Rss Feed
Rss Feed

Rabu, 06 November 2013

RAKA MENJADI ROBOT

-Sambil terus menggigil wanita itu berkata, “Ibu tidak pernah menginginkanmu menjadi Robot Raka. Kamu harus menjadi manusia yang bisa mengendalikan robot. Kamu harus menjadi manusia anakku. Ingatlah saat kau sakit, siapa yang merawatmu? Ingatlah ketika kau tidak berani ke kamar mandi, siapa yang mengantarmu? Hanya ibu.” -

RAKA MENJADI ROBOT 

Sangat ramai. Banyak anak usia belasan tahun berkerumun di Pendopo Kantor Gubernur. Sebagian kecil dari mereka mondar-mandir menikmati pemandangan sekeliling. Tapi berbeda, mereka yang berkerumun nampak tegang. Seperti menunggu sesuatu yang sangat penting.

“Setelah tiga dewan juri melakukan penilaian secara teliti dari berbagai kategori, maka kami akan mengumumkan siapa juara Olimpiade Robotic Piala Gubernur tahun ini.” Semua terdiam. Wajah mereka lebih tegang dari sebelumnya. 


“Juara Olimpiade Robotic tahun ini adalah Raka Majid, putra dari Bapak Ir. Abdul Majid dan ibu Endah Susianti.” 


Tepuk tangan bergemuruh sangat keras. Terlihat Raka dan Ibunya maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Ia menerima piala dari Bapak Gubernur. Pialanya sangat besar. Wajah ibu dan anak itu berbinar penuh rasa bangga dan bahagia.
 

Setelah mereka turun dari panggung, banyak orang berebut mengucapkan selamat, bersalaman dan menciumi Raka. Siang yang sangat mengesan. Semua nampak ceria, terutama Raka yang menjadi juara Olimpiade Robotic saat itu.

###

Memang sejak kecil bakat Raka sudah terlihat. Saya yang menjadi tetangganya tahu benar perkembangan anak itu. Raka selalu lebih pandai dari teman-temannya dalam berbagai pelajaran. Raka adalah anak yang sangat cerdas dan terampil. Di sekolahnya, ia selalu mendapat juara satu.

Saya sangat memaklumi kemampuan dan kecerdasan Raka. Ia terlahir dari keluarga yang terdidik. Ayahnya seorang insinyur muda, sedangkan ibunya seorang guru. 


Pendidikan Raka sangat diperhatikan. Ia terdaftar di sekolah favorit, ia juga mengikuti kelas Olimpiade bidang robotic. Di zaman sekarang memang banyak sekolah favorit yang membuka kelas khusus Olimpiade.     


Raka memiliki segalanya. Kekayaan, kepandaian, perhatian dan kasih sayang orang tua. Semua ia dapatkan dengan sempurna. Nyaris tidak ada yang kurang sedikit pun.

###

Seminggu setelah penerimaan penghargaan, hari-hari Raka bertambah sibuk. Kegemarannya merangkai-rangkai robot bertambah besar. Sehari-hari ia bermain dengan bagian-bagian robot dan mobil-mobilan. Seperti seorang profesor yang sedang melakukan penelitian, ia sangat asyik dengan robot-robot hasil rangkaiannya itu dan kadang sampai lupa waktu.


Keasyikan bergaul dengan robot-robot, Raka hampir melupakan segalanya. Setiap hari ia tak bosan-bosan merangkai, merangkai dan merangkai robot. Sudah banyak rangkaian robot yang ia ciptakan. 


Raka begitu menyayangi rangkaian-rangkaian robotnya. Semuanya ia pajang dalam almari kaca khusus di ruang tamu. Tidak lupa ia rawat setiap harinya. Ia selalu membersihkan dan melakukan semprot khusus anti karat. Semua robot rangkaiannya terlihat mengkilap.


Jika ia sedang asyik dengan robot-robot nya, tidak ada yang bisa mengganggu, termasuk Ibu dan Ayahnya. Ia juga tidak bisa dimintai tolong siapa pun barang sebentar. Pernah ia dimintai tolong ibunya untuk membelikan obat masuk angin. Tapi ia menolak dengan semena-mena. 


“Aku sedang merangkai robot bu, aku tidak punya waktu untuk membelikan obat.”


“Tolonglah Raka, ibu sedang masuk angin. Seluruh tubuh ibu terasa sakit.”  Wanita muda itu makin menggigil. 


“Bukannya ibu dan ayah yang menyuruhku belajar dan menyukai robot-robot. Sekarang Raka sudah suka, tapi Ibu malah mengganggu.” Raka tetap acuh. Ia terus mengotak-atik robot-robot ciptaannya. 


Sambil terus menggigil wanita itu berkata, “Ibu tidak pernah menginginkanmu menjadi Robot Raka. Kamu harus menjadi manusia yang bisa mengendalikan robot. Kamu harus menjadi manusia anakku. Ingatlah saat kau sakit, siapa yang merawatmu? Ingatlah ketika kau tidak berani ke kamar mandi, siapa yang mengantarmu? Hanya ibu.” 


“Raka tidak menjadi robot ibu.” Raka memandang ibunya manja. 


“Tapi kamu dikendalikan robot. Kamu kalah oleh robot-robotmu sendiri Raka.”


“Iya, ma’af kan Raka ibu. Tapi Raka tetap tidak bisa. Nanti saja ya, kalau Raka sudah selesai merangkai robotnya. Pasti akan raka belikan.” Jawab Raka.


Biar pun ibu kecewa, tapi ia tidak akan mengeluarkan kutukan seperti ibunya malin kundang. Ibu Raka tidak akan mengutuk Raka menjadi batu. Ia hanya bisa berdoa semoga Raka tidak menjadi robot untuk selamanya. 



edy arif tirtana

Posting Komentar