Rss Feed
Rss Feed

Senin, 20 Februari 2012

SIMALAKAMA


“Aku tak mengerti, kenapa tiba-tiba percaya dengan hal-hal aneh seperti itu. Untuk pertama kalinya kang Aji mengajakku sowan ke rumah Mbah Sinto. Aku masih ingat betul, malam itu malam jum’at wage. ”Malam jum’at wage kan tidak mistis.” Kata kang karjo sambil menghisap rokok yang tinggal sepucuk jari. 
“Keluar dari mistis atau bukan, tapi tadi aku cuman disuruh cerita tentang pengalamanku tentang Mbah Sinto, ya sudah aku cerita!” Kang karjo pun mulai duduk diam seperti teman-teman yang lain, aku pun melanjutkan ceritaku. “ Malam itu kang Aji ingin menanyakan perihal keris kecil yang ia temukan kemarin di almari almarhum bapaknya.
 Sesampai dirumah Mbah Shinto, tepat jam delapan malam kami duduk-duduk diteras depan rumahnya, menunggu beliau keluar dari kamarnya –biasanya dikatakan tempat nepi oleh orang-orang kampung- “Masuklah kalian!!!” Suara Mbah Shinto mengagetkan, secara tiba-tiba lelaki tua itu sudah berdiri di belakang kami. Kursi tua ini terasa sangat empuk ketika di duduki, tidak seperti kelihatannya. 
“Keris yang kau bawa itu adalah keris penyubur tanaman, keris penggali rizki, namanya  keris jogo suto. kalau kamu kurang percaya, coba keluarkan kerismu itu”. Kang Aji dengan gugup segera mengeluarkan keris kecil yang sejak tadi berada dalam saku jaketnya. 
“Dari mana Mbah Sinto tahu maksud kang Aji, padahal belum sepatah kata pun kelaur dari mulut kami. Kebingungan ku bertambah setelah melihat keris kang Aji dapat bergerak-gerak setelah dijapani Mabah Shinto. 
“Siapa nama mu? Dari mana asalmu? Apa gunamu?” Tanya lelaki itu terpejam. Sambil mengucek-kucek mata, aku bertanya dalam hati “Inikah sosok yang diagung-agungkan masyarakat desa kami? Sosok yang katanya bisa menghubungkan alam nyata dengan alam lain, sosok yang berjuang matia-matian mempertahankan hutan desa ketika pohon jati disekitar perkampung kami dijarah, dirusak oleh penebang-penebang liar?” –saat itu, terjadi penjarahan besar-besaran sampai-sampai aparatpun tak mampu menghentikannya- 
Tiba-tiba Mata Tajam itu beralih memandangku “Diam!!!” Bentak Mbah Shinto. Tubuh dan pikiranku pun diam hening tanpa suara apa pun, hanya menyaksikan keris yang bisa meulis nama, asal, serta guna. Keris itu bias bergerak-gerak sendiri seolah ada nyawa di dalamnya. 
“Kamu sekarang punya ndoro baru. Inilah Aji, anak dari bendoromu yang dahulu Jogo Suto.” Mbah Sinto berbicara dengan keris itu. Aku melihat keanehan lagi, keris itu bergerak mengangguk layaknya benda hidup yang punya fikiran. “Keris ini menjadi milikmu Ji, gunakan, dan rawat dengan baik, mandikan dengan air kembang tujuh rupa saat bulan suro”. Kata Mbah Sinto dengan sedikit senyum. “Nggih Mbah suwun,” sambut kang Aji sambil mengulurkan tangannya. Setelah itu kamipun pulang.” Untung hanya mandi air kembang, biasanyakan memandikan keris dengan darah” sahut kang Sipan menyerobot alur ceritaku.
“Kalau kamu Man, punya cerita gak tentang ilmu yang telah kamu dapat dari Mbah Sinto” tanya kang Tumijan kepada Sriman yang sejak tadi duduk disampingku.
Malam itu terasa dingin sekali, kata masyarakat desaku, kalau udara dingin seperti ini menandakan pohon randu mulai kembang. Memang disekitar rumahku banyak pohon-pohon randu tua. 
Kang Sriman pun bercerita dengan semangat malam itu, dari mulai lelakon malaikatan, pati geni, poso ngrowot empat puluh hari, sirep,topo di kali tempur, petualangannya mencari aqi’ dan masih banyak lagi. Udara kalem berhembus menembus tiap pori. Malam semakin dingin. 
Para tetangga yang tadi mele’an di rumahku pun sekarang sudah pergi. Sampai lampu-lampu rumah tetangga sekeliling padam, akhirnya kang Sriman mengakhiri ceritanya. mereka nampak betah di teras rumahku. Saat itu keluargaku sedang ada hajat, kurang empat hari lagi pelaksanaan sunatan adikku, Pendi. Di desa kami sudah menjadi adat, setiap ada yang punya hajat tetangga-tetangga ikut mlandang dan malamnya mereka melekan. Rasa kebersamaan di desa kami sangat erat. 
Na’asnya, ada yang menjadikan acara melekan menjadi ajang judi berbagai jenis, ada dadu, gaple, remi, pokeran,inuman, pokoknya lengkap. Namun itu hanya dilakukan oleh orang-orang itu, tidak untuk kami dan teman-teman. 
Kami sibuk bercerita tentang Mbah Sinto orang yang terkenal sakti di desa kami. Setelah lama ngobrol-ngobrol, mataku terasa tebal, mulai menguap, merekapun satu persatu pulang. “Bagaimana kerjaan besok entah, yang penting sekarang kumpul, yang besok dipikir besok” kata kang Sukardi yang mulai beranjak pulang. 
Masyarakat desaku memang sangat lugu, apa adanya, tidak kenal dengan skala prioritas. Namun aku salut pada mereka setidaknya dengan keluguan itu, mereka telah berbuat jujur, jujujr pada diri mereka dan pada diri-diri yang lain. Tidak seperti aktor-aktor yang biasa aku jumpai, baik aktor politik, aktor akademisi, aktor agamis dan banyaklah, mereka selalu membawa topeng, kadang topeng malaikat kadang topeng iblis. Siapa mereka sebenarnya aku tak perduli lagi, malaikat atau iblis? Entahlah, yang penting aku cinta desaku, aku cinta negeriku.

###

Empat hari cepat berlalu, hajat besar keluarga kami akhirnya terlaksana. Hari itu ramai sekali. Banyak orang yang berkunjung, baik untuk nyumbang atau sekedar nonton orkes saja. Jangan heran kalau di desaku peristiwa hajatan seperti ini juga dijadikan kesempatan investasi. Barang yang mereka berikan, sebenarnya tidak sepenuhnya disumbangkan. Tapi lebih cenderung dihutangkan sementara.
“Aduuh…..kemarin nyumbang dua tempat, sekarang nyumbang lagi tiga tempat, bingung. Uang sepi, harga kebutuhan naik sementara gaji masih tetap.” Kata salah satu ibu yang dating.  “Iya ya mbak, ngeres lagi nasib petani seperti aku ini, sudah iklim tidak bersahabat, mencari pupuk sulit dan mahal, belum lagi kalau nanti waktu panen, pasti harga gabah kami murah.”Gabahku mending kalau sudah di panen, tak makan sendiri saja. Tidak tak jual.” Timpal salah satu ibu yang lain.
Seperti di daerah-daerah lain. Setiap banyak wanita berkumpul, disitulah tersebar informasi-informasi atau gossip yang menjadikan pegetahuan kita atentnag orang lain meningkat tajam. Entah itu falid atau tidak. Namanya juga gosip. 
Itulah yang terjadi di desaku. Entah mengapa, mereka menganggap bahwa nyumbang atau lebih akrabnya disebut buwoh, sebagai utang piutang. Entah mengapa mereka masih melaksanakan kebiasaan yang seperti itu. Pernah aku bertanya pada ibuku perihal itu, tapi malahan ibuku menjawab dengan sewot “Kamu itu masih kecil, belum tahu masalah kekeluargaan, belum tahu apa yang terjadi di masyarakat kalau tidak manut dengan sistem seperti itu.” Keningku mengerenyit saat itu, emosiku membuncah entah aku marah pada siapa.

###

Sebenarnya, lima hari sebelum hajat besar itu dilaksanakan, aku harus memohon ijin dahulu, kapada aparat Desa, Kecamatan, dan berlanjut ke POLSEK. Setelah seharian berkeliling-keliling akhirnya samapai juga aku di kantor POLSEK. Kantor yang terpampang spanduk besar bertuliskan kami siap melayani masyarakat. Aku ingat berul, saat itu ada tiga petugas yang berjaga di kantor.  “Ada apa?!” Tanya salah satu lelaki berseragam rapi itu. “Ini pak mau minta ijin gawe.” Jawabkua pelan.
Petugas itu bergegas mengotak atik komputer, entah apa yang dikerjakan, tapi yang aku ketahui hanya mengganti nama dan tanggal. Setelah itu diprint out, distempel, lalu diberikan padaku. “Seratus ribu mas” katanya sambil sibuk mengotak atik keyboard komputer kembali. Aku  terdiam sejenak. “Mereka pelayan masyarakat?” Tanya itu menyayat dalam hati. Karena  tugas dari ibu tersebut harus diselesaikan secepatnya, akupun menyerah kalah pada kemunafikan yang terstruktur, aku berikan uang lembaran seraus ribuan, dan pulang. 
Satu minggu pun berlalu, luka sunat adikku telah mengering. Beras hasil sumbangan atau lebih tepatnya utangan yang tidak diminta pun sudah terjual habis, tak berbeda dengan gula dan rokoknya. Aku pun berpamitan melanjutkan studi yang mengenalkanku pada berbagai macam topeng, skala prioritas, dan banyak hal lucu.  

edy arif tirtana  

Poskan Komentar