Rss Feed
Rss Feed

Senin, 27 Februari 2012

TIKO DAN KERANJANG BAYIKU


Hari libur yang membosankan. Saat teman-teman yang lain berwisata, aku malah dipaksa menjaga rumah. Hanya ada aku dan kucing peliharaanku, Tiko namanya. Mama dan Papa pergi ke luar kota. Katanya sih sampai nanti malam. Entah apa alasannya sampai aku tidak boleh ikut berwisata dengan teman-teman. Janji Papa dan Mama, aku besok akan di ajak ke Karimun Jawa. Tapi entahlah, aku kesepian sekarang.
Mentari mulai meninggi, tapi aku masih berbaring di atas tempat tidur. “Membosankan.” Gumamku. Kupandangi kipas angin yang semalaman berputar-putar mendinginkan kamar. Muncul di pikiranku sebuah pertanyaan. “Apa kipas itu tidak bosan terus berputar seperti itu? Kasihan sekali dia.” Aku tersenyum sendiri.
Tiba-tiba lampu di kamarku padam. Juga kipas angin, putarannya semakin pelan dan mendadak berhenti. “Aduh listrik padam pasti, kesepian yang sempurna. tidak bisa main PS, nonton TV. Ini hari lMamar atau malah hari terkurung nasional.” Gumamku dalam hati.
“Tiko…Tiko…Tiko.” Aku berteriak memanggil kucingku. Masih dalam posisi terbaring di tempat tidur. “Meong Meong…” Tak lama, terdengarlah suara Tiko mendekat. Ia meloncat tepat di atas tubuhku yang masih tertutup selimut. “Meong meong meong.” Bulu ekornya berdiri. “Ada apa Tiko.’ Aku coba berbicara pada Tiko. Aku elus kepala sampai ekornya, eh malah ia menggigit tanganku. Sakit sekali. Ku pukuli kepalanya. Tidak takut, ia malah balas menggigitku lebih keras. Rasa sakit itu membuatku berdiri dan siap berduel dengan Tiko. Tapi melihat aku berdiri, Tiko lari keluar kamar.
Aku kejar Tiko sampai gudang belakang. Ia terus berlari kencang dan meloncat ke atas almari. “Terjebak kau sekarang.” Biskikku dalam hati. Merasa terancam, Tiko malah menggoyang-goyang almari tua itu. aku yang berada di bawahnya merasa takut dan khawatir bila almari itu roboh dan menimpaku. Ternyata benar, almari reot itu roboh dan isinya berserakan kemana-mana. “Untung saja aku cepat menghindar.” Bisikku dalam hati. Tiko berlari lagi entah kemana hingga aku tak bersemangat lagi mengejarnya.
 “Dasar Tiko, selalu meberiku kesulitan. Kalau sampai Mama datang almari ini belum rapi, kan aku pasti yang dimarahi.” Sedikit demi sedikit kurapikan isi almari yang berserakan tadi. Ku pandangi almari itu. “besar sekali, aku pasti tidak kuat mengangkat almari ini sendiri.” Pikirku. Lalu kupilih merapikan saja isinya yang berserakan.
Kutemukan sebuah keranjang yang kelihatannya tak asing lagi bagiku. Coba aku ambil keranjang itu dan kubuka. “Aha, aku ingat.” Aku tertawa sendiri. Ternyata isi keranjang itu adalah pakaian-pakaianku saat masih bayi. Isi keranjang itu membawa ingatanku sembilan tahun yang lalu, saat aku belum bisa berjalan dan masih minum air susu Mama.
Satu persatu isi keranjang itu seolah berbicara dan membuka kenanganku dulu sewaktu masih bayi. Ku pegang sepatu kecil yang sekarang hanya muat untuk tiga jari tanganku. Kupandangi, dan ia seolah memperlihatkan  bagaimana aku dulu berlatih berjalan. Dengan semangat, meski berkali-kali jatuh bangun aku selalu mencoba. Mama selalu memberiku semangat dan menyayangiku selalu. Sepatu kecil ini mengingatkanku pada semangat untuk bisa dan kasih sayang Mama dan Papa. “Mengapa aku sekarang bermalas-malasan dan mudah putus asa?” Tanyaku dalam hati. Aku terharu saat itu.
Lalu ku ambil lagi popok yang dulu dipakaikan Mama padaku. Seakan popok itu berbicara “Akulah yang menjadi saksi betapa Mama dan Papamu begitu sayang padamu, mereka relakan malamnya untuk hanya sekedar menjagamu. Meski berkali-kali kau menggigit mereka. Tapi kasih sayangnya padamu tak ada surutnya.” Aku menangis terharu. Popok ini mengingatkanku pada kasih sayang Mama dan Papa yang tak ada habisnya.
Tak ingat lagi hari membosankan ini, aku malah menangis sesenggukan. “Terimakasih Mama. Terimakasih Papa.” Bisikku dalam hati. Air mataku masih mengalir. Sambil mengemasi barang-barang yang masih berserakan tadi. “Ya Allah sayangilah Mama dan Papaku, lindungilah mereka dari segala bahaya. Amin.

 “Meong meong meong.” Terdengar suara kucing sangat dekat. “Tiko!” Aku terkejut. Selanjutnya kuraih dan kuelus-elus kepalanya. “Terimaskih Tiko, kau membawaku teringat tentang hal-hal yang sangat berharga.” Bisikku pada kucingku itu. “Meong.” Seolah ia menjawab. “Sebagai rasa terimakasih, akan kubuatkan susu dan kubelikan daging untukmu. Oke?” “Meong meong.” Tiko mengiyakan.
“Terikasih Tiko. Terimaksaih keranjang balitaku. Terimakasih Mama dan Papa. I love You forever. Aku akan terus bersemangat.” Aku tersenyum.  
Edy Arif Tirtana

Poskan Komentar