Rss Feed
Rss Feed

Jumat, 26 April 2013

SEGMEN CERITA



Adalah waktu, cinta dan persahabatan. Tak ada yang kuasa melawan waktu. Waktu membagi kita dalam segmen-segmen cerita yang selalu misterius. Tidak ada yang ngerti hari esok akan terjadi apa. Apakah berseminya cinta, penghianatan, tangis, tawa, tak ada yang ngerti. Inilah kisah yang tiba-tiba, tak terduka antara Tara, Sinobi, Luna dan Kustiyan Nugroho.

SEGMEN CERITA

Sinobi sangat serius malam ini. Nada bicara dan ekspresi wajahnya nampak tak biasa. Aku ngelihat mereka berdua sedang bercakap di warung lesehan Bu Heni.
“Sebelumnya aku minta ma’af ya Lu. Sebenarnya…”  
“Ma’af kenapa Bi? Ada yang salah ya?”
Aku yakin Luna berlagak bodoh saat ini. Dari dulu cewek emang lebih pinter nyembunyiin kepinterannya ketimbang cowok. Luna pasti udah tahu apa maksud Sinobi sebenarnya.
 “Bu, tolong dibuatin dua porsi jagung bakar ekstra pedas dong. Jangan lupa disisir. Kamu mau kan Bi? Eh iya, sama teh anget dua bu. Kamu masih suka ngeteh kan?”
Benar-benar sempurna. Kali ini Luna menang telak atas Sinobi. Ia sama sekali tak mau ngikutin alur pembicaraan Sinobi. Lumrahnya  cewek pasti tahu jika seorang cowok ngawalin pembicaraan make kalimat seperti itu. Dari ekspresi wajahnya pun udah bisa dilihat, masih ada terusan kata-kata seharusnya. Benar kan? Luna emang cewek yang tak lumrah.
Kadang interaksi itu seperti perang. Masing-masing orang berebut kuasa untuk megang kendali. Contohnya ya seperti interaksi Luna dan Sinobi kali ini. Sinobi telah kalah. Luna lah yang mengendalikan pembicaraan sekarang.
Topik pembicaraan sekarang udah berubah. Sekarang Luna malah ngebahas Nanda, gadis cilik yang pinter banget main gitarnya. Si Nanda biasa ngamen dari warung ke warung. Jam segini biasanya ia udah nyanyi di warung bu Heni.    
“Nah itu dia si Nanda. Akhirnya nongol juga.” Luna sering seperti ini, nyengir-nyengir sendiri saat ngelihat si Nanda main gitar. Matanya berbinar-binar. Entah apa yang ia pikirkan tentang Nanda.
 “Mana Lu?”
“Tuh di sana. Belum lihat?” Luna menggandeng dan mengarahkan pandangan Sinobi ke arah Nanda berada. Kepala mereka saling berdempetan. Kalau dalam serial FTV, adegan seperti ini mesti dikasih efek slow motion. Posisi seperti inilah yang membuat semua cowok tak berdaya di hadapan cewek. Mesra Abis.   
“Oh, di warung Sate itu ya?”
“Tepat. Ia pinter banget main gitarnya. Aku suka. Andai saja ada cowok yang bisa main gitar, trus mau buatin lagu cinta untuk aku. Pasti so sweet banget deh.” Luna nampak unyu-unyu banget kalo sedang manja-manjaan gitu. Itulah yang mbuat Sinobi punya perasaan spesial pada Luna. Cinta? Nanti dulu.
Sinobi adalah sahabatku. Belum lama sih, tapi kami langsung ngerasa cocok pertama kali ketemu. Kecelakaan lah yang membuat kami lama bersahabat. Mungkin persahabatan kami masih berlangsung sampai sekarang. Itu kalau Sinobi masih mau nganggep aku sahabat.
Sinobi cowok yang baik. Ia nolongin aku saat terjadi kecelakaan itu. Aku jatuh dari sepeda motor. Tak begitu parah sih, tapi yang jelas Sinobi sangat berjasa buat aku. Lho nanti dulu, kok malah jadi pertemuanku sama si Sinobi sih yang diceritain. Oke, sekarang lanjut lagi ke adegan Sinobi dan Luna di warung bu Heni.
“Lu, udah berapa lama ya kita kenal?”
“Wah, lama banget. Kira-kira sudah dua tahunan ini lah. Aku masih inget pertama kali kita ketemu. Saat itu lagi gerimis, romantis banget. Jika malam itu kamu mau nembak aku, wah bisa nggak kuat aku menolaknya. Emang kenapa Bi?” Malam itu Luna nampak sangat cantik. Rambutnya yang dikuncir belakang menambah rasa gimana gitu. Hem, Luna Luna.
“Udah banyak Lu yang kita lalui bersama. Aku udah ngerti kamu. Kamu juga udah ngerti aku. Lalu …” Kelihatan banget jika omongan Sinobi itu masih bersambung. Kamu bisa lihat ekspresi wajahnya, kaya ada yang belum keluar gitu. Tapi sayang, tak ada yang tahu kalimat apa yang masih tersisa lantaran Luna langsung motong pembicaraan. 
“Terus, Kamu mau bilang kita emang cocok trus kita bisa pacaran gitu? Aku musti bilang waw sambil lari-lari nggak? Kamu terlambat Bi kalau baru bilang sekarang. Dari dulu kan emang kita udah saling cocok. Baru nyadar ya?” Luna emang hobi banget ngucapin candaan seperti itu pada Sinobi. Ia tak sadar candaannya itu bisa mbuat Sinobi ngarep banget.
“Kamu sangat spesial buatku Lu.” Sinobi narik nafas panjang. Seperti ada beban berat yang hilang. Ia merasa sudah mengeluarkan perasaan yang dua tahun ia pendam.
“Oh, Kamu juga spesial banget buat aku Bi. Kamu mau dengerin curhat-curhatku. Kamu sering nolongin aku saat kesulitan. Kamu telah memberi cerita berbeda dalam hidupku Bi. Jujur, aku nyaman banget sama kamu. Kamu emang sahabat terbaik ku Bi. Tak kan terganti. Nggak sembarangan orang bisa sesabar kamu.”
“Oh, gitu ya. Tepat banget. Kita adalah sahabat.” Sinobi sembunyikan rasa kalutnya dalam-dalam. Tapi tetap saja masih kelihatan olehku. Matanya itu tak bisa berbohong.
Aku tahu pasti apa yang dirasa Sinobi saat ngucapin kata-kata itu. Aku hafal banget ekspresi itu. Rasanya sangat khas. Sakit tapi nikmat. Aneh? Tidak, karena rasa itu sudah jadi sahabatku sejak dulu.
Cewek emang lebih pinter menebar harapan ketimbang cowok. Apalagi pada tipe-tipe cowok seperti Sinobi ini. Ia menganggap cinta itu super sakral. Tahu nggak, Sinobi belum pernah satu kali pun pacaran semasa TK sampai sekarang. Katanya sih, ia sulit jatuh cinta. Ia pernah cerita padaku bahwa cintanya pada Luna adalah yang pertama.
Emang kadang cinta itu ruwet. Bikin bingung, nangis, tak nafsu makan, senyum-senyum sendiri, bikin emosi. Wah, pokoknya cinta itu oye banget lah. Serius. 
Demi cinta, Sinobi pernah melakukan hal yang sangat gila menurutku. Suatu saat Sinobi pernah hilang dari peredaran gara-gara Luna. Kamu tahu apa yang dilakukan Sinobi? Ia seharian nyiapin kejutan hanya untuk memberi surprise Luna di hari ulang tahunnya. Over dramatis.
Dan yang paling gokil lagi adalah kejadian setelah satu hari Sinobi menghilang. Ia rela make kostum badut dan nyelonong masuk ke kelas Luna untuk memberikan kue ulang tahun. Padahal saat itu ada dosennya lho. Super nekat.
Begitulah cinta. Tak masuk akal. Gokil. Nekat. Tapi yang jelas, cinta itu indah. Sumpah, indaaah banget.
“Pulang yuk Bi. Aku udah ngantuk nih.” Ajakan Luna memaksa Sinobi untuk pulang meski masih ada hasrat untuk berlama-lama bersama Luna. Masih ada topik yang belum tuntas terbahas. Tentang perasaan. Tentang rasa cinta Sinobi pada Luna yang belum terjawab jelas.
Mereka pun pulang bersama. Seperti biasa, Sinobi mengantar Luna ke kosnya. Kos itu masih awet seperti dulu. Tak ada yang berubah sejak tiga tahun yang lalu. Gerbang besi warna coklat, tembok warna ungu dan halaman yang cukup luas untuk memarkir tiga mobil dan enam motor milik penghuni kos.
Dengan motornya, Sinobi melintas jalan depan warung bu Heni. Kencang sekali. Sepertinya ada yang akan ia temui segera. Kamu tahu siapa yang akan ditemui Sinobi? Aku.  
Malam selalu ngasih suasana beda untuk bicara dari hati ke hati. Entalah, malam seperti sengaja dicipta untuk mengungkapkan rahasia. Malam itu Sinobi bertemu dan ngajak nongkrong bareng di pinggir jalan. Melihat mukanya yang kusam dan layu, aku sudah tahu apa yang ia rasakan.
“Galau ya?”
“Iya nih. Aku bingung dengan perasaanku. Tentang cinta, persahabatan, keikhlasan. Ah, tapi entahlah. Semuanya sangat ruwet berjubel di kepalaku.”
“Soal Luna?”
“Bener. Tentang perasaanku pada Luna. Hatiku sudah tertambat padannya sejak dulu. Sejak dua tahun yang lalu.”
“Udah kamu ungkapin?”
“Udah. Tapi entahlah. Sepertinya ia tak begitu paham dengan ungkapanku. Ia sama sekali tak serius memberi jawaban.”
“Cewek emang super pintar nyembunyikan sesuatu Bi. Itulah alasan mengapa mereka lebih anggun dan layak dihargai. Kadang kamu takkan ngerti muka asli seorang cewek. Cewek sangat lihai memakai topeng. Entahlah, aku juga tak begitu tahu apa maksud mereka. Tapi yang jelas, topeng mereka itu mampu meluluhkah hati kaum cowok.”    
“Ah, bahasamu itu terlalu banyak kiasan Bi. Aku tak tahu apa maksudmu.” Sinobi menurunkan tas yang dari tadi digendongnya. Rupanya ia sudah menyiapkan snack dan sebotol minuman sebagai teman kita ngobrol malam itu.
“Untuk ngerti, Kadang suatu perkataan tak perlu dipahami Bi. Kamu tak usah memaksa paham untuk sekedar tahu apa yang musti kamu lakukan.”
“Ah, kamu ini. Yang mau curhat kan aku. Kok malah kamu membuatku bingung dengan kiasan-kiasan yang tak aku pahami. Jangan-jangan ini trik mu untuk mengalihkan pembicaraan. Kamu sudah bosan pasti mendengar curhatku tentang Luna kan?”
“Tidak. Tidak seperti itu Bi.”
“Ah, kamu juga tak usah memakai topeng di hadapanku. Aku tahu kamu bosan. Aku tak terlalu bodoh membedakan orang tertarik dan bosan. Tapi sebagai sahabat, kamu tetap perlu mendengarku bicara saat ini Bi.” Muka Sinobi melas banget. Mbikin aku tak mampu lagi menjawabnya.  
“Entahlah, keberadaanmu seperti candu buatku Bi. Aku seperti kehilangan percaya diri untuk sekedar ngambil keputusan tentang apa yang harus aku lakukan. Cinta cinta. Seperti apa sih bentukmu, baumu, suaramu. Benarkah kau adalah racun yang mengenakkan? Entahlah.”
Kejadian-kejadian seperti ini kerap kali terulang. Malam-malam, duduk di pinggir jalan. Menertawakan diri sendiri, hidup dan nasib. Aku sendiri lebih suka menertawakan nasib dari pada menangisinya. Tertawa bagiku adalah bukti bahwa aku masih punya Tuhan.
Seperti biasa, kami selalu kalah oleh waktu. Waktu memaksa obrolan kami berhenti. Waktu seolah membagi-bagi kami dalam berbagai segmen cerita. Kami akhirnya pulang dan melanjutkan segmen cerita masing-masing. Iya, cerita tentang cinta dan kehidupan. 
###
Aku banyak belajar tentang cinta dan kehidupan dari paman. Bukan paman beneran sih, tapi pantaslah jika aku panggil lelaki paruh baya itu dengan sebutan paman. Nama sebenarnya adalah Kustiyan Nugroho. Aku kerap ngobrol-ngobrol dengan beliau lantaran sering diminta tolong untuk ngetik. Paman adalah pemahat sekaligus pegawai negeri yang sampai sekarang hidupnya masih sendiri.
Suatu saat aku ditanya tentang pacar. Rupanya beliau tak percaya jika sampai sekarang aku belum punya pacar.
“Aku masih suci Paman, aku belum pernah satu kali pun pacaran.”
“Jangan bohong kamu. Masak pemuda ganteng seperti kamu tidak pernah pacaran. Mubadzir. Kamu punya banyak teman wanita kan?”
“Banyak sih, tapi cinta kan tidak segampang itu paman.”
“Jangan-jangan kamu homo. Tapi kamu pernah jatuh cinta sama wanita kan?”
“Jangan sembarangan ah paman. Kalau jatuh cinta sih pasti pernah. Ada tiga wanita yang pernah aku cintai sampai sekarang.”
“Tidak pacaran?”
“Tidak. Semua hanya cukup merasa nyaman denganku. Mereka tidak menolakku untuk bersama, tapi mereka juga tidak mengijinkanku menjadi pacarnya. Entahlah. Wanita emang kejam, misterius tapi menarik.”
“Nah, ini. Sekarang definisimu tentang wanita tidak konsisten. Tiga sifat wanita yang kau ucapkan itu saling berlawanan. Tidak mungkin dijadikan satu.”
“Sebenarnya aku belum banyak tahu tentang wanita paman. Sama misteriusnya dengan cinta, aku masih bingung membedakan cinta dan kenyamanan. Entah apa sebenarnya yang wanita cari, kenyamanan, kecocokan, keasyikan, kemewahan, aku tak tahu paman. Setahuku wanita lebih suka pria yang agak nakal ketimbang yang lurus-lurus aja. Pria kadang dituntut menjadi penggoda jika menginginkan hati wanita.”
Paman beranjak dari tempat duduk dan mendekat ke arahku. Beliau menepuk pundakku. Terlihat beban berat tersimpan dalam di matanya. Mata itu selalu terlihat misterius bagiku. Mata yang di dalamnya ada setumpuk rahasia. 
“Apalagi kamu yang masih muda BI. Paman pun sampai sekarang tak tahu benar tentang itu. Bagaimana seharusnya cinta, kasih sayang, pacaran, paman juga tak begitu tahu. Sampai sekarang paman tak menemukan satu pun definisi mutlak tantang beberapa hal itu.”
“Itukah alasan mengapa sampai sekarang paman masih sendiri?”
“Itulah kebodohanku. Aku terlalu mensakralkan yang namanya cinta. Sampai sekarang aku masih memuja kesetiaan Bi.” Sejenak pandangan paman menerawang kosong.
“Ah, tapi entahlah. Sudah selesai ketikannya? Ada yang kamu tanyakan? Sebaiknya aku belikan kamu kopi dan gorengan ke warung dulu ya. Atau kamu lapar. Aku belikan nasi juga ya. Mau kan?” Tak menunggu jawabanku paman bergegas menuju pintu dan keluar. Paman terlihat gugup dan tergesa-gesa.
Baru kali ini aku lihat mata paman berkaca-kaca. Paman adalah sosok tegar dan berpandangan luas tentang kehidupan. Banyak kata-kata beliau aku kutip dan aku jadiin status di facebook. Kadang juga aku sebarin lewat SMS. Aku banyak mencuri ilmu hidup dari paman.
Cinta, cinta seperti apa sih kamu sebenarnya? Baumu? Warnamu? Bagaimana bentukmu? Apa benar kamu itu seperti gambar daun waru? Entahlah.
Tak lama kemudian paman datang membawa dua porsi nasi, gorengan dan kopi hitam. Kami berdua emang suka kopi hitam. Kopi hitam bagiku adalah teman mengungkap rahasia malam. Segmen cerita malam itu kami akhiri dengan saling berucap terimakasih.
###
Kata orang tua di desaku, jika burung Prenjak banyak berkicau di depan rumah, itu tandanya ada tamu yang mau datang. Aku juga pernah dibilangin ibuku tentang rindu. “Bi, jika kamu sedang rindu dengan seseorang yang kamu sayang, panggil saja namanya. Tapi harus dengan hati dan pikiranmu. Ia pasti bisa merasakan disana.”
Pagi ini Luna ke kos ku lagi. Tak seperti biasa yang terkesan setengah tomboy. Ia nampak lebih anggun dengan gamis dan tas jinjing di bahunya. Tak aku lihat lagi rambut yang terikat di bagian belakang lehernya. Ia sekarang memakai jilbab.
“Tumben kamu memakai jilbab Lu.”
“Aneh ya ada cewek yang make jilbab?”
“Tidak juga. Tidak biasa saja melihat kamu memakai jilbab. Tambah cantik kok.” Ia sembunyikan senyumnya di belakang telapak tangan.
“Semalam aku sudah jujur pada Sinobi tentang statusku. Tinggal giliranmu sekarang. Kita harus jujur dengan apa yang kita rasa dan alami Bi.” pandangannya nampak serius penuh harapan. Aku selalu leleh dengan pandangan Luna yang seperti itu.
“Aku rasa ini bukan waktu yang tepat Lu.”
“Tidak. Inilah waktu yang paling tepat. Sampai kapan kita harus membohongi Sinobi.” Tatapan mata Luna itu semakin membuatku leleh tak berdaya.  
“Baiklah aku akan jujur dan berterus terang pada Sinobi sekarang.”
Ia keluarkan handphone dan mencari nama Sinobi pada daftar phone booknya. Ia melakukan panggilan.
“Sebaiknya kau bicarakan sekarang pada Sinobi.” Aku tak punya daya dan alasan untuk menolak permintaannya.
“Hallo, Luna. Ada apa kamu telephone aku?” Suara Sinobi terdengar pelan dari speaker handphone yang aku pegang.
“Ini bukan Luna Bi. Ini aku, Tara. Tolong kau dengar baik-baik beberapa perkataanku. Aku hanya ingin jujur padamu, Luna dan diriku sendiri Bi. Kamu ngerti mengapa Luna tak pernah serius menjawab ungkapan cintamu? Alasannya adalah aku Bi. Aku adalah pacar Luna.”
“Cikken  kamu Tar!!!” Telephone langsung terputus. Luna memelukku. Saat ini aku tak bisa bedakan mana bahagia, kecewa dan mana derita. Mataku terpejam berharap segmen cerita ini segera berakhir dan cepat berganti dengan segmen cerita yang lebih indah buatku, Sinobi, Luna dan paman Kustiyan Nugroho.

Jepara, Maret 2013
Edy Arif Tirtana


Poskan Komentar