Rss Feed
Rss Feed

Rabu, 21 Agustus 2013

KAMERA PENGINTAI


Gara-gara ada kamera pengintai, seisi kelas bisa kelihatan semua. Ancaman besar tuh buat kelompok tiga dungu itu. Biasanya, saat tes mereka pasti nyontek punya teman. Tapi kali ini berbeda. Ada kamera pengintai. Semua perbuatan licik mereka pasti kelihatan dan terekam. Cernak ini mengkisahkan bagaimana cerdiknya kelompok tiga dungu mengatasi kamera pengintai. Apakah mereka mampu mendapat nilai bagus meski ada kamera ? Selamat menikmati...


KAMERA PENGINTAI

“Anak-anak, mulai hari Senin besok di kelas ini akan dipasang kamera pengintai.”

“Ha..ha..ha,” se isi kelas tertawa terbahak-bahak.

“Dimana kamera pengintai itu akan dipasang Pak?” Hendri, yang mejanya tepat di depan pak guru mulai bertanya.

“Bapak masih merahasiakan tempatnya. Siapa saja yang mencontek, gaduh dan mengganggu temannya saat mengerjakan try out akan terlihat. Maka jangan coba-coba melakukan tiga hal itu. Kalian pasti ketahuan.”

Seisi kelas nampak terbengong. Mereka mungkin kaget sekaligus tak percaya di kelas itu akan di pasang kamera pengintai. Keberadaan kamera pengintai sangat mengancam bagi mereka yang hobi mencontek.

Berita itu jadi bahan pembicaraan siswa kelas enam. Pendapat mereka berbeda-beda. Ada yang merasa senang karena ada kamera di kelas mereka. Ada juga yang merasa terancam dan sedih karena ia tak bisa mencontek lagi. Eko, Supri dan Wahyu termasuk siswa yang merasa terancam dengan adanya kamera pengintai itu.

“Wah, bagaimana ini. Ada kamera pengintai di kelas kita. Pertanda buruk.”

“Mau tidak mau, nanti malam kita harus ngebut belajar. Gara-gara kamera pengintai, malah kita yang jadi repot.”

“Tapi aku ada ide, kita kan sama-sama siswa yang kurang pandai. Bagaimana jika nanti malam kita belajar bersama di rumahnya Pak Sucipto saja. Nanti biar aku yang minta ijin pada beliau.”

“Boleh juga tuh. Tapi kamu lho yang minta ijin ke pak Sucipto.”

“Sip, nanti aku yang minta ijin.”

Sebelum jam istirahat selesai, Wahyu pergi ke ruang guru untuk menemui Pak Sucipto. Langkahnya ke ruang guru begitu meyakinkan. Eko dan Supri melihatnya dari kejauhan.

“Ada apa Wahyu?” tanya Pak Sucipto.

“Begini Pak, seumpama kami bertiga nanti malam belajar kelompok di rumah Bapak, boleh atau tidak?”

“Siapa saja?”

“Saya, Eko dan Supri Pak.”

“Boleh. Dengan syarat kalian harus mendapat ijin dari orangtua kalian masing-masing.” Mendapat kabar gembira, Wahyu langsung menyusul Eko dan Supri yang dari tadi mengawasi dari kejauhan.

“Sudah beres. Kita diperbolehkan belajar kelompok di rumah Pak Sucipto. Tapi ada syaratnya.”

“Apa syaratnya?”

“Kita harus minta ijin dulu pada orangtua kita.”

“Gampang, nanti biar ayahku yang mengantarkan kita ke rumah Pak Sucipto pake mobil. Biar aku juga yang nanti mengijinkan kalian.”Eko nampak sangat yakin dengan idenya. Eko tergolong siswa yang kaya. Orangtuanya punya banyak mobil. Rumahnya pun lantai tiga.

###

Sore hari, sekitar jam empat sore, terlihat satu mobil mewah warna putih keluar dari garasi rumah Eko. Tak begitu lama mobil itu tiba di rumah Wahyu seterusnya lurus menuju rumah Supri. Mobil warna putih itu berjalan pelan menuju rumah Pak Sucipto.

Sesampai rumah Pak Sucipto, mereka benar-benar belajar dengan tekun. Malam itu mereka dibimbing langsung oleh Pak Sucipto. Mereka nampak sungguh-sungguh memperhatikan semua penjelasan dari Pak Sucipto. Tidak seperti di kelas. Mereka bertiga adalah biang kegaduhan.

Tepat jam sembilan malam mereka berpamitan. Tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan dalam mobil. Yang pasti malam itu mereka sangat senang. Mereka yakin sudah siap mengerjakan soal try out meski ada kamera pengintai. Malam ini mereka bisa tidur nyenyak.

###

Waktu try out pun tiba. Nampak siswa kelas enam berjajar rapi dalam kelasnya. Soal pun dibagikan satu persatu. Semua wajah terlihat tegang.

“Ingat, berdoa dulu sebelum menjawab soal. Mulai sekarang kalian harus jujur dan percaya pada diri kalian sendiri. Ada kamera pengintai yang selalu mengawasi kalian. Kalian pasti bisa.”

Tidak ada kegaduhan. Semuanya berkonsentrasi pada soal dan jawaban. Tak ada yang mencontek. Tak ada lagi siswa yang mengganggu temannya. Sangat berbeda dengan try out yang sebelumnya. Saat ini kelihatan lebih tenang dan nyaman.

Kini semua lembar jawab telah dikumpulkan pada pak Sucipto. Eko, Supri dan wahyu adalah siswa yang paling lambat mengumpulkan lembar jawaban.

Semua percaya di kelas itu ada kamera pengintai. Mereka tak pernah tahu dimana letak kamera pengintai itu. Letak kamera pengintai Masih dirahasiakan sampai sekarang, kecuali padaku. Kamu ingin tahu dimana kamera pengintai itu diletakkan?

Kata Pak Sucipto, kamera pengintai itu ada pada dirimu sendiri. Semua apa yang kamu lakukan bisa terekam dalam kamera pengintai itu. Tidak hanya di kelas, tapi kamera itu terus mengintai dimana pun kamu berada. Kamera pengintai itu menyimpan rekaman seluruh apa yang kamu kerjakan. Kamera pengintai itu menyimpan semua perbuatan mu yang kelak akan dilaporkan pada Tuhan. Sekarang kamu tetap ingin mencontek? Hati-hati, semua perbuatan mu terekam kamera pengintai.

edy arif tirtana


Posting Komentar