan dengan bagian-bagian
Belajar mulai dari keseluruhan ke bagian-bagian adalah lebih menguntungkan daripada belajar mulai dari bagian-bagian, karena dengan cara tersebut siswa dapat menemukan set yang tepat untuk belajar. Tetapi kelemahan metode keseluruhan adalah membutuhkan banyak waktu dan pemikiran sebelum belajar yang sesungguhnya berlangsung.
f). Penggunaan Modalitas Indra
Modalitas indra yang dipakai oleh masing-masing siswa dalam belajar tidaklah sama. Namun yang penting dalam belajar adalah mengfungsikan ketiga impresi yaitu oral, visual dan kinestetik dengan selaras.
g).        Penggunaan dalam belajar
Arah perhatian seseorang sangat penting bagi belajarnya. Dan belajar tanpa set adalah kurang efektif.
h).        Bimbingan dalam belajar
Bimbingan seharusnya diberikan kepada siswa dalam batas-batas yang diperlukan karena bimbingan yang terlalu banyak cenderung membuat siswa menjadi tergantung.
i). Kondisi-kondisi intensif
Intensif adalah obyek atau situasi eksternal yang dapat memenuhi motif individu. Intensif akan menentukan tingkat motivasi belajar siswa di masa-masa mendatang.
3).    Faktor-faktor individual yaitu menyangkut hal-hal sebagai berikut :
a).        Kematangan
Kematangan memberikan kondisi di mana fungsi-fungsi fisiologis termasuk sistem saraf dan fungsi otak menjadi berkembang. Dengan berkembangnya fungsi otak dan sistem syaraf akan menumbuhkan kapasitas mental siswa dan mempengaruhi hal belajar siswa.
b).        Faktor usia kronologis
Usia kronologis merupakan faktor penentu daripada tingkat kemampuan belajar siswa. Anak yang lebih tua adalah lebih kuat, lebih sabar, lebih sanggup melaksanakan tugas-tugas yang lebih berat, lebih mampu mengarahkan energi dan perhatiannya di dalam waktu yang lebih lama, lebih memiliki koordinasi gerak kebiasaan kerja dan ingatan yang lebih baik daripada anak yang lebih muda.
c). Faktror perbedaan jenis kelamin
Fakta menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara pria dan wanitia dalam hal intelegensi. Namun barangkali yang dapat membedakan antara pria dan wanita adalah dalam hal peranan dan perhatiannya terhadap suatu pekerjaan, dan ini merupakan akibat dari pengaruh kultural.
d). Pengalaman sebelumnya
Lingkungan banyak memberikan pengalaman kepada siswa. Dan pengalaman yang diperoleh siswa ikut membawa pengaruh terhadap belajarnya, terutama pada transfer belajar siswa.
e). Kapasitas mental
Dalam tahap perkembangan tertentu, individu mempunyai kapasitas-kapasitas mental yang berkembang akibat fungsi fisiologis pada sistem saraf dan jaringan otak.
f). Kondisi kesehatan jasmani
Belajar membutuhkan kondisi bahan yang sehat karena badan yang sakit atau kelelahan akan berakibat pada belajar yang tidak efektif.
g).        Kondisi kesehatan rohani
Gangguan serta cacat mental seperti sedih, frustasi atau putus asa dan sebagainya pada diri siswa akan mengganggu belajarnya.
h).        Motivasi
Motivasi akan menggerakkan siswa pada tindakan dan mencapai tujuan belajar yang paling dirasa berguna bagi kehidupan.
Untuk mendapatkan prestasi belajar yang memuaskan, sebaiknya diperhatikan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:
1)   Belajar akan berhasil jika disertai dengan kemauan dan tujuan tertentu.
2)   Belajar akan lebih berhasil jika disertai dengan berbuat, latihan dan ulangan.
3)   Belajar akan lebih berhasil jika memberikan hasil yang menyenangkan.
4)   Belajar akan lebih berhasil jika tujuan belajar berhubungan dengan aktifitas belajar atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya.
5)   Belajar akan lebih berhasil jika bahan yang sedang dipelajari dipahami bukan sekedar menghafal kata.
6)   Hasil belajar dibuktikan dengan adanya perubahan pada si pelajar.
7)   Ulangan dan  latihan diperlukan, tetapi harus didahului oleh pemahaman.
Selain memperhatikan prinsip-prinsip di atas, kita jugas harus melihat pendapat Bobbi dePorter yang mengutip pendapat Dr. Vernon A. Magnesen, bahwa orang belajar 10 % dari apa yang dibaca, 20 % dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50 % dari apa yang dilihat dan didengar 70 % dari apa yang dikatakan, 90 % dari apa yang dikatakan dan dilakaukan. (Bobbi dePorter, 2000: 57) Ia juga melanjutkan bahwa keberhasilan belajar ditentukan dengan suasana menyenangkan dan menggembirakan. Semakin suasana mendukung untuk dilakukan suatu pembelajaran, tentu saja hasil belajar yang dicapai akan semakin maksimal. Suasana disini menyangkut suasana eksternal maupun internal individu.
2.   Keterkaitan Kegiatan Ekstrakulikuler dan Prestasi Belajar di Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan, yang menampung peserta didik dan dibina agar mereka memiliki kemampuan, kecerdasan dan keterampilan. Dalam proses pendidikan diperlukan pembinaan secara berkoordinasi dan terarah. Dengan Demikian siswa diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang maksimal sehingga tercapainya tujuan pendidikan.
Kegiatan ekstrakurikuler atau pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan bakat dan minat peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Banyak siswa yang kurang mengetahui bakat dan minat yang ada pada dirinya sehingga siswa juga kurang maksimal dalam pemilihan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Dalam hal ini konselor mempunyai peran yang sangat penting yaitu dalam pelaksanaan layanan penempatan dan penyaluran yang memungkinkan siswa memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan kemampuan, bakat, minat dan ciri-ciri pribadinya, selain kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung peningkatan hasil belajar siswa, kebiasaan belajar juga memiliki hubungan yang erat dalam hal peningkatan hasil belajar siswa. Dengan demikian untuk memperoleh hasil belajar yang baik maka diperlukan pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar yang baik pula.
Sesungguhnya, kegiatan ekstrakulikuler dan intrakulikuler merupakan kegiatan utama sebuah institusi sekolah. Anak-anak berlatih menari di ruang yang telah disediakan. Anak-anak mempersiapkan lomba di sekolah. Anak-anak berlatih English Conversation di laboratorium bahasa sekolah. Bahkan anak-anak sehabis olahraga pergi ke kantin sekolah untuk mengurangi rasa lapar dan haus. Semua kegiatan itu dilakukan di semolah. Semua itu pula adalah kegiatan ekstra dan intrakulikuler. Keduanya adalah kegiatan yang saling mendukung dan mempengaruhi. (Drs. Suparlan, M. Ed, 2008: 164)
Dalam pembinaan siswa di sekolah, banyak wadah atau program yang dijalankan demi menunjang proses pendidikan yang kemudian atas prakarsa sendiri dapat meningkatkan kemampuan, keterampilan ke arah pengetahuan yang lebih maju.
Salah satu wadah pembinaan siswa di sekolah adalah kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam program ekstrakurikuler didasari atas tujuan dari pada kurikulum sekolah. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam siswa dapat mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya.
Kegiatan-kegiatan siswa di sekolah khususnya kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang terkoordinasi terarah dan terpadu dengan kegiatan lain di sekolah, guna menunjang pencapaian tujuan kurikulum.
Yang dimaksud dengan kegiatan terkoordinasi di sini adalah kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan program yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaannya kegiatan ekstrakurikuler dibimbing oleh guru, sehingga waktu pelaksanaan berjalan dengan baik.
Dengan Demikian, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ikut andil dalam menciptakan tingkat kecerdasan yang tinggi. Kegiatan ini bukan termasuk materi pelajaran yang terpisah dari materi pelajaran lainnya, bahwa dapat dilaksanakan di sela-sela penyampaian materi pelajaran, mengingat kegiatan tersebut merupakan Bagian penting dari kurikulum sekolah. (Amal A.A,  2005: 378)
Kegiatan ini menjadi salah satu unsure penting dalam membangun kepribadian murid. Seperti yang tersebut dalam tujuan pelaksanaan ekstrakurikuler di sekolah menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (1987), bahwa kegiatan ekstrakurikuler harus meningkatkan kemampuan siswa beraspek kognitif, afektif dan psikomotor. Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif. Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan pelajaran lainnya. (B. Suryobroto,  1997: 272)
Dari tujuan ekstrakurikuler di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrakurikuler erat hubungannya dengan prestasi belajar siswa. Melalui kegiatan ekstrakurikuler siswa dapat bertambah wawasan mengenai mata pelajaran yang erat kaitannya dengan pelajaran di ruang kelas. Melalui kegiatan ekstrakurikuler juga siswa dapat menyalurkan bakat, minat dan potensi yang dimiliki.
Hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti pelajaran ekstrakurikuler dan berdampak pada hasil belajar di ruang kelas yaitu pada mata pelajaran tertentu yang ada hubungannya dengan ekstrakurikuler yaitu mendapat nilai baik pada pelajaran tersebut. Biasanya siswa yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler akan terampil dalam berorganisasi, mengelola, memecahkan masalah sesuai karakteristik ekstrakulikuler yang diikuti.
3.   Organisasi Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah
Palang Merah Remaja (PMR) dibentuk oleh Palang Merah Indonesia (PMI) di Jakarta pada tanggal 1 Maret 1950 yang dipimpin oleh Nn. Siti Dasimah, kemudian tokoh lainnya adalah Nn. Paramita Abdurachman. Palang Merah Remaja (PMR) dahulu bernama Palang Merah Pemuda (PMP). Saat itu 15 cabang PMI yang memiliki Palang Merah Pemuda (PMP) membawahi 2047 orang anggota. Hal ini adalah perwujudan dari keputusan Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Berikut adalah dasar hukum yang menjamin keberlangsungan Palang Merah Remaja (PMR) dalam institusi pendidikan:
a. Perjanjian kerjasama antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Palang Merah Indonesia Nomor 0118/U/1995; Nomor 0090.Kep/pp/V/95, tanggal 24 Mei 1995, tentang pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan di kalangan siswa, warga belajar dan mahasiswa.
b. Keputusan bersama antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Palang Merah Indonesia No. D119/U/1996; Nomor 0320A.KEP/PP/V/96 tanggal 7 Mei 1996 tentang pembentukan Tim Pembinaan Pengembangan Kepalangmerahan di kalangan siswa, warga belajar dan mahasiswa.
c.  Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 0461/U/1984 tanggal 18 Oktober 1984, tentang pembinaan kesiswaan.
d. Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Nomor: 226/C/Kep/0/1992, tanggal 27 Juni 1992, tentang pedoman pembinaan kesiswaan.
e. Surat edaran Jenderal Pendidikan Nomor: 1.1-052.1974, tanggal 20 Juni 1974, tentang pembentukan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah.
Tercantum dalam Bab IV pasal 6 perjanjian kerjasama Depdikbud RI-PMI disebutkan bahwa, kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah secara fungsional merupakan bagian dari kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah di bawah pembinaan seksi kesegaran jasmani dan daya kreasi.
Dengan kata lain, bahwa Palang Merah Remaja (PMR) merupakan kegiatan ekstrakurikuler sekolah dan masih merupakan bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Berarti, Palang Merah Remaja (PMR) berada di bawah naungan dua lembaga, yaitu sekolah dan Palang Merah Indonesia (PMI).
Berturut-turut susunan pengurus Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah adalah sebagai berikut:
a. Pembina Palang Merah Remaja (PMR) adalah kepala sekolah yang mengatur tugas pembina teknis dan pelatih Palang Merah Remaja (PMR) yang ada di sekolah tersebut.
b. Pembina teknis Palang Merah Remaja (PMR) adalah guru atau pelaksana tugas admnistrasi di sekolah tersebut yang sehari-hari membantu kepala sekolah melaksanakan tugas pembinaan Palang Merah Remaja (PMR).
c.  Pengurus Palang Merah Remaja (PMR) terdiri dari siswa / siswi yang telah menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan setelah mengikuti pendidikan dasar Palang Merah Remaja (PMR).
d. Kemudian pengurus harian Palang Merah Remaja (PMR) terdiri dari: seorang ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, unit bakti masyarakat, unit kesehatan, unit persahabatan, unit umum.
Tidak semua orang dapat disebut sebagai pengurus ataupun anggota Palang Merah Remaja (PMR), sebab dalam Palang Merah Remaja (PMR) mensyaratkan adanya kemauan dan kemampuan untuk menolong sesama umat manusia yang memerlukan bantuannya atas dasar rasa kemanusiaan yang luhur dan disertai dengan fisik dan mental yang kuat. Selain itu harus mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) berupa pendidikan dan latihan kepalangmerahan. Oleh karena itu dalam penerimaan anggota Palang Merah Remaja (PMR) terdapat beberapa syarat,  yaitu:
f.   Warga negara Republik Indonesia
g. Berusia antara 7 sampai dengan 21 tahun / belum menikah.
h.   Dapat membaca dan menulis
i.     Atas dasar kemauan sendiri atau tanpa paksaan dari pihak manapun
j.    Mendapat persetujuan dari orang tua atau wali
k.   Sebelum menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) penuh, bersedia melaksanakan tugas kepalangmerahan selaku anggota Palang Merah Remaja (PMR) secara sukarela.
l.     Permintaan menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) disampaikan secara kolektif kepada pengurus cabang Palang Merah Indonesia (PMI) setempat melalui pembina Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah masing-masing bagi yang bersekolah. Bagi yang tidak bersekolah langsung menghubungi cabang / kepala markas Palang Merah Indonesia (PMI) cabang di masing-masing tempat tinggalnya. (Palang Merah Indonesia, Materi Pendidikan Palang Merah Remaja, 1991: 62)
Persyaratan-persyaratan tersebut diadakan karena Palang Merah Remaja (PMR) mempunyai tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan untuk mendukung terlaksananya tugas dan kewajiban yang nantinya akan dibebankan kepada anggota Palang Merah Remaja (PMR). Dari itu, tiap anggota Palang Merah Remaja (PMR) memerlukan pendidikan sesuai dengan tingkatannya.
Palang Merah Remaja (PMR) diperbantukan dalam tugas-tugas kepalangmerahan seperti membantu memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan, membantu korban bencana, dan lain sebagainya. Namun tugas dan kewajiban utama atau tiga pedoman kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) yang biasa disebut Tri Bakti Palang Merah Remaja (PMR) adalah sebagai berikut:
a. Berbakti kepada masyarakat.
b. Mempertinggi mutu keterampilan dan memelihara kebersihan dan kesehatan.
c.  Mempererat persahabatan nasional dan internasional. (Palang Merah Indonesia, tt: 62)
B.  HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis merupakan jawaban sementara atas permasalahan yang diteliti, jawaban ini dapat benar atau salah tergantung pembuktian di lapangan. Sebagaimana diungkapkan oleh Sutrisno Hadi, “Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar, mungkin salah atau palsu, dan akan diterima jika faktor-faktor membenarkannya. (Sutrisno Hadi, 2000: 63)
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengajukan hipotesi sebagai berikut:
Ada perbedaan yang signifikan pada prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dengan siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siswa kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara tahun pelajaran 2010/2011.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif yang bersifat Ex-Post Facto. Ex-Post Facto digunakan karena penelitian ini mencoba mengungkap dampak dari suatu perlakuan yang tidak didahului dengan pengontrolan maupun manipulasi ubahan yang mengganggu kemurnian hubungan komparatif dari objek yang diteliti.
B.  Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 1 Mei sampai 18 Mei 2011 di Madrasah Aliyah Walisongo Pecangaan Jepara. Adapun objek penelitian adalah kelas XI IPA.
C.  Populasi dan Sampel Penelitian
1.   Populasi
Populasi yaitu keseluruhan (benda, alat-alat, pelajaran, kurikulum) yang dapat dijadikan sumber data. Senada dengan devinisi tersebut, Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau totalitas dari semua objek atau semua individu yang mempunyai karakteristik tertentu. (Suharsimi Arikunto, 2002: 96)
Dengan demikian, yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA baik yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) maupun yang tidak menjadi Anggota PMR di MA Walisongo Pecangaan Jepara Tahun Pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 29 siswa yang terkumpul dalam satu kelas.
Adapun siswa yang tercatat menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) adalah 14 siswa. Sedangkan yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja adalah 15 siswa.
2.   Sampel
  Sampel, adalah penarikan sebagian dari populasi untuk mewakili dari seluruh populasi. (Winarno Surahman, 1990: 93)
Mengenai pengambilan sampel, maka peneliti berpedoman pada pendapat Suharsimi Arikunto yang mengatakan bahwa “Apabila subyeknya kurang dari 100 orang, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi sedangkan jika jumlahnya lebih dari 100 orang dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%. (Suharsimi Arikunto, 2002:120)
Jika ditilik lebih lanjut, penelitian ini bersifat ex-post facto, dalam populasi itu sebelumnya tidak dilakukan rekayasa atau perlakuan tertentu dari peneliti, melainkan sampel diambil dari objek yang mendapat perlakuan sama, dari segi kurikulum, jam pelajaran, guru mata pelajaran, dan yayasan yang sama.
Dalam penelitian ini, populasi terdiri dari 29 siswa. Terbagi menjadi 14 siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan 15 siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR). Karena objek penelitian kurang 100, maka siswa diambil semua sebagai objek penelitian, berarti ada 29 siswa.
Menurut Prof. DR. Sugiyono dalam bukunya yang berjudul Statistika untuk Penelitian, bila jumlah n1 tidak sama dengan n2 sedangkan varian dinyatakan homogen dapat digunakan rumus t-test dengan polled varians dan dengan besaran dk = n1+ n2 – 2.
Sedang untuk n1 tidak sama dengan n2 sementara variannya tidak homogen, dapat digunakan t-test dengan rumus separated varians. Untuk harga t sebagai pengganti harga t tabel dihitung dari selisih harga tabel dengan dk = n1 – 1 dan dk = n2 – 1, dibagi dua dan kemudian ditambah dengana harga t yang terkecil.
D.  Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah obyek penelitian atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Edisi  Revisi III,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hal. 91[1] Dalam penelitian ini peneliti menggunakan satu variabel yaitu prestasi belajar pada siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) sebagai variabel (X1) dan prestasi belajar pada siswa yang tidak menjadi Anggota Palang Merah Remaja (PMR) sebagai variabel (X2).
E.   Tehnik Pengumpulan Data Penelitian
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi, peneliti menggunakan beberapa metode yang diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :
1.   Data Kepustakaan
Data kepustakaan digunakan untuk memperoleh informasi dalam rangka  menyusun teori yang ada kaitannya dengan judul penelitian ini.
2.    Data Lapangan
Data lapangan diperoleh dari hasil atau penelitian lapangan, dalam hal ini peneliti menggunakan metode sebagai berikut :
a.   Metode Observasi
Metode observasi, adalah suatu cara pengumpulan data yang diperoleh  dari pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. (S. Margono, 1997: 118) Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan umum MA Walisongo Pecangaan Jepara seperti kondisi fisik bangunan, keadaan sosial dan lainnya yang dianggap perlu.
b.   Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah sekumpulan data yang berupa tulisan dokumen, sertifikasi, buku, majalah, peraturan-peraturan, struktur organisasi, jumlah guru, jumlah siswa, kurikulum dan sebagainya. (Suharsimi Arikunto, 1999: 143) Metode ini digunakan untuk mendapatkan data dokumentasi dan dokumen-dokumen yang ada seperti, struktur organisasi, keadaan siswa, keadaan kepegawaian, letak geografis serta keadaan sarana dan prasarana.
Selain itu, peneliti menggunakan dokumentasi berupa nilai raport biologi semester gasal untuk mendapatkan data nilai yang selanjutnya dapat diolah dan diketahui prestasi belajar siswa yang diperbandingkan, sehingga peneliti tidak perlu melakukan tes untuk mendapatkan nilai yang akan di olah. Hal tersebut didukung pula bahwa penelitian ini bersifat ex-post facto.
F.   Teknik Analisis data Penelitian
Metode Analisis Data Penelitian
1.   Pengolahan Data
Setelah semua dapat terkumpul dengan lengkap, selanjutnya mengolah  data tersebut melalui tahapan sebagai berikut :
a.   Koding
Yaitu usaha untuk mengklasifikasikan dengan tanda atau kode tertentu.
b.   Tabulating
Yaitu proses penyusunan data ke dalam bentuk tabel.
c.   Editing
   Yaitu mengolah data dengan meneliti kembali catatan para pencari data untuk mengetahui apakah catatan itu cukup baik dan dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.
d.   Analisa Data
Dalam menganalisa data yang telah terkumpul dari penelitian yang bersifat kuantitatif, maka peneliti menggunakan analisis data statistik. (S. Margono, 1997: 191-192)
Analisis tersebut peneliti menggunakan rumus statistik yaitu t test “Pooled Varians” dengan sampel kecil menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1)    Analisis Pendahuluan
                      Dalam analisis ini peneliti memasukkan data yang terkumpul dalam tabel distribusi untuk memudahkan perhitungan dan mempermudah keterbatasan yang ada dalam langkah pengolahan data selanjutnya.
a)   Menentukan Kualifikasi dan interval nilai
 dimana R = NT –NR dan K = 1+3.3 log N
P = Panjang Interval Kelas       NT = Nilai Tertinggi
R = Rentang Nilai                    NR = Nilai Terendah
K = Banyaknya Kelas               N =Jumlah Responden
b)   Menentukan tabel frekuensi
c)   Mencari nilai rata-rata dari variabel X1 dan X2
Mean variabel X1 dengan rumus :
Mean variabel X2 dengan rumus:
d)   Mencari varian sampel X1 dan X2
Varians sampel X1
varians sampel X2
2)   Analisis Uji Hipotesis
Analisis ini digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis yang peneliti ajukan. Dalam analisis ini peneliti mengadakan perhitungan lebih lanjut mengenai tabel distribusi frekuensi yang ada dalam statistik yaitu t test “Pooled Varians“. Atau “Separated varians.“
Rumus statistik t test “ Pooled Varians “ yang digunakan adalah : Sugiyono, Stastiktika Untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2007), hlm. 138[2]
Keterangan :
T               : hasil akhir dari perhitungan rumus diatas
 dan        : nilai rata-rata hitung data kelompok 1 dan 2 
S12 dan S22   : varians sampel data kelompok 1 dan 2
n1 dan n2      : banyaknya data kelompok 1 dan 2
Dalam menentukan data yang dihasilkan homogen atau tidak, maka digunakan cara Varians Terbesar dibagi Varians Terkecil.
Dengan hipotesis:
Ho : µ1 = µ2
Ha : µ1 ≠ µ2
Atau dapat ditulis:
Ho : Tidak ada perbedaan antara motivasi belajar biologi siswa yang bertempat tinggal di pondok pesantren dengan siswa yang bertempat tinggal di rumah.
Ha : Ada Perbedaan antara prestasi belajar siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR).
3)   Analisis Lanjut
                      Analisis ini merupakan pengolahan lebih lanjut dari hasil analisis uji hipotesis. Dalam analisis ini peneliti membuat interpretasi dari rumus di atas dengan t tabel  t 5% atau 1 %.
Dengan Interpretasi sebagai berikut :
a.   Jika harga t test dari perhitungan lebih besar atau sama dengan t tabel maka hipotesis nilai ditolak, berarti ada perbedaan mean yang signifikan antara kedua variabel.
b.   Jika harga t test dari perhitungan lebih kecil dari t tabel maka hipotesis nilai diterima, berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua variabel.
Atau dengan kata lain, kriteria pengujian adalah Ho diterima, jika thitung < ttabel. jika thitung > ttabel maka Ha diterima.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Deskripsi Hasil Penelitian
  1. Analisis Pendahuluan
Untuk memperoleh data tentang prestasi belajar biologi siswa kelas XI IPA di MA Walisongo Pecangaan Jepara yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan yang tidak, data yang peneliti ambil adalah nilai raport siswa. Berikut adalah data siswa kelas XI IPA yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan yang tidak dengan nilai raportnya.
Tabel 4.1
Data Nilai Raport Siswa Kelas XI IPA
No
Nama Siswa
Nilai Rapor
1
A
75
2
B
79
3
C
73
4
D
73
5
E
71
6
F
72
7
G
72
8
H
74
9
I
72
10
J
75
11
K
71
12
L
75
13
M
73
14
N
72
15
O
72
16
P
75
17
Q
73
18
R
75
19
S
78
20
T
75
21
U
71
22
V
66
23
W
75
24
X
75
25
Y
72
26
Z
71
27
Aa
76
28
Bb
76
29
Cc
72

Sedang untuk mengetahui lebih jelas mengenai hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada deskripsi sebagai berikut:
a.   Deskripsi data tentang prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR)
Untuk menentukan nilai kualitatif prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR), yang dalam hal ini disimbolkan dengan X1 adalah dengan menjumlahkan nilai  raport siswa sesuai dengan urutan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2
Nilai Raport Variabel X1
No
Nama Responden
Nilai Rapor
1
A
75
2
B
79
3
C
73
4
D
73
5
E
71
6
F
72
7
G
72
8
H
74
9
I
72
10
J
75
11
K
71
12
L
75
13
M
73
14
N
72
Jumlah
1027

Berdasarkan tabel di atas, kemudian diadakan analisis sebagai berikut:
1)   Mencari Interval Nilai
Untuk mencari interval nilai dan menentukan klasifikasi serta interval di gunakan rumus sebagai berikut:
 dimana R = NT – NR dan K = 1+3,3 log N
P = Panjang Interval Kelas           NT = Nilai Tertinggi
R = Rentang Nilai                        NR = Nilai Terendah
K = Banyaknya Kelas                  N    = Jumlah Responden
Maka:
R = NT – NR
    =  79 – 71
    = 8
K = 1+3,3 log N
    = 1+3,3 log 14
    = 1+ 3,782
    = 4,782 dibulatkan menjadi 5

     
 =  1,666  dibulatkan menjadi 2
2)   Mencari Rata-Rata Prestasi belajar biologi Siswa yang Menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR)
Untuk mencari rata-rata prestasi belajar, digunakan perhitungan dengan tabel sebagai berikut:
Tabel 4.3
Deskripsi Frekuensi Variabel X1
Interval
f
X
fX
Mean
79 – 80
1
79,5
79,5
         = 73,5
77 – 78
-
77,5
-
75 – 76
3
75,5
226,5
73 – 74
4
73,5
294
71 – 72
6
71,5
429
Jumlah
14

1029

3)   Kualitas Variabel Prestasi belajar biologi Siswa yang Menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR)
Setelah diketahui nilai rata-rata prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR), maka kemudian hasil tersebut dicocokan pada Tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4
Kualitas Variabel X1
No
Interval
Keterangan
1
79 – 80
Istimewa
2
77 – 78
Baik
3
75 – 76
Cukup
4
73 – 74
Kurang
5
71 – 72
Buruk

Melihat dari tabel kualitas variabel diatas, menunjukkan bahwa prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dalam kategori ”kurang” terlihat dari rata-rata prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) adalah 73,5. Sesuai dengan tabel 4.3, nilai tersebut berada dalam interval 70 – 74.
b.   Deskripsi data tentang prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Ramaja (PMR)
Seperti diatas, untuk menentukan nilai kualitatif prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang dalam hal ini disimbolkan dengan X2 adalah dengan menjumlahkan nilai  raport siswa sesuai dengan urutan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.5
Data nilai raport siswa kelas XI IPA
yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR)
No
Siswa
Nilai Rapor
1
A
72
2
B
75
3
C
73
4
D
75
5
E
78
6
F
75
7
G
71
8
H
66
9
I
75
10
J
75
11
K
72
12
L
71
13
M
76
14
N
76
15
O
72
Jumlah
1102

Berdasarkan tabel di atas, kemudian diadakan analisis sebagai berikut:
1)   Mencari Interval Nilai
Untuk mencari interval nilai dan menentukan klasifikasi serta interval di gunakan rumus sebagai berikut:
 dimana R = NT – NR dan K = 1+3,3 log N
P = Panjang Interval Kelas           NT = Nilai Tertinggi
R = Rentang Nilai                        NR = Nilai Terendah
K = Banyaknya Kelas                  N    = Jumlah Responden
Maka:
R = NT – NR
    =  78 – 66
    = 12
K = 1+3,3 log N
    = 1+3,3 log 15
    = 1+3,881
    = 4,881 dibulatkan menjadi 5
    =  2,4 dibulatkann menjadi 3
2)   Mencari Rata-Rata Prestasi belajar biologi Siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR)
Untuk mencari rata-rata prestasi belajar, digunakan perhitungan dengan tabel sebagai berikut:
Tabel 4.6
Deskripsi Frekuensi Variabel X2
Interval
F
X
fX
Mean
78 – 80
1
79
79
         = 74
75 – 77
7
76
532
72 – 74
4
73
292
69 – 71
2
70
140
66 – 68
1
67
67
Jumlah
15

1110

3)   Kualitas Variabel Prestasi belajar biologi Siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR)
Setelah diketahui nilai rata-rat prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR), maka kemudian hasil tersebut dicocokan pada Tabel 4.7 berikut.
Tabel 4.7
Kualitas Variabel X2
No
Interval
Keterangan
1
78 – 80
Istimewa
2
75 – 77
Baik
3
72 – 74
Cukup
4
69 – 71
Kurang
5
66 – 68
Buruk

Melihat dari tabel kualitas variabel diatas, menunjukkan bahwa prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dalam kategori ”cukup” terlihat dari rata-rat prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi aggota Palang Merah Remaja (PMR) adalah 74 apabila disesuaikan dengan tabel 4.6, nilai tersebut berada dalam interval 72 – 74.
  1. Analisis Uji Hipotesis
Untuk membuktikan ada tidaknya perbedaan serta diterima tidaknya hipotesa yang diajukan, maka dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus :
                                   Keterangan :
t                                           : hasil akhir dari perhitungan rumus diatas
 dan : nilai rata-rata hitung data kelompok 1 dan 2 
S12 dan S22  : varians sampel data kelompok 1 dan 2
n1 dan n2    : banyaknya data kelompok 1 dan 2
 Dalam menganalisis data ini, digunakan langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Mencari Mean Variabel X1
b.   Mencari Mean Variabel X2
c.   Mencari Varians Sampel X1
d.   Mencari Varians Sampel X2
e.   Mencari t
Adapun langkah-langkah pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
a.   Mencari Mean Variabel X1
Untuk mendapatkan nilai rata-rata (mean) dari variabel X1, maka digunakan rumus :
Keterangan:
Me        : rata-rata
X               : nilai variabel
n          : jumlah individu
hasilnya adalah:
       = 1027
 14
       = 73,357
Jadi, mean dari variabel X1 adalah 73,357
b.   Mencari Mean Variabel X2
Untuk mendapatkan nilai rata-rata (mean) dari variabel X2 maka digunakan rumus :
Keterangan:
Me        : rata-rata
X               : nilai variabel
n          : jumlah individu
hasilnya adalah:
       = 1102
 15
       = 73,466
Jadi, mean dari variabel X2 adalah 73,466
c.   Mencari Varians Sampel X1
Tabel 4.8
Varians Sampel X1
No. Resp.
 
1
75
73,357
1,643
2.699449
2
79
73,357
5,643
31.84345
3
73
73,357
0,643
0.127449
4
73
73,357
0,643
0.127449
5
71
73,357
-2,357
5.555449
6
72
73,357
-1.357
1.841449
7
72
73,357
-1.357
1.841449
8
74
73,357
0.643
0.413449
9
72
73,357
-1.357
1.841449
10
75
73,357
1.643
2.699449
11
71
73,357
-2.357
5.555449
12
75
73,357
1.643
2.699449
13
73
73,357
-0.357
0.127449
14
72
73,357
-1.357
1.841449
Jumlah



59.21429

= 4.554945
Jadi, varians sampel X1 adalah 4.554945
d.   Mencari Varians Sampel X2
Tabel 4.9
Varians Sampel X2
No. Resp.
 
1
72
73,466
-1.466
2.149156
2
75
73,466
1.534
2.353156
3
73
73,466
-0.466
0.217156
4
75
73,466
1.534
2.353156
5
78
73,466
4.534
20.55716
6
75
73,466
1.534
2.353156
7
71
73,466
-2.466
6.081156
8
66
73,466
-7.466
55.74116
9
75
73,466
1.534
2.353156
10
75
73,466
1.534
2.353156
11
72
73,466
-1.466
2.149156
12
71
73,466
-2.466
6.081156
13
76
73,466
2.534
6.421156
14
76
73,466
2.534
6.421156
15
72
73,466
-1.466
2.149156
Jumlah



119.7333

                  = 8.552381
Jadi, varians sampel X2 adalah 8.552381
Sebelum masuk pada rumus t-test yang akan digunakan, maka perlu diuji dulu varians kedua sampel homogen atau tidak. Pengujian homogenitas varians digunakan uji F dengan rumus sebagai berikut:
    = 1.877603
Harga F hitung tersebut perlu dibandingkan dengan F tabel, dengan dk pembilang = 15-1 dan dk penyebut = 14-1.
Berdasarkan dk pembilang = 14 dan dk penyebut = 13, dengan taraf kesalahan ditetapkan = 5%, maka harga F tabel = 2,55.
Dalam hal ini berlaku ketentuan, bila harga F hitung lebih kecil atau sama dengan F tabel (Fh ≤ Ft), maka H0 diterima dan Ha ditolak. H0 diterima berarti varians homogen, dan kalau Ha yang diterima, maka varians tidak homogen.
Hasil dari perhitungan ini di dapat bahwa Fh lebih kecil dari Ft, maka itu menunjukan bahwa varians homogen.
e.   Mencari t

 -0,1126225

  1. Analisis Lanjut
Setelah harga t diketahui, kemudian akan diinterpretasikan dengan identifikasi bahwa apabila nilai t yang diperoleh dari hasil observasi sama atau lebih besar dari t dalam tabel, baik pada taraf signifikansi 5% atau 1%, maka hasil penelitian ini menunjukkan signifikan, tetapi apabila nilai t yang diperoleh dari hasil observasi ternyata lebih kecil dari nilai t dalam tabel, maka hasil penelitian non signifikan yaitu tidak terdapat perbedaan.
Untuk mengetahui nilai t dalam tabel sebagai pedoman dasar pembuktian signifikan terlebih dahulu dicari derajat kebebasan (degree of fredom) atau dk nya dengan rumus sebagai berikut :
dk = n1 + n2 – 2
Dari rumus diatas, maka peneliti memilih salah satu yaitu dk = n1 + n2 – 2
sehingga dk = n1 + n2 – 2
  = 14 + 15  – 2
  = 27
Jadi dk nya dapat diketahui sebesar 27 kemudian dijadikan sebagai dasar pembuktian signifikansi. Sedangkan tabel nilai t yang dijadikan dasar adalah sebagai berikut :

Tabel 4.10

Nilai t Tabel

d. k
Harga t pada Taraf Signifikansi
5 %
1 %
26
1,706
2,479
27
1,703
2,473
28
1,701
2,467

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dk sebesar 27 diperoleh t tabel sebagai berikut :
-          Pada taraf signifikansi 5% = 1,701
-          Pada taraf signifikansi 1% = 2,473
Karena t yang diperoleh dalam perhitungan (yaitu t = -0,1126225) adalah lebih kecil dari pada t tabel (baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1%) maka hipotesa nihil diterima. Berarti antara variabel X1 dan variabel X2 tidak terdapat perbedaan atau kesenjangan yang signifikan.
B.  Pembahasan Hasil Penelitian
Dari hasil perhitungan nilai variabel X1 diketahui nilai rata-rata 73,357. Hal ini berarti bahwa prestasi belajar biologi siswa yang menjadi aggota Palang Merah Remaja (PMR)  dalam kategori cukup, yaitu pada interval nilai 75-76. Sedangkan nilai variabel X2 diketahui dengan rata-rata 73,466, yang berarti bahwa prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dalam kategori kurang, yaitu pada interval nilai 72-74.
Dengan demikian meskipun terdapat perbedaan antara mean prestasi belajar biologi siswa yang menjadi aggota Palang Merah Remaja (PMR) dengan mean prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siawa kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara, namun perbedaan itu bukanlah perbedaan atau kesenjangan yang signifikan setelah diinterpretasikan dengan taraf signifikan 5% maupun 1%. Dimana didapat hasil thitung lebih kecil daripada ttabel, yang berarti H0 diterima sedangkan Ha ditolak.
Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar biologi antara siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siswa MA Walisongo Pecangaan Jepara tahun ajaran 2010/2011 tidak terdapat perbedaan atau kesenjangan yang signifikan (berarti).
Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa prestasi belajar biologi siswa tidak hanya dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya alokasi waktu belajar dan kesibukan siswa untuk melakukan kegiatan diluar belajar materi biologi. Melainkan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor tersebut berasal dari dalam diri siswa itu sendiri (faktor internal) ataupun berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal).
Faktor internal seperti, kesehatan fisik ataupun mental siswa, kecerdasan, perhatian, minat, kesiapan serta kematangan siswa. Adapun faktor dari luar diri siswa juga sangat berpengaruh besar atas prestasi siswa. Prestasi belajar siswa tidak akan membaik jika tidak didukung oleh keterpaduan dari masing-masing faktor internal dan eksternal siswa.
Selain faktor internal, terdapat faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal). Faktor eksternal itu misalnya, faktor kondisi keluarga, faktor kondisi sekolah, faktor lingkungan masyarakat dan lain sebagainya. Tidak adanya saling mendukung antar faktor internal dann eksternal siswa, maka prestasi belajar tidak akan bisa maksimal. (Slameto, 1995: 54)
Tidak semua materi yang diajarkan dalam Palang Merah Remaja (PMR) sesuai dengan materi pelajaran biologi yang diajarkan dikelas. Karena dalam kurikulum Palang Merah Remaja (PMR) terdapat materi-materi kepemimpinan, kedisiplinan dan lain sebagainya disamping materi yang benar-benar berkesesuaian. Misalnya, materi Pertolongan Pertama, Materi Kesehatan Reproduksi Remaja, Materi Ilmu Fa’al dasar dan lain sebagainya. Karena heterogenitas fokus materi Palang Merah Remaja (PMR) tersebut, maka kecerdasan siswa dalam mengatur waktu dan mensikapi suatu hal sangat berpengaruh.
C.  Keterbatasan Penelitian
Hasil apapun telah dilakukan secara optimal oleh peneliti, namun peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini pasti terjadi banyak kendala dan hambatan. Hal tersebut bukan karena faktor kesengajaan, melainkan terjadi karena adanya keterbatasan dalam melakukan penelitian. Adapun keterbatasan yang dialami peneliti dalam penelitian ini adalah pengukuran penelitian yang hanya pada prestasi belajar biologi dan populasi yang diteliti hanya satu kelas saja.
Selain itu, tempat penelitian hanya terbatas di MA Walisongo Pecangaan Jepara, sehingga apabila dilakukan di sekolah lain, hasil penelitian ini dimungkinkan berbeda.

BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan setelah diadakan pembahasan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.   Prestasi belajar biologi siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siswa kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara tahun ajaran 2010/2011 mempunyai nilai rata-rata 73,5. yang berada dalam interval 70 – 74 dengan kategori kurang.
2.   Prestasi belajar biologi siswa yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siswa kelas XI IPA MA Walisongo Pecangaan Jepara tahun ajaran 2010/2011 adalah 74 nilai itu berada dalam interval 72 – 74 dengan  kategori cukup.
3.                    Berdasarkan pada analisis kuantitatif di atas menunjukkan bahwa Prestasi belajar biologi antara siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan yang tidak menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada siswa kelas XI IPA di MA Walisongo Pecangaan Jepara tidak terdapat perbedaan atau kesenjangan yang signifikan.
Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis statistik bahwa nilai t sebesar  -0,1126225 berada lebih kecil daripada nilai t yang ada dalam tabel baik pada taraf signifikansi 5% yaitu 1,703 dan pada taraf signifikansi 1% yaitu 2,473.
Jadi hipotesa alternatif (Ha) yang diajukan yaitu ada perbedaan adalah ditolak, dan hipotesa nihil (Ho) yang mengatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan adalah diterima.

B.  Saran-saran

Dengan merendahkan hati dan tetap menaruh rasa hormat kepada pihak manapun, peneliti akan mengajukan beberapa saran demi kemajuan mutu pendidikan dan sekaligus akan menjadi pelengkap skripsi yang peneliti buat.
Adapun saran-saran yang peneliti ajukan adalah sebagai berikut :
1. Saran bagi siswa :
Siswa hendaknya bisa aktif di kegiatan ekstrakulikuler yang diselenggarakan di sekolah. Karena dengan itu diharapkan siswa mampu memperkaya pengalaman.
Jika prestasi belajar siswa menurun, maka secepatnya harus melakukan introspeksi diri sehingga tidak terlalu cepat menyalahkan faktor-faktor lain di luar dirinya. Lebih banyak menurunnya prestasi belajar siswa disebabkan olah ketidak mampuan siswa dalam mengatur waktu belajar dan kegiatan-kegiatan lain.
Siswa harus terus belajar dengan sungguh-sungguh dalam keadaan apapun, baik di rumah maupun sekolah.
2. Saran bagi Guru dan Pembina Palang Merah Remaja (PMR):
a.   Hendaknya guru atau pembimbing pada ekstrakulikuler Palang Merah Remaja (PMR), dapat mengintegrasikan materi pelajaran pada tiap materi Palang Merah Remaja (PMR).
b.   Baik guru mata pelajaran maupun Pembina Palang Merah Remaja (PMR), bisa lebih kreatif dalam menyampaikan materi.
3.  Saran bagi orang tua :
a.   Bagi orang tua, seharusnya dapat selalu memberikan dukungan pada siswa untuk melakukan kegiatan disekolah sesuai dengan hatinya.
b.   Hendaknya tidak menyalahkan keikutsertaan siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler jika terjadi kegagalana siswa dalam belajar. Karena kegagalan itu terjadi karena banyak sebab.

C.  Penutup

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, akhirnya terselesaikanlah skripsi ini. Selanjutnya sangat  diharapkan saran serta kritik yang membangun dari pembaca. Semoga dapat menjadi referensi untuk melakukan penelitian-penelitian yang selanjutnya dan bermanfaat bagi para pembaca. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman,  Mulyono, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1999.

AM, Sudirman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2001.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi 5, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Edisi  Revisi III,  Jakarta: Rineka Cipta, 1992.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1999.

Azis, Shaleh Abdul dan Abdul Azis Abdul Majid, At-Tarbiyah wa Turuqu Tadris, (Mesir: Darul Ma’arif), hlm. 169.

Azwar,  Syaifuddin, Metode Penelitian,  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jogjakarta: Arruzz, 2007.

Chaniago,  Mukhtar dan Tuti Tarwiyah Adi, Analisis SWOT Kebijakan Era Otonomi Daerah, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah serta Direktorat Pembinaan Kesiswaan, Petunjuk Pelaksanaan Palang Merah Remaja di Sekolah, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996.

dePorter, Bobbi, Quantum Teaching, Bandung: Kaifa, 2000.

Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research I,  Yogyakarta: Andi Offset, 2000.

Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008.

Hamid, Jabir Abdul, Siikuuluujjiyyah at-Ta’lim, Mesir: Darun Nadloh al-Arobiyah, 1978.

Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum KTSP dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 2007.

Margono, S., Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 1997.

Mudjijo, Tes Hasil Belajar, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Mustaqim Dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1991.

Palang Merah Indonesia, Materi Pendidikan Palang Merah Remaja, Jakarta: Markas Besar Palang Merah Indonesia, 1991.

Purwanto, M. Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990.

Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Rosyda Karya, 2000.

Rustaman, Nuryani Y., dkk., Strategi Belajar Mengajar Biologi, Jakarta: Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Matemátika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia, 2003.

Sitorus, MH., Istilah-istilah Biologi, Bandung: Irma Widjaya, 1999.

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi, Jakarta: Rineka Cipta 1995.

Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1998.

Sudjana,  Nana, Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosydakarya, 2004.

Sugiyono, Stastiktika Untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2007.

Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosydakarya, 2004.

Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.

Supriadi, Dedi, Membangun Bangsa Melalui Pendidikan, Bandung: Rosyda Karya, 2004

Surahman, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik, Bandung: Tarsito, 1990.

Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Surabaya: Prestasi Pustaka, 2009.

Tu’lu, Tulus, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa, Jakarta: Grasindo, 2004.

Uno, Hamzah B., Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, Yakarta: PT Bumi Aksara, 2008.

Usman, Moh.Uzer, Menjadi Guru Professional, Bandung: PT Remaja  Rosdakarya 2006.

RIWAYAT HIDUP PENELITI

A.  Identitas Diri
1.   Nama Lengkap    : Edy Arif Tirtana
2.   TTL                   : Jepara, 17 Desember 1986
3.   NIM                   : 053811143
4.   Alamat Rumah    : Tubanan Timbul RT 01/ 02 Kembang Jepara
HP                     : 085 290 953 301
E-mail                : jigusti@gmail.com
Blog                   : ruangtirta.blogspot.com






Poskan Komentar