Rss Feed
Rss Feed

Senin, 08 April 2013

RAHASIA KAK HANUM


RAHASIA KAK HANUM

     Kami berlari-lari di sepanjang pantai melewati juluran ombak yang sesekali menghantam kaki. Kami berkali-kali terjatuh karena ombak nampaknya lebih tinggi dari langkah kami. Kami sudah bosan membuat istana pasir. Kami ingin sesuatu yang lain.
“Hei kapal, kami ikut berlayar dong!” teriak Sofi sambil melambai-lambaikan tangannya seakan-akan Pak Nahkoda melihatnya saja. “Jangan dituruti Pak. Sofi belum pamitan sama ibunya!” Di awali Roni, kami pun ikut berteriak. “Iya pak. Kami ikut kata Roni.” “Ah…kalian nggak kreatif, bisanya nyontek.”
Pasir di genggaman Sofi pun melayang ke baju Udin. Selanjutnya butiran pasir beterbangan kemana-mana. Menempel di baju Hasan, Nafis, Edy, Roy, Rudi dan Hanum kakak Tirta.
Pantai Kartini sabtu itu ramai sekali. Sumbangan gelak tawa rombongan kami tak kalah keras dengan teriakan-teriakan turis asing yang asyik bermain bola plastik di bawah pohon waru besar itu. Waw, pokoknya super menyenangkan, liburan gratis ke Pantai Kartini Jepara.
Eh iya, sepertinya ada yang terlupa ku ceritakan. Tentang mengapa kami bisa  berlibur ke Jepara geratis. Iya kan?

###

Tiga hari yang lalu, sebelum kami ramai-ramai pergi ke Pantai, Tirta bercerita padaku tentang kakaknya yang lulus UN SMA. Hanum namanya.
“Ris, kakakku hebat banget.” Tirta mengawali pembicaraan. “Bagaimana tidak. Ia bisa lulus UN bahkan terbaik di sekolahnya.” Ia meneruskan.
“Apanya yang istimewa,” cergahku dengan nada datar.
“Ya iyalah. Habib, teman kakakku satu kelas pernah bertanya padaku tentang apa sih rahasia kakak kok bisa tahu lebih dulu pelajaran yang diajarkan guru? Aku terperangah dan bingung saat di tanya seperti itu. Aku lihat kakak biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Selanjutnya aku bilang saja tidak tahu pada teman kakak itu.” Begitu jelas Tirta padaku.
Aku mulai tertarik dengan cerita Tirta.
“Nah, pertanyaan itulah yang membuatku penasaran  untuk mengetahui apa sih rahasia kak Hanum sebenarnya.” Dengan matanya yang melotot Tirta meyakinkanku.
“Mulai hari itu, aku memperhatikan gerak-gerik dan keseharian kakak.” “Terus, sudah tahu rahasianya apa?” tanyaku memotong. “Nanti dulu. Pada awalnya, aku tak menemukan hal yang istimewa dari kakakku. Tapi satu minggu setelah aku diijinkan untuk tidur dikamar kakak, saat itulah ku temukan rahasianya,” ucap Tirta begitu semangat. 
“Ternyata, saat semua terlelap. Kakak mulai bangun dan mengerjakan sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang-orang yang lain.” “Tidak seperti kamu, kerjanya molor terus.” Tirta tertawa cekikian. Dengan penuh canda, kulayangkan tanganku ke pundaknya. Kamipun tertawa bersama.
“Seakan masih tertidur pulas kupusatkan pandangan ke arah kak Hanum yang terjaga saat itu. Ia melangkah ke kamar mandi selanjutnya memakai perlengkapan shalat. Entah shalat apa aku tidak tahu. Empat rakaat tepatnya. Selesai shalat, Ia pun mengangkat tangan. Ku kira Ia sedang berdoa. Aku tetap masih dalam posisi semula. Setelah pakaian shalatnya di lepas, kakak meraih buku-buku pelajaran yang tertata rapi di meja. Selanjutnya di baca.
“Waw, hebat banget.” Begitu kataku di hati. “Jam berapa saat itu Tir?” tanyaku mengejar. “Kira-kira jam 02.00 sampai 04.00 pagi,” jawabnya. “Ooo…ternyata itu rahasianya.” Aku pun manggut-manggut pertanda paham. “Iya, doa dan usaha tanpa putus asa.”
“Terus, apa hubungannya dengan liburan gratis saat ini Tir?” tanyaku penasaran.
“Pagi itu, di meja makan, kubeberkan semua rahasia Kak Hanum didepan Ayah dan Ibu. Dari situlah kak Hanum berjanji kalau ia lulus UN dengan nilai terbaik, aku diperbolehkan mengajak delapan temanku berlibur ke pantai Kartini bersama ia. Gratis.” 
“Ada petuah yang tak bisa ku lupa dari Kak Hanum bahwa keberhasilan harus dicapai dengan perjuangan yang keras tanpa putus asa. Kata Kak Hanum lagi, aku harus lebih baik darinya.” “Lalu apa jawabmu Tir?” tanyaku penasaran. “Siap kak. Aku akan menjadi yang terbaik di SDku.”
Begitulah percakapan itu berlangsung. Tak berbeda dengan Tirta, aku pun termotivasi dengan kata-kata Kak Hanum. Bahwa aku juga harus bisa menjadi yang terbaik dan akan terus berusaha.
Sekarang, kita kembali ke pantai Kartini lagi. Tidak ada kata yang dapat kuungkapkan selain puas, segar dan gembira. Laut biru berombak landai, pasir putih terhampar luas, patung kura-kura raksasa seakan terus melihat kami pulang saat matahari tenggelam. Tak terasa, satu hari pun terlewati. Liburan gratis yang tak terlupakan di pantai yang begitu indah.


Edy Arif Tirtana


Poskan Komentar