Rss Feed
Rss Feed
Tampilkan postingan dengan label PROFIL TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL TOKOH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

PROFIL TONY Q RASTAFARA

Untuk manteman seluruh Nusantara nggak boleh nggak tahu ya tentang mas Tony Q. Soalnya ia tuh inspiratif banget. Yo man. Banyak hal-hal unik yang dimunculkannya. Kamu pengen tahu? Istilah “rambut gimbal” (gaya rambut dreadlock) yang mempulerin siapa? Ya mas Tony ini. Sampai-sampai ia buat judul lagu lho. Uye banget deh pokoknya. ... ............


Tony Q Rastafara

"reggae nggak harus gimbal, gimbal nggak selalau reggae, reggae nggak harus beganjo, beganjo nggak selalu reggae, reggae musiknya pecinta damai" 

Untuk manteman seluruh Nusantara nggak boleh nggak tahu ya tentang mas Tony Q. Soalnya ia tuh inspiratif banget. Yo man. Banyak hal-hal unik yang dimunculkannya. Kamu pengen tahu? Istilah “rambut gimbal” (gaya rambut dreadlock) yang mempulerin siapa? Ya mas Tony ini. Sampai-sampai ia buat judul lagu lho. Uye banget deh pokoknya.

Nama asli dari mas Tony Q adalah Tony Waluyo Sukmoasih. Ia lahir di Semarang, Jawa Tengah, 27 April 1961. Kalau sampai sekarang, bisa diitung sendirilah umurnya sudah berapa. Layaknya manusia biasa, soalnya Mas Tony Q emang bukan nabi, ia juga sekolah. Ia sempat lulus dari sebuah STM perkapalan di kota kelahirannya itu.

Sebelum akhirnya menjadi musisi reggae yang terkenal seperti saat ini, mas Tony q juga pernah kerja sebagai quality control di sebuah pabrik pengalengan Singapura, tapi mungkin ia nggak betah kali ya, hingga ia mutusin memilih ngamen dan nyiptain lagu ketimbang kerja di pabrik. Mas Tony Q sempat ngamen selama kurang lebih 6 tahun di Blok M, Jakarta dan sekitarnya.

Menurut wawancara dengan mas Tony Q di Radio Nederland Wereldomroep, sebelum terjun di musik reggae, ia pernah memainkan blues, rock, bahkan musik country. Tahun 1989 mas Tony Q akhirnya memilih menekuni musik reggae yang menurutnya tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Tony Q mengaku sangat mengidolakan Bob Marley, almarhum musisi reggae kenamaan asal Jamaika. Tapi ia juga menegaskan, ia mengidolakan Bob Marley itu karena semangatnya. Bukan karena ajaran “rastafari” yang dianutnya.


Perjalanan bermusik

Mas Tony Q memulai karier musik reggae sejak tahun 1989 dengan grup musik Roots Rock Reggae. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada di Jakarta. Setelah tergabung dengan banyak band reggae seperti Exodus dan Rastaman, akhirnya pada tahun 1994 ia membentuk grup musik Rastafara yang menjadi cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia saat itu.

Bersama Rastafara dia sempat merilis dua album, yaitu "Rambut Gimbal" (1996) dan "Gue Falling In Love" (1997). Hampir semua lagu dalam album tersebut diciptakan mas Tony Q. Lagunya kebanyakan bertema sosial, kemanusiaan, cinta, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Rastafara saat itu dinilai sangat berbeda dengan grup musik reggae lainnya yang kebanyakan marley sentris. Mereka memunculkan reggae khas Nusantara dengan memadukan unsur-unsur musik dan instrumen tradisional seperti kendang, gamelan, tamborin dan lain-lain sehingga memunculkan reggae rasa Nusantara. Pada aransemen musiknya pun sepintas terlihat unsur-unsur musik Melayu, musik khas daerah Sumatera Utara, atau Sumatera Barat.

Pada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam musik karena kurangnya pasar musik reggae di Indonesia. Mas Tony Q kemudian membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band mendapat pemain tambahan. Tetapi kemudian tahun 2000 Tony Q memutuskan untuk memulai karier solo dengan tetap membawa nama grup musik yang telah membuatnya dikenal oleh para penggemarnya, yaitu Tony Q Rastafara.

Dalam perjalanan karier solonya, mas Tony Q merilis beberapa album. Album solonya yang pertama, "Damai Dengan Cinta" tanpa dinaungi perusahaan rekaman. Pada album solo pertamanya ini mas Tony Q mengalami kemajuan pesat dalam perjalanannya bermusik reggae. Ia sempat diundang untuk tampil dalam ajang  Bob Marley Festival di Amerika Serikat tahun 2002.

Tahun 2003, mas Tony Q Rastafara merilis album solonya yang kedua, "Kronologi". Lagu dalam album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu lama dan beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Album solo ketiga "Salam Damai" dirilis pada 2005. Dalam album ini mas Tony menyisipkan lagu dengan bahasa Sunda "Paris Van Java" dan Jawa "Ngayogjokarto". Semakin kental deh reggae Nusantaranya.

Lagunya mas Tony Q “pat gulipat” juga masuk dalam album kompilasi musik "Reggae Playground" yang dirilis bulan Februari 2006 di bawah perusahaan rekaman Putumayo World Music, sebuah label rekaman yang berbasis di New York, AS. Musik reagge khas Nusantara pun bisa didengar oleh masyarakat dunia.

Album solo ke empat, "Presiden" muncul dalam rangka menyambut Pemilu 2009 di Indonesia. Menurut Tony Q, album ini dirilis untuk memberikan wacana ke masyarakat penggemar musik reggae supaya tahu bagaimana menyikapi kondisi politik saat itu. Musik dalam album ini kembali menghadirkan unsur tradisional Indonesia seperti kendang Sunda, gamelan, sitar Jawa, tamburin, bahkan trompet reog.

Album bersama rastafara
  1. Rambut Gimballl (1996) - Hemagita Record
  2. Gue Falling in Love (1997) - Blackboard Record

Album Solo
  1. Damai Dengan Cinta (2000) - AK Production
  2. Kronologi (2003) - Indonesia Rasta Production
  3. Headliners “Bob Marley Festival”. Houston TX, Amerika Serikat (2002)
  4. Invitation “Legend of Rasta Reggae Festival”. Houston TX, Amerika Serikat (2003-2005)
  5. Putumayo World Music Album Compilation, “Reggae Playground” – single “Pat Gulipat” (2006) 
  6. Salam Damai (2005) - IM Production
  7. Anak Kampung (2007) - Tony Q Production / 267 Record
  8. Presiden (2009) - Tony Q Production
  9. Kurang Tambah (2010)
  10. Membentang Sayap (2012) dengan rastafara

edy arif tirtana
dari berbagai sumber
mau lagu-lagu mas Tony Q ? KLIK DISINI
   

Minggu, 17 Juni 2012

PROFIL AHMAD DHANI



AHMAD DHANI

Terlahir di Surabaya pada 26 Mei 1972, Ahmad Dhani, dikenal sebagai pentolan grup Dewa 19, pencipta lagu dan juga sebagai produser rekaman. Pria bernama lengkap Dhani Ahmad Prasetyo ini dikenal penuh kontroversial dan sensasi sebagai musisi, baik dalam syair lagunya maupun tingkah polah kehidupan sehari-harinya.

Dhani pernah menikah dengan Maia Estianty atau populer dengan nama Maia Ahmad. Dari perkawinannya dengan perempuan asal Surabaya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak laki-laki, yang diberi nama Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Ahmad Abdul Qodir Jaelani. Nama-nama tersebut diambil dari nama-nama tokoh sufi yang menjadi idola Dhani.

Diberbagai grup band ia adalah seorang leader, seperti leader band Dewa 19, band The Rock maupun Triad. Ahmad Dhani adalah pemilik sekaligus pimpinan dari Ripublik Cinta Management, Dhani melalui manajemen ini telah berhasil mencetak artis-artis maupun penyanyi top. 

Dhani pada tahun 1986 membentuk sebuah grub band seperti yang kita kenal sekarang ini yaitu Dewa, kala itu Dhani sekolah di SMPN 6 Surabaya. Bersama 3 orang temannya ia berhasil membuat grup band Dewa  eksis di mata masyarakat. Tidak heran Dhani yang bertindak sebagai vokal dan keyboard sering bolos masuk sekolah hanya sekedar untuk latihan dan berkumpul bersama teman bandnya. 

Karir music Dhani ternyata bukan hanya di jalur rock, Dhani sempat mencoba jalur musik jazz yang kemudian diikuti perubahan nama Dewa menjadi Downbeat. Bersama Downbeat, Dhani sempat menjuarai Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA '90 atau juara II Djarum Super Fiesta Musik. Namun akhirnya Dhani kembali ke jalur rock dan mengibarkan bendera DEWA 19 dengan tambahan Ari Lasso.

Karir Ahmad Dhani menanjak setelah Album pertama Dewa 19 keluar dibawah naungan Team Records. Album ini meledak di pasaran, dan akhirnya Dhani bersama band Dewa 19 dianugrahi sebagai pendatang baru terbaik tahun 1993.
Menjelang Pemilu 2009, banyak artis yang maju sebagai caleg (calon legislatif) bahkan ada pula yang berniat menjadi presiden. Lewat partai PKB, nama Dhani menjadi salah calon yang akan diajukan sebagai calon presiden. Namun, Dhani sendiri lebih memilih berkarir di musik dan mengurus ketiga putranya ketimbang berkiprah di dunia politik.

Bertepatan dengan ultahnya yang ke-37 tahun, Dhani digaet oleh produk asal Inggris, Lee Cooper untuk mengeluarkan t-shirt khusus yang bertajuk Lee Cooper - Ahmad Dhani Collaboration.

Kecintaannya pada musik dibuktikan dengan membentuk sebuah band pada saat dia masih duduk di bangku SMPN 6 Surabaya. Banyak grup band yang lahir dari otak jenius Dhani. Mulai dari Dewa 19 yang kerap berganti personil, Ahmad Band yang merupakan proyek sampingan Dhani, The Rock, sampai dengan T.R.I.A.D yang sempat merilis album pada tanggal 19 Februari 2010.

Dhani masih tetap eksis bersama Dewa 19, meski beberapa kali terjadi penggantian personel. Bahkan semakin melebarkan sayap dengan bendera Republik Cinta Artis Management, yang menaungi grup-grup baru miliknya, The Rock, Dewi-Dewi, White Snow, Andra & The Backbone dan Dewa 19 sendiri.

Dhani yang pernah dilaporkan oleh pakar telematika Roy Suryo terkait penggunaan bendera merah putih pada video klip Dewa 19 ini pada bulan Februari 2009, menjelang hari kasih sayang menjadi sangat populer di dunia maya.

Tangan dingin Dhani dalam menghasilkan talenta-talenta baru di dunia musik Indonesia, patut diacungi jempol. Setelah The Virgin, kali ini giliran The Moon. Selain itu masih ada band-band baru lainnya. Untuk itu, Dhani mengeluarkan album kompilasi bertajuk NEW BEGINNING 09 pada awal Juni 2009.

Album Dhani bersama Dewa:
  • Dewa 19 (1992)
  • Format Masa Depan (1994)
  • Terbaik Terbaik (1995)
  • Pandawa Lima (1997)
  • The Best Of Dewa 19 (1999)
  • Bintang Lima (2000)
  • Cintailah Cinta (2002)
  • Atas Nama Cinta I (2004) - Live Album
  • Atas Nama Cinta II (2004) - Live Album
  • Laskar Cinta (2004)
  • Republik Cinta (2006)
  • Kerajaan Cinta (2007)
Album lainnya:
·         Ahmad Band IDEOLOGI, SIKAP, OTAK (1998)
·         The Rock MASTER MISTER AHMAD DHANI I (2007)
·         Muhammad Dhani & The Swinger THE BEST IS YET TO COME (2009)
·         T.R.I.A.D T.R.I.A.D {2010} ISTIMEWA (2010)
·         Album lain THE BEST OF REPUBLIK CINTA ARTISTS VOL. 1 (2008)
D'PLONG: SENSASI ROCK'N'DUT (2009)

Kamis, 14 Juni 2012

PROFIL EMHA AINUN NAJIB


 EMHA AINUN NAJIB


Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dilahirkan di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Darussalam Gontor karena melakukan demo pada pertengahan tahun ketiga studinya. Ia pun pindah ke Yogya dan tamat SMA di kota itu. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi. Umbu Landu Paranggi, adalah soerang guru yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha.
Emha juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas rakyat. Ia berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Gamelan Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung.
Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat. Ia juga memmpunyai acara rutinan di beberapa kota, seperti Kenduri Cinta di Jakarta, Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Padhangmbulan di Jombang, Gambang Syafaat di Semarang, Bangbang Wetan di Surabaya, Paparandang Ate di Mandar, Maiyah Baradah di Sidoarjo, dan masih ada beberapa lain yang bersifat tentative namun sering seperti di Bandung, Obor Ilahi di Malang, Hongkong, Bali serta kota-kota lain yang belum teridentifikasi.
Beberapa karya teater Emha:
  • Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto),
  • Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),
  • Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern),
  • Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
  • Kemudian bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun),
  • Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar),
  • Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
  • Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, serta Duta Dari Masa Depan.
  • Dan yang terbaru adalah pementasan teater Tikungan Iblis yang diadakan di Yogyakarta dan Jakarta bersama Teater Dinasti
  • NDRC (2012)
  • Dan lain sebagainya.
Skenario Film
  • RAYYA, Cahaya di Atas Cahaya (2011), skenario film ditulis bersama Viva Westi
  • Dan lain sebagainya.
Buku Puisi
  • “M” Frustasi (1976),
  • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
  • Sajak-Sajak Cinta (1978),
  • Nyanyian Gelandangan (1982),
  • 102 Untuk Tuhanku (1983),
  • Suluk Pesisiran (1989),
  • Lautan Jilbab (1989),
  • Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
  • Cahaya Maha Cahaya (1991),
  • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
  • Abacadabra (1994),
  • Syair-syair Asmaul Husna (1994)
Buku esai
  • Dari Pojok Sejarah (1985),
  • Sastra Yang Membebaskan (1985)
  • Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
  • Markesot Bertutur (1993),
  • Markesot Bertutur Lagi (1994),
  • Opini Plesetan (1996),
  • Gerakan Punakawan (1994),
  • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
  • Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
  • Slilit Sang Kiai (1991),
  • Sudrun Gugat (1994),
  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
  • Bola- Bola Kultural (1996),
  • Budaya Tanding (1995),
  • Titik Nadir Demokrasi (1995),
  • Tuhanpun Berpuasa (1996),
  • Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997),
  • Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997),
  • Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
  • 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
  • Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998),
  • Kiai Kocar Kacir (1998),
  • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (Penerbit Zaituna, 1998),
  • Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999),
  • Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
  • Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
  • Menelusuri Titik Keimanan (2001),
  • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
  • Segitiga Cinta (2001),
  • Kitab Ketentraman (2001),
  • Trilogi Kumpulan Puisi (2001),
  • Tahajjud Cinta (2003),
  • Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun (2003),
  • Folklore Madura (Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress),
  • Puasa Itu Puasa (Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress),
  • Syair-Syair Asmaul Husna (Agustus 2005, Yogyakarta; Penerbit Progress)
  • Kafir Liberal (Cet. II, April 2006, Yogyakarta: Penerbit Progress),
  • Kerajaan Indonesia (Agustus 2006, Yogyakarta; Penerbit Progress),
  • Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006; Penerbit Kompas),
  • Istriku Seribu (Desember 2006, Yogyakarta; Penerbit Progress),
  • Orang Maiyah (Januari 2007, Yogyakarta; Penerbit Progress,),
  • Tidak. Jibril Tidak Pensiun (Juli 2007, Yogyakarta: Penerbit Progress),
  • Kagum Pada Orang Indonesia (Januari 2008, Yogyakarta; Penerbit Progress),
  • Dari Pojok Sejarah; Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib (Mei 2008, Yogyakarta: Penerbit Progress)
  • DEMOKRASI La Raiba Fih (cet ketiga, Mei 2010, Jakarta: Kompas) dan lain sebagainya.(oleh edy arif tirtana. Dikutip dari berbagai sumber)

Senin, 26 Maret 2012

PROFIL W S RENDRA

W S RENDRA

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau W S Rendra yang berjuluk Burung Merak terlahir di Solo, 7 November 1935. Putra dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu.

Rendra sebagai sastrawan
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya, piawai di atas panggung mementaskan beberapa dramanya dan tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Pada tahun 1952 ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.
“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Bengkel Teater
Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

Penelitian tentang karya Rendra
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974″. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957-1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Kontroversi Pernikahan, Masuk Islam dan Julukan Burung Merak
Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.
Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.
Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.
Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

Beberapa karya Dramanya: Orang-orang di Tikungan Jalan (1954), Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata), SEKDA (1977), Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 2 kali), Mastodon dan Burung Kondor (1972), Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali, Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama), Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul “Oedipus Rex”), Lisistrata (terjemahan), Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles, Antigone (terjemahan dari karya Sophokles), Kasidah Barzanji (dimainkan dua kali), Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan dari karya Jean Giraudoux asli dalam bahasa, Prancis: “La Guerre de Troie n’aura pas lieu”), Panembahan Reso (1986), Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali) dan lain sebagainya.
Beberapa karya Sajak/Puisinya antara lain: Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak), Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Jangan Takut Ibu, Mencari Bapak, Nyanyian Angsa, Pamphleten van een Dichter, Perjuangan Suku Naga, Pesan Pencopet kepada Pacarnya, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Rendra: Ballads and, Blues Poem (terjemahan), Rick dari Corona, Rumpun Alang-alang, Sajak Potret Keluarga, Sajak Rajawali, Sajak Seonggok Jagung, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, State of Emergency, Surat Cinta dan lain sebagainya. 
Beberapa Penghargaan yang diterimanya: Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari, Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996), Penghargaan Achmad Bakri (2006) dan lain sebagainya. (oleh edy arif tirtana. diambil dari berbagai sumber)