Rss Feed
Rss Feed

Rabu, 06 Februari 2013

SERAT TRIPAMA



PENDAHULUAN

Mengapa tokoh wayang Karna dijadikan sebagai teladan oleh Tripama (Sri Mangkang), sedangkan ia ikut golongan angkara? Dan siapakah yang menjadi tokoh teladan dalam Tripama yang benar-benar bisa dapat dikatakan sebagai satria dan prajurit utama?

Hampir boleh dikatakan, bahwa setiap orang asli Solo tentu mengetahui siapa yang dimaksud dengan Tripama. Tripama adalah penampilan tiga tokoh yang patut dan dianjurkan untuk dijadikan teladan bagi orang yang ingin mengabdikan diri dalam bidang keprajuritan dan keperwiraan. Tokoh wayang tersebut adalah Mahapatih Sumantri dari Maespati, Mahawira Kumbakarna dari Alengka, dan Adipati Basukarna dari Astina (Karsono Saputra. 2005: 115).

PEMBAHASAN

Sri Mangkunegara IV di Surakarta meninggalkan  warisan utama bagi bangsa ini berupa Serat Tripama. Serat ini menceritakan tentang tiga tauladan  utama keprajuritan dan warga negara yang  tolol mengabdi hidup dan perjuangannya di garisnya masing-masing. Dalam serat ini dibahas tiga tokoh utama yang patut dijadikan  teladan bagi orang yang ingin mengabdikan diri dalam bidang keprajuritan dan kewiraan. Serat ini juga dikatakan sebagai serat yang ditujukan kepada prajurit. Tokoh-tokoh yang dimaksud adalah Sumatri dari Maespati, Mahawira Kumbakarna dari Alengka dan Adipati Basukarna dari Astina (Purwadi, 2006: 395)

Mahawira Kumbakarna dari Alengka
Raden Kumbakarna merupakan adik raja Alengka, Prabu Dasamuka. Raden Kumbakarna bertubuh raksasa ‘buta’, tetapi berjiwaluhur. Sifat-sifat cinta tanah air dan perjuangannya tergambar dalam tembangan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994: 113) berikut ini:

Wonten malih tuladha prayogi
Satriya gung negari ing Alengka
Sang Kumbakarna arena
Tur iku warna ditya
Supradene nggayuh utami
Duk wiwit prang Alengka
Dennya darbe atur

Maring saka amrih raharja
Dasamuka tan keguh ing atur yekti
Dene mungsuh wanara
Kumbakarna kinen mangsah jurit
Mring kang raka sira pan nglenggana
Nglungguhi kasatriya
Ingtekaddatan sujud
Amungcipta labuh negeri
Myang Leluhuripun
Wusmukti aneng Alengka
Mangka arsarinusak ing balakapi
Punapi matingrana

Kumbakarna perang melawan prajurit kera, tidak bermaksud membela kakaknya (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994: 235). Dia sangat tidak setuju idiologi dan kepribadian Dasamuka. Kumbakarna selalu mengingatkan kakaknya untuk menyerahkan Dewi Sinta yang telah kakaknya culik dari Rama. Walaupun tidak sepaham denga kakaknya yang sekaligus sebagai rajanya, Kumbakarna tetap maju ke medan perang. Dia berperang hanya semata-mata menjalankan kewajiban sebagai satria dan warga negara.

Disinilah kitab ia melihat rasa nasionalisme yang dEmilikian Kumbakarna. Sifat seperti ini mungkin juga tercermin dengan istilah wrong right my country, benar salah adalah negeriku. Apa pun alasannya, tanah tumpah darah harus dibela (Purwadi, 2006: 398), mengingat di sinilah orang tua, leluhur dan kita dilahirkan, dibesarkan  dan kelak dikubur.

Adipati Basukarna dari Astina
Adipati Karna adalah putra Dewi Kunti dengan Batara Surya. Oleh sebab itu ia juga disebut dengan Surya tamaja atau Surya putra. Sedangkan Dewi Kunthi dengan Prabu Dewanata menurunkan Punta dewa, Werkudara dan Arjuna. Berdasarkan silsilah di atas ternyata Adipati Kumbakarna masih bersaudara dengan Pandawa. Namun saat besar dia mengabdikan dirinya pada Negara Astina. Sifat kepribadiannya di gambarkan pada tembang berikut:

Wonten maleh kinarya palupi
Surya putra Narpati Ngawangga
Lan pendawatur kadange
Lanyayah tunggil ibu
Suwitramring Sang Kurupati
AningnagriNgatina

Kinaryagulagul
Manggalagolonganing prang
Bratayudaingadekensenapati
NgalagaingKurawa

SuwandadariMaespati
Patih Suwandara dalam melaksanakan tugasnya selalu menepati atau menempatkan dirinya sebagai orang yang mempunyai sifat-sifat utama, yaitu sifat ksatria (trah utama). Gambaran orang semacaminiadalah orang yangselalumelaksanakantugasnya,dapatmencariakaluntukmemecahkanmasalah.Dilukiskan pula bahwa Patih Suwandara tidak mau mengambil harta rampasan dari Negara yang ditaklukannya, melainkan harta tadi diberikan kepada Negara. Inilah yang disebut kaya didalam diri Patih Suwandara.

Ia juga tidak takut mati dalam peperangan membela Negara, bangsa dan rajanya (Departemen Pendidikandan Kebudayaan, 1994: 112).
Hal ini dilukiskan dalam tembang sebagai berikut:

Yogyanira kang para prajurit
Lamun bisa sira anulada
Duk ingune caritane
Andelira Sang Prabu
Sasrabahu ing Maespati

Aran Patih Suwanda
Lalebuhanipun
Kang ginelung tri pakara
Guna karya purun ingkang dan antepi
Nuhoni trah utama

Lire lelabuhe tri prakawis
Guna; bisa saniskareng karya
Budi dadya nanggule
Kaya; sayektinipun
Duk bantu prang Magada Nagri
Amboyong putri dhomas
Katur ratunipun
Purune sampun tetela
Aprang tandhing lan ditya  Ngalengka nagri
Suwandra mati ngrana

Terjemahan:

Sayogayanya wahai prajurit
Tirulah sebisa-bisanya
Cerita dizaman dahulu
Yakni tangan kanan Sang  Prabu
Sasrabahu dari  Maespati
Yng bernama Patih Suwandra
Bekal mengabdinya
Meliputi tiga hal
Guna, karya dan purun yang selalu dipegang
Sebagai seorang manusia utama
Adapun ketiga bekal pengabdian itu

Guna; berartiserba bisa
Berusaha untuk selalu berhasil
Karya; sesungguhnya
Ketika menjadi panglima perang
Melawan Negeri Maganda
Ia sukses memboyong  putri domas
Kemudian dihaturkan kepada rajanya
Purun; jelas ketika bertempur melawan raksasa Alengka
Suwanda gugur di medan laga

Dari syair-syair di atas,dapat  menemukan tiga sifat keprajuritan Patih Suwanda, antara lain:
1.   Guna berarti ahli, pandai dan terampil dalam mengabdi kepada bangsa dan negaranya. Suwanda selalu membekali diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan. Dia bekerja tidak asal-asalan agar segalanya bisa sukses.
2.   Kaya berarti serba kecukupan. Sewaktu Patih Suwanda diutus oleh raja, dia kembali memperoleh harta rampasan tidak disimpan sendiri, tetapi diserahkan kepada negara.
3.   Purun berarti pemberani, bersemangat dan dinamis sebagai pemuka negara. Suwanda selalu tampil semangat menyala-nyalatanpa disertai pamrih. Bahkan jika perlu jiwa raganya pun dikorbankan.

Serat Tripama diakhiri dengan sebuah tembang Dhandhanggula (Purwadi, 2004: 400), sebagai berikut:

Katrimangkasudarsanengjawi
Pantessagungkangparaprawira
Amiridasakadare
Lung lelabuhipun
Ajwakongsibuangpalupi
Manawa sibengnist

Ingestinipun
Senadyansekadhingbuda
Tan prabedabudipandumingdumadi
Marsudiingkotaman

Terjemahan:

Ketiganyabuatcontoh orang Jawa
Pantassekalianparaperwira
Menirulahsebisanya
Dalamhalpengabdian
Jangansampaimembuangtauladan
Jikaterjatuhdalamkenistaan
Hinasebenarnya
Walaupuntekadajamandahulu
Tiadabedabudimasing-masingmanusia
Jalanmencarikebenaran

Pesan Dalam Serat Tripama
  1.  Tiap-tiap warga Negara mempunyai kewajiban membela tanah airnya
  2. Ajaran tentang cintatanah air dan wajib bela Negara itu juga bisa kita temu dalam ungkapan-ungkapan tradisional
  3. Dalam menila isuatu hal kita perlu cermat dan hati-hati, harus bisa membedakan baik buruknya secara tepat
  4. epentingan bangsa dan Negara harus lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi dan golongan
  5. Demi kepentingan bangsa dan Negara kita melakukan dengan sepenuh hati
  6. Seseorang akan tumbuh sikap hidup jika selalu memperlakukan orang lain secara manusiawi (Dhanu PriyoPrabowo, 2003: 44).




DAFTAR PUSTAKA
DepartemenPendidikandanKebudayaan.Nilai-nilaiBudayaSusastra Jawa.1994.
Mulyono,Sri.TripamaWatakSatriadanSastraJendral.Gunung Agung:Jakarta.1978.
PriyoPrabowo,Dhanu.Pengaruh Islam DalamKarya-karyaR.Ng. Ronggowarsito. Narasi:Yogyakarta.2003.
Purwadi.KitabJawaKuno.Dalam Terbitan:Yogyakarta.2004.
PusatPembinaandanPengembanganBahasaDepartemenPendidikandan Kebudayaan:Jakarta.1994.
Saputra,Karsono.BahasadanSastraJawa.WedatamaWidya Sastra:Jakarta.2005.

Disusun oleh Ichwanus Solichiyah
Posting Komentar