Rss Feed
Rss Feed

Sabtu, 24 Maret 2012

BURUNG-BURUNG CAMAR YANG INGKAR

3 puisi edy arif tirtana


SRT
“Kata kaum terpelajar, supaya negara kuat, rakyat harus lemah.Dan kami tidak ingin mengatakan bahwa agar rakyat kuat negara harus lemah,sebab kami tidak mencita-citakan kerusakan yang sama. Kami hanya memimpikan tawar menawar yang seimbang untuk pemerataan dan kesepadanan” 
karena ini sajak pak, jangan dengar dengan mata mblalak.katanya, panorama langit kicau burung dan hembusan sepoi yang berjalan. tapi sekarang ada bintang-bintang. ini malam bukan siang. ada bangunan tanpa tujuan. kadang ratapan,tangisan, makian, pahlawan, kesombongan, sentilan, kegembiraan.
apa kata empunya langit kalau kau bukan pahlawan. maka, mari keluarkan isi perut yang busung dengan angin, yang nggroga’ tanpa air.
katanya, kita tercipta bukan sama tapi untuk bersama dan bukan sama tanpa satu bukan bersama. ini bukan hutan kawan. kita bukan malaikatan, hewan ataupun setan.
Katanya, kalau ingin ilang rasa, ya ilangkan hati
tapi mimpi, mimpi itu bukan tidur. Selamat pagi
Ngaliyan, 9 September 07

TUNGGU TERBIT SIANG WAKTU HUJAN
lingkaran hitam pasak ruang gerak
banyak semak meski siang beriak
dan aku tetap diam tunggu terbit siang waktu hujan
itukah ujian Tuhan...
sepoi menelusup dalam pori
menghempas pengap tanpa harap
itu dirinya. anak kecil itu tetap ceria
sedag aku, tetap diam tunggu terbit siang waktu hujan
haruskah tanganku hilang tumbal hapusan takdir hujan?
mentari bersinar biar ke seluruh kawasan
biar mentari biaskan merah ,biru, hijau
pink, jingga pada putih , hitam dan kelam
karena engkaulah Tuhan dan aku bukan
hanya Tuhan
Tuhan
Limbangan, 9 Juni 07

BURUNG-BURUNG CAMAR YANG INGKAR
Burung-burung camar terus melayang di udara
Mengikuti arah angin sesekali melawanya
Mereka mencumbu beribu-ribu partikel dan debu
kadang pula mereka tantang matahari
Berjuta-juta burung camar setiap tahun terlahirkan.
Di tahun selanjutnya, mereka ingkar dengan nasibnya
Mereka jemu, dan hinggap di dahan-dahan pohon mengintip manusia yang sedang merenung, berpikir, dan mencipta. Mereka melihat pemuda menggapai-gapai ruang yang kosong sedang yang lainnnya, asyik menimang-nimang strategi dengan tujuan yang kosong pula. Orang-orang tua sibuk berbicang tentang strata-strata nasib dan bagaimana mereka bisa aman dari kematian. Kemudian satu persatau mereka tergelepar dalam gundukan tanah yang terhampar.
Ngaliyan, 9 Juni 07

Posting Komentar