Rss Feed
Rss Feed

Kamis, 12 Desember 2013

GARA-GARA RINI NILAI UJIANKU JELEK

Hari pertama setelah kejadian itu, aku tak lagi menyapa Rini yang sombong itu. Meskipun dia teman sebangkuku, setiap masuk kelas tak ada satu pun percakapan. Jika ia coba mengajakku bercakap-cakap, kupasanag wajah cemberut dan raut muka masam, kututup rapat-rapat mulutku. Terasa aneh sih, tapi biarlah, memang harus begitu. 

GARA-GARA RINI NILAI UJIANKU JELEK

Terik sekali siang ini, rambutku lusuh dan kumel. Hari yang aneh, wajah teman-temanku juga nampak lusuh, muka mereka tak ada yang sumringah. Jika ada satu gelas es campur di depanku saat ini, pasti sudah kutenggak habis dan akan minta tambah lagi. Keringat dari kepalaku pun satu persatu menetes ke hamparan aspal yang kulalui.

Benar, aspal seperti menguap, terpanggang panas mentari. Ditambah hilir-mudik kendaraan bermotor dan mobil membawa debu dan mengepulkan asap knalpotnya ke mukaku. Sebenarnya aku ingin berteriak saat ini, tapi aku masih punya malu, nanti dikira anak gila.

Siang ini sama panasnya dengan hatiku sekarang. Sahabat karibku, Rini tidak mau membisikiku saat kutanya tentang jawaban soal nomer dua belas. Padahal aku benar-benar tidak tahu jawaban soal itu. Menyebalkan.


###

Setelah selesai mengerjakan, saat kami duduk-duduk di teras depan kelas, aku coba tegur dia, aku bertanya

“Rin, aku tadi minta jawabanmu nomer 12, kenapa kamu malah acuh sih..?” begitu tanyaku ke Rini.

Aneh, dia malah ceramah didepanku. “Kamu harus mengerjakan soal ujian itu sendiri, jika kamu tidak jujur maka akan berdosa dan akan masuk neraka.”

 “Iya…iya…masuk neraka. Memangnya neraka milik nenekmu apa?” begitu jawabku.

Mulai saat itu, aku putuskan tidak akan bicara lagi sama Rini. Tega-teganya dia membiarkan aku kesulitan mengerjakan soal. Padahal kami sudah bersahabat lebih dari dua tahun.

“Menyebalkan. Super menyebalkan.” Teriakku dalam hati.

Hari pertama setelah kejadian itu, aku tak lagi menyapa Rini yang sombong itu. Meskipun dia teman sebangkuku, setiap masuk kelas tak ada satu pun percakapan. Jika ia coba mengajakku bercakap-cakap, kupasanag wajah cemberut dan raut muka masam, kututup rapat-rapat mulutku. Terasa aneh sih, tapi biarlah, memang harus begitu.

Dihari yang kedua, masih aku pertahankan raut muka masamku. Sampai tiba suatu saat, aku lupa bawa bolpoin ke sekolah. Sebenarnya aku ingin pinjam ke Rini tapi aku sudah terlanjur benci sama dia. Jadi hari itu aku tak menulis satu huruf pun dari keterangan bu guru. Sampai tugas-tugas pun tidak bisa aku mencatatnya. Pada hari selanjutnya, aku di hukum bu guru gara-gara tak mengerjakan tugas dan tidak punya catatan yang dipelajari kemarin. Gara-raga Rini.

###

Terasa ringan dan segar sekali hari ini. Sampai siang aku main game di rumah, “Sehari tanpa bertemu Rini, menyenangkan sekali,” bisikku dalam hati. Tak seperti hari libur biasanya, hari ini terasa sangat spesial. Inilah libur sebenarnya. Libur dari melihat muka si Rini yang menyebalkan.

“En, itu adiknya dibantu mengerjakan PR!” Teriak ibu dari dapur. Aku memang punya adik, namanya Rio, ia kelas 2 SD.

“Iya bu,” aku bergegas menghampiri Rio diruang tengah.

“Mana yang tidak bisa?” Tanyaku pada Rio.

“Ini Kak, 23-25 itu berapa?”

“Itukan cuma soal pengurangan Rio, kemarin jugakan sudah pernah kakak ajarkan. Dasar kamu malas belajar, kakak tidak mau mengajari. Sana belajar dulu. Dasar pemalas..!!” Pagi itu aku marah banget gara-gara Rio nggak mau belajar dulu. Tapi Rio malah menangis dan mengadu pada ibu. Masalah lagi.

“Rio, kenapa kamu menangis sayang?” Aku mendengar kata-kata ibu dari seberang ruangan.

“Dimarahi kakak. Rio tidak bisa mengerjakan soal 23 dikurangi 25. Kakak mengatakan aku pemalas Bu..” Aku juga mendengar rengek Rio pada ibu.

Tiba-tiba ibu sudah ada didepanku dengan mata yang lebar dan muka marah. “Eny, Rio itu adikmu, dia tidak bisa mengerjakan soal. Kamukan sudah bisa dan sudah tahu. Kenapa tidak mengajari adikmu?” ibu membentakku.

“Itu biar Rio bisa belajar sendiri bu, aku tidak mau Rio selalu tidak ketergantungan sama aku. Kalau aku tunjukin dan ajari terus, kapan bisanya. Kapan mandirinya si Rio.”

Gara-gara disalah-salahin, aku menangis. Aku lari ke kamar  dan menangis sesenggukan di atas kasur. Aku tidak tahu, kenapa aku yang disalahkan. Padahl, maksudku kan baik. Ingin supaya Rio bisa belajar mandiri. Kenapa ibu malah memarahi aku.

Setelah puas nangis, tiba-tiba aku teringat Rini. “Kok kejadiannya hampir sama seperti yang aku alami sama Rini ya?” tanyaku dalam hati. Apa mungkin Rini juga bermaksud baik padaku ya waktu itu. Aku jadi bingung dan tidur sampai sore.  


 

Edy arif tirtana
Posting Komentar