Rss Feed
Rss Feed
Tampilkan postingan dengan label KOLOM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOLOM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juni 2014

2 Hal Sepele Yang Siapa Tahu Bisa Menyelamatkanmu


Langsung,

#Fakta 1
Sesuatu hal yang besar pasti tersusun dari gabungan berbagai unsur-unsur kecil. Maksudku, “hal” tersebut bisa berupa perbuatan, benda, hasil, kondisi dan lain sebagainya. Seperti contoh manusia, tersusun dari berbagai sel yang berbeda. Sel, tersusun dati berbagai organel yang berbeda-beda pula. Dan seterusnya.

Rabu, 28 Mei 2014

BUKAN INFO BEASISWA FULL STUDY UNTUK ORANG YANG GAK SUKA BOHONG


Oke, berhubung sekarang koneksi internetnya sedang busuk. Ketimbang aku mengumpat nggak jelas arahnya, maka aku akan bahas saja tentang “bohong”. Nggak ada hubungannya sih sama koneksi yang busuk. Tapi moga saja bisa ngobatin kekeselan yang terkumpul diperut ini.

BEASISWA SEKOLAH GRATIS BUAT KAMU YANG GAK BISA NULIS?


Oke. Sekarang, ayo kita mulai…

Kali ini aku mau ngomong tentang “Nulis”. Ya, nulis. Nulis yang sudah biasa aku dan kamu lakuin sejak TK, SD sampai sekarang jadi sarjana. Maaf, buat kamu yang nggak disekolahin TK dan SD, bukan berarti aku cuek sama kamu. Tapi aku lebih salut saja sama kamu yang sampai sekarang masih enggan jadi sarjana. –nyinggung perasaan ya? Maaf..-

Kamis, 13 Februari 2014

VALENTINE: BER "SAYANG-SINAYANG" LAH SEBELUM TERLAMBAT


Berhubung besok banyak yang nyebut hari valentine atau biasa orang menyebutnya dengan “hari kasih sayang, aku mau ngebahas tentang “sayang-sinayang”. Ya, mengapa harus “sayang si nayang”? karena kalau hanya “sayang” saja -tanpa “sinayang”-, maka akan kelihatan lumayan aneh dan pasti bikin nyeseg baju lantaran ukuran dada membesar gara-gara terisi air mata yang over produksi.
 

Selasa, 24 Desember 2013

PERAN PENTING “Si Osit” AGAR KAMU TETAP SEHAT

Pada mulanya, si Eri sama si Osit ini saudaraan. Ia lahir dari mesin yang sama. Tapi, setelah agak dewasa mereka ngambil jalan yang berbeda. Si Eri milih jalan lewat saluran pembuluh darah. Sedang si Osit malah milih saluran limfa. Maklum sih, emang karakter dan tugas mereka beda-beda. 

Kamis, 12 Desember 2013

BULLSITTNYA UNIVERSALITAS KEBENARAN


Begitu gampang orang menyalahkan orang yang lainnya. Begitu gampang seseorang mengkafirkan dan memberikan cap ahli neraka pada orang yang lain. Banyak orang yang ditertawakan, diejek bahkan dikucilkan hanya karena dia berbeda dari lumrahnya. Sudah banyak korban berjatuhan akibat penilaian kita yang lahir terlalu dini dan dangkal. Ah, semua penilaian itu hanya bullsyitt belaka.

Senin, 09 September 2013

BERANI COBA...??? LAKUKAN SEKARANG !


Kekuatan mental dalam diri kita berperan sebagai pendorong. Umpama mobil, mental adalah busi yang dapat menghasilkan listrik atau api pemicu pembakaran. Tanpa adanya listrik dari busi, mesin mobil tidak bisa dihidupkan. Begitu juga dengan manusia, tanpa kekuatan mental yang kuat, ia akan “mati” sebelum “mati” –meminjam istilah pejuang HAM, almarhum Munir-.

Disadari atau tidak, banyak orang malah sengaja menjerumuskan dirinya pada kegagalan lantaran ciutnya mental. Alasannya sangat sederhana, mereka tidak memiliki daya pendorong yang cukup untuk melakukan sesuatu hal. Mereka terlalu khawatir dan akan melewatkan begitu saja kesempatan yang diberikan Tuhan padanya. Biasanya, orang macam itu cara berfikirnya super rumit hingga ia sendiri kadang tak mengerti bagaimana jalan pikirnya.

Menurut kaum cuttal (ciut mental), tenggelam dalam penyesalan dianggap lebih nyaman daripada mengalir dalam proses pembuktian (mencoba). Mereka hanya mau melakukan sesuatu hal jika semuanya sudah pasti. Mereka sangat anti dengan yang namanya spekulasi.

Padahal, kamu tahu, dalam perjalanan hidup ini tidak ada jawaban yang pasti. Tidak ada yang ngerti esok terjadi apa. Bahkan satu jam lagi atau satu menit lagi akan terjadi apa, kita nggak tahu sama sekali. Itu bukan wilayah kita. Jadi ya jangan terlalu dipikirkan. Meski kamu sudah merencanakan sesempurna mungkin, namun tetap nggak ada jaminan untuk suksesnya rencana kamu 100 %. Masih rahasia.

Rahasia Kegagalan Yang Mutlak
Ngomong tentang kegagalan, aku jadi ingat dengan tukang parkir nasi kucing depan apotek 24 jam Ngaliyan. Ada hal yang ia ingatkan perihal gagal dan berhasil. Ia bilang begini, “ada dua kemungkinan kalau kamu sedang mencoba, yaitu gagal dan berhasil. Tapi hanya ada satu kemungkinan jika kamu tidak mencoba, yaitu gagal.” Aku pun nyengir-nyengir sendiri merasa tersindir. -Ngepasi soale.

Orang yang ciut mental akan selalu punya alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Mereka sangat cerdas untuk menutup pintu-pintu kemungkinan. Mereka juga diberi kepandaian yang lebih untuk menganalisa berbagai kekurangan. Mereka lebih suka mengamati sisi mangga yang busuk dari pada mengupas sisi lain yang tidak busuk lalu memakannya.

Masihkah kamu sekarang bergaul dan cinta banget mengamati bagian mangga yang busuk hingga kamu tak sempat untuk mencari sisi atau bagian yang masih enak dimakan? Cepat bangun. Bangunlah sebelum kamu benar-benar tidak bisa bangun.

Ingin Keluar Dari Keanggotaan Cuttal sekarang..?

Mari kita keluar dari keanggotaan bareng-banreng…
Sangat perlu diketahui mengapa bisa terjadi ciut mental. Tanpa mengetahui sebab, akan sulit ditanggulangi tragedi ciutnya mental ini. Diperlukan penelusuran khusus terhadap diri sendiri. Mungkin sebab dari satu orang dan orang lainnya berbeda-beda.

Yang pertama, ciut mental hanya bisa dialami oleh orang yang belum bisa menghargai diri sendiri. Kedua, ciut mental hanya bisa dialami oleh orang yang suka berprasangka buruk, termasuk pada Tuhan. Ketiga, ciut mental hanya bisa dialami oleh orang yang hanya bisa memandang satu sisi saja. Mungkin masih ada tambahan lagi, jika berkenan silakan ditambah sendiri.

Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan bagaimana mengatasi ciutnya mental kecuali lakukan, lakukan dan lakukan. Namun aku tidak memaksa Kamu untuk keluar dari keanggotaan kaum cuttal lho. Jangan khawatir, pada kaum cuttal disediakan juga kenikmatan dan sensasi tersendiri dari Tuhan kok. Itu jika kamu bisa berfikir dan merasakan.

Apa yang akan terjadi dan kamu lakukan besok?
 
edy arif tirtana

TIKI-TAKA, PRAGMATIK FOOTBALL DAN UJIAN AKHIR SEKOLAH


"Tujuan bukanlah utama; Yang utama adalah prosesnya" Pernah dengar penggalan lagunya Iwan Falz yang itu nggak? Halah, paling juga tidak. Oke, lupakan!

Selama tiga tahun terakhir, perhatian media sepak bola di seluruh dunia banyak tertuju pada dua arsitek penting: Pep Guardiola dan Jose Mourinho. Kenyataan ini mudah dipahami lantaran keduanya melatih di dua klub sepak bola terbaik di dunia pada saat itu. Pep Guardiola lebih dahulu membesut Barcelona sebelum beberapa tahun kemudian Mourinho berlabuh di Real Madrid. Kedua klub tersebut juga memiliki sejarah ‘permusuhan’ yang panjang, tidak hanya di dalam lapangan pertandingan tetapi juga di luar lapangan.

Bersama Barcelona, Pep meraih sukses besar. Ia pernah memenangi hampir seluruh kompetisi di jagad sepak bola dunia mulai dari Copa del Rey hingga piala dunia antar klub, tentunya yang melibatkan klub Barcelona. Oleh para pendukung Barcelona, Pep mendapat julukan the God Father. Di sisi lain, karir kepelatihan Mourinho juga tak kalah bersinar. Mourinho berhasil memutus dominasi Barcelona di Liga Spanyol. Sebelum berlabuh di Real Madrid, Mou, begitu akrab disapa, suksek membawa Inter Milan ke kasta tertinggi sepak bola Eropa, Liga Champion! Mou jugalah yang berhasil membawa Chealsea menjuarai Liga Inggris di awal kedatanganya di Stanford Bridge setelah puluhan tahun puasa gelar. Dari ‘the special one’, julukan Mou berubah menjadi ‘the only one.’

Terlepas dari pretasi gemilang keduanya, karakter Pep dan Mou adalah sering digambarkan putih-hitam. Pep dinilai sebagai sosok yang tidak banyak bicara, ramah, berkelakuan ‘baik’ (well mannered), dan ‘beradab.’ Sementara Mou tampil dengan gaya yang doyan bicara, arogan, angkuh, dan ‘pedas.’ Satu hal yang yang mungkin menjadi persamaan mereka adalah mereka sama-sama menjadi sosok yang paling dicari oleh wartawan dan awak media. Pep dicari karena keramahannya pada awak media, sementara Mou selalu dinanti karena komentar kontroversialnya.

Perbedaan juga terlihat jelas dari filosofi sepak bola yang mereka praktekkan di lapangan. Di lapangan pertandingan, Pep bersama Barcelona dinilai menyuguhkan sepak bola yang indah, atraktif, kolektif, dan cerdas melalui penguasaan bola (ball possession). Tiki-taka menjadi kata kunci tipe permainan mereka. Namun demikian, tipe permainan tersebut juga tak lepas dari kritik karena dinila membosankan, terlalu lama membawa bola, dan kurang efektif. Sementara itu, Mou , bersama sederet klub yang pernah dibesutnya, lebih akrab dengan tipe pragmatic football (sepak bola pragmatis) dimana hasil akhir adalah yang paling penting. Dalam filosofi tipe pragmatic football, penguasaan bola selama pertandingan berlangsung (proses) tidaklah penting. Yang terpenting adalah kemenangan di akhir pertandingan (tujuan), tak perduli apakah gaya permainan dianggap baik atau buruk. Apalah artinya bermain indah jika akhirnya kalah juga? Pragmatic Football jugalah yang akhirnya menjadi salah satu alasan Mou kurang disukai madridista, suporter Real Madrid. Mou dianggap mengacaukan gaya permainan sepak bola indah ala Real Madrid.

Apakah itu tipe tiki-taka ataukah tipe pragmatic football, toh nyatanya kedua pelatih besar itu terbukti sukses dengan gayanya masing-masing. Pragmatic football dinilai cukup jitu untuk merusak gaya permainan tipe tiki-taka dan ball possession-nya, dan begitu pula sebaliknya. Tiki-taka menitikberatkan pada proses, sedangkan pragmatic football pada hasil akhir atau tujuan.

*ganti cerita

Dalam sistem pendidikan dimana ujian akhir sekolah (nasional) adalah ‘raja,’ tipe siswa atau pembelajar seperti dalam sepak bola di atas sangat mungkin dijumpai. Banyak siswa yang sukses dalam ujian sekolah karena memiliki ball possession yang bagus selama proses pembelajaran berlangsung. Namun, tidak sedikit pula yang justru berakhir anti-klimaks; ball possession bagus tapi tidak lulus (kalah) dalam ujian sekolah. Demikian juga sebaliknya, tidak sedikit siswa yang sebenarnya kurang bagus dalam ball possession selama proses pembelajaran tetapi berhasil (menang) dalam ujian sekolah.

“Sepak bola ya sepak bola, belajar ya belajar. Tidak ada istilah kalah dalam belajar.” Ungkapan polos ini sangat benar, namun fakta bahwa ujian akhir sekolah telah menjadi semacam benteng terakhir yang menentukan kelulusan siswa juga tidak sepenuhnya salah. Kegagalan (baca: kekalahan) dalam ujian sekolah terbukti menurunkan mental siswa (ada yang sampai nenggak racun juga kan?). Entah ada unsur causalitas (sebab-akibat) atau tidak, yang jelas fakta ini membawa konsekwensi pada di-anak-emas-kannya mata pelajaran tertentu, di-anak-tiri-kannya mata pelajaran tertentu, diistimewakannya guru tertentu, diabaikannya guru tertentu, dan sebagainya. Siswa mulai melupakan gaya permainan indah sebagai suatu proses dan berorientasi hanya pada hasil akhir ujian. Tipe pragmatic football telah banyak menggelayuti pikiran para siswa.

Sudah barang tentu ada jalan tengah dari kedua tipe pembelajar tersebut. Aktif berpartisipasi dan berkontribusi dalam proses pembelajaran di kelas serta berprestasi dalam ujian sekolah sangat mungkin dilakukan.

Ah, bukankah di luar Pep dan Mou masih ada Fergie, Ancelloti, Mancini, Capello, Wenger, Heykens, Klopp, Conte, hingga Rahmad Darmawan? Hehehe… Jadi, tipe pembelajar seperti apakah kita?

*Ayo, sambil diminum kopinya, Kang. 

Muhammad Jauhari Shofi