Rss Feed
Rss Feed

Kamis, 10 Mei 2012

HARMONISASI DAKWAH DAN MEDIA MASSA

DakwahSecara etimologis, dakwah berasal dari bahasa Arab da’a ,(دعا) yad’u (يدعو), da’wah (دعوة) yang berarti panggilan, ajakan, atau seruan. Arti kata tersebut berkesesuaian dengan ayat-ayat Al-Qur’an tentang dakwah, yaitu Al Quran Surat Ali Imran: 104. 
Artinya: “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
Dalam Al Quran Surat Yunus: 25.
Artinya: “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus(Islam)”.
Dalam Al Quran Surat An-Nahl : 125.
 Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Secara terminologis, dakwah mengandung pengertian menyeru manusia berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar mereka mendapat kebahagian dunia dan akhirat. Menurut tiga ayat al-Qur’an di atas juga tidak ada perintah berbuat dakwah dengan cara kekerasan. Itu menunjukkan bahwa Islam memang diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (M. Munir, 2006: 215).
Terdapat berbagai pandangan Ulama tentang pengertian dakwah secara istilah. Menurut Mansyur Amin, dakwah merupakan suatu aktifitas yang mendorong manusia memeluk agama Islam melalui cara yang bijaksana dan dengan materi ajaran Islam. Akktifitas dakwah tersebut dilakukan agar mereka mendapat kesejahteraan kini (dunia) dan kebahagiaan nanti di akhirat (Mansyur Amin, 1997: 2).
Tidak begitu berbeda dengan Mansyur Amin, A. Hasjmy mengartikan dakwah sebagai sebuah upaya mengajak manusia untuk mengerjakan dan mengikuti petunjuk Allah SWT. Menyeru mereka berbuat baik dan melarang berbuat jelek agar mendapatkan bahagi di dunia dan di akhirat (Hasanuddin, 1996: 28).
Sedangkan Sri Astutik menganggap bahwa dakwah pada hakikatnya merupakan upaya aktif dan progresif yang dilakukan oleh seorang da'i, baik individu maupun kolektif dalam upaya menyampaikan ajaran Islam kepada umat yang dilakukan dengan metode dan media tertentu (cara dan sarana dakwah) agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Sri Astutik, 2000: 40-41).
Dakwah juga dapat diartikan sebagai upaya untuk mengajak dan menyeru umat manusia, baik perorangan maupun kelompok kepada agama Islam sebagi pedoman hidup yang diridloi Allah SWT. Ajakan tersebut dapat diwujudkan dengan berbagai cara. Dapat mnggunakan seruan dengan lisanul maqal (cara lisan) maupun lisanul khal (perbuatan, sebagai contoh) guna mencapai kebahagiaan hidup kini di dunia dan nanti di akhirat (Zaini Muchtarom, 1997: 14).
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh Ulama di atas, maka dapat dikatakan bahwa dakwah merupakan suatu upaya untuk menyeru, mengajak, memanggil maupun mengundang obyek dakwah (sasaran dakwah) yang dilakukan baik secara individual maupun terorganisir, dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan kondisi obyek dakwah guna mencapai tujuan dakwah, yaitu terwujudnya suatu tatanan kehidupan yang diridhoi Allah SWT. yaitu kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain itu, dakwah juga mengandung proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam yang bertumpu pada amar makruf nahi munkar. Transformasi disini merupakan sebuah paradigma yang mengandung dua dimensi strategis, yaitu dimensi konsepsional normatif dan aksiologi praktis, sebab dakwah bukan saja berupa pemahaman nilai keyakinan dan doktrin, akan tetapi lebih bertitik berat pada praktek keseharian.

Komponen-Komponen Dakwah
Sebagaimana amal ibadah yang lain, dakwah juga memiliki komponen-komponen penyusun. Antara komponen yang satu dengan komponen yang lain mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi. Berikut adalah komponen-komponen dakwah tersebut:
1.    Subyek Dakwah
Subyek dakwah merupakan orang yang menyampaikan pesan-pesan dakwah dan biasa disebut dengan istilah juru dakwah atau dai dan ada pula yang menyebutnya komunikator dakwah. Penyampaian pesan–pesan dakwah bisa dilakukan oleh perseorangan (individual) dan bisa juga oleh kelompok ataupun organisasi.
Hafi Anshari (1993: 104-105) mengemukakan bahwa keberadaan dai sangat menentukan keberhasilan dakwah, sebab kondisi masyarakat muslim di Indonesia pada umunya masih bersifat paternalistik yakni masih sangat tergantung dengan sosok seorang figur atau tokoh. Oleh karena itu, visi seorang dai, karakter, keluasan, kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, kredibilitas, kapabilitas, akseptabilitas dan sikap-sikap posistif lainnya sangat menentukan keberhasilan seorang da’i  dalam menjalankan tugas dakwah. Inilah salah satu aspek yang ditunjukkan oleh Rasullulah SAW. di hadapan umatnya sehingga beliau mendapatkan keberhasilan yang gemilang dalam menjalankan tugas dakwah.
2.    Obyek Dakwah
Obyek dakwah atau mad’u dan dapat disebut juga komunikan adalah manusia yang secara individual atau apapun kelompok menerima pesan-pesan dakwah. Keberadaan objek dakwah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dakwah seorang da’i. Apabila seorang da’I melakukan kesalahan dalam menganalisis dan merespon keadaan atau situasi yang dialami oleh objek dakwah, maka yang terjadi adalah tidak tercapainya tujuan dakwah secara maksimal.  
Oleh karena masyarakat yang menjadi sasaran dakwah sangat heterogen dan memiliki pluralitas yang sangat tinggi dalam berbagi aspek, baik segi usia, jenis status sosial, tingkat ekonomi, jenis profesi, tradisi masyarakat, aspirasi politik dan keragaman aspek-aspek lainnya, maka seorang dai dituntut untuk memiliki kepekaan dan daya kreatif untuk mendeteksi dan merespon kondisi sosial riil masyarakat yang akan dihadapi.
Dalam hal ini maka seorang da’i sebelum terjun kelapangan untuk berhadapan dengan objek dakwah, setidaknya sudah mengetahui keberadaan objek dakwah melalui informasi-informasi yang diperoleh. Setelah itu baru dirumuskan metode dan materi dakwah yang akan disampaikan.
3.    Materi Dakwah
Materi dakwah adalah suatu pesan yang disampaikan oleh da’i kepada mad’u yang mengandung kebenaran dan kebaikan bagi manusia yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Dengan demikian materi dakwah merupakan inti dari dakwah itu sendiri. Oleh karenanya hakikat materi dakwah tidak dapat terlepas dari tujuan dakwah.
Tujuan dakwah merupakan upaya pengaktualisasian pesan-pesan dakwah yang ingin dicapai dari aktifitas dakwah yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari guna terwujudnya tujuan dakwah, yaitu membumikan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama Islam demi terciptanya sebuah tatanan kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT.
Asmuni Syukir membagi tujuan dakwah menjadi dua macam, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dakwah adalah mengajak manusia, meliputi orang mukmin maupun orang kafir atau musyrik kepada jalan yang benar dan diridloi Allah SWT. agar hidup bahagia di dunia maupun di akhirat.
Sedangkan tujuan khusus yaitu mengajak umat manusia yang sudah memeluk agama Islam untuk selalu meningkatkan taqwanya kepada Allah SWT. (Asmuni Syukir, 1983: 15-18).
4.    Media Dakwah
Media dakwah merupakan salah satu unsur yang sangat penting diperhatikan dalam aktivitas dakwah. Sebab sebagus apapun metode, materi dan kapasitas seorang dai tanpa didukung dengan sebuah media yang tepat seringkali hasilnya kurang efektif.
Aminuddin Sanwar (1986: 77-78), secara rinci membagi media dakwah ke dalam enam macam, yaitu:
a.    Dakwah melalui saluran lisan, yaitu dakwah secara langsung dimana dai menyampaikan ajakan dakwahnya kepada mad’u.
b.    Dakwah melalui saluran tertulis, yaitu kegiatan dakwah yang dilakukan melalui tulisan-tulisan.
c.    Dakwah melalui alat visual, yaitu kegiatan dakwah yang dilakukan dengan melalui alat-alat yang dapat dilihat dan dinikmati oleh mata manusia.
d.    Dakwah melalui alat audio, yaitu alat yang dapat dinikmati melalui perantaraan pendengaran.
e.    Dakwah melalui alat audio visual, yaitu alat yang dipakai untuk menyampaikan pesan dakwah yang dapat dinimati dengan mendengar dan melihat.
f.     Dakwah melalui keteladanan, yaitu bentuk penyampaian pesan dakwah melalui bentuk percontohan atau keteladanan dari da’i.
Dari sidut yang lain, Asmuni Syukir dalam bukunya Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, membedakan media dakwah menjadi lima bagian, yaitu:
a.    Lembaga-lembaga pendidikan formal
Pendidikan formal adalah lembaga pendidikan yang memiliki kurikulum. Siswa sejajar kemampuannya, pertemuan rutin, dan sebagainya.
b.    Lingkungan keluarga
Keluarga adalah kesatuan sosial yang terdiri dari: ayah, ibu, dan anak atau kesatuan sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang masih ada hubungan darah.
c.    Organisasi-organisasi Islam
Organisasi Islam sudah tentu segala gerak organisasinya berazaskan Islam. Apalagi tujuan organisasi, sedikit banyak pasti menyinggung ukhuwah Islamiyah, dakwah Islamiyah dan lain sebagainya.
d.    Hari-hari besar Islam
Sudah menjadi tradisi umat Islam Indonesia bahwa setiap tiba hari-hari besar Islam secara seksama selalu mengadakan peringatan. Di dalam peringatan tersebut hamper dapat dipastikan mengandung pesan-pesan dakwah.
e.    Media Massa
Media massa meliputi: radio, televisi, surat kabar, tabloid,  majalah, pamphlet, leaflet dan lain sebagainya.
Merujuk pada fungsi media massa yang merupakan produk dari sebuah social institution (lembaga kemasyarakatan) yang bernama pers yang menyajikan berbagai informasi kepada masyarakat mengenai fenomena yang senantiasa terjadi di masyarakat. Maka media massa mempunyai peluang yang sangat besar untuk memainkan peranannya sebagai media dakwah.
Dalam upaya mewujudkan media massa sebagai media dakwah tersebut, maka di samping dalam menyajikan informasi harus bersifat jujur, mendidik dan amanah serta berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits. Itulah yang membedakan media massa yang berbasis dakwah dan umum (R. Agus Toha Kuswata & Kuswara Suryakusuma, 1990: 102).
5.    Metode Dakwah
Metode dakwah adalah cara yang ditempuh oleh subyek dakwah dalam melaksanakan tugasnya berdakwah (Anshari, 1983: 158). Sudah barang tentu dalam berdakwah diperlukan cara-cara tertentu supaya dapat mencapai tujuan dengan baik, untuk itu bagi seorang subyek perlu melihat kemampuan yang ada pada dirinya dan juga melihat secara benar terhadap obyek dalam segala seginya. Dari sumber metode–metode yang merupakan operasionalisasinya yaitu dakwah dengan lisan, tulisan, seni dan bil hal (Bachtiar, 1997: 34).
a.    Metode Dakwah Persuasif
Menurut persepsi William J. McGuire (dalam Jumantoro, 2001: 149), persuasi diartikan sebagai tujuan mengubah sikap dalam dan tingkah laku orang baik dengan tulisan ataupun ucapan. Oleh karenanya dakwah persuasif dapat diartikan sebagai upaya merealisasikan ajaran Islam dalam segala segi kehidupan manusia, baik dengan dakwah billisan (pidato, khutbah dan lain-lain), ataupun memanfaatkan teknologi cetak (media massa) sebagai medianya.
b.    Metode Dakwah Dengan Hikmah.
H. M Masyhur Amin (1997: 21-25) menjelaskan bahwa kata hikmah ini mengandung tiga unsur di dalamnya, yaitu:
1)     Unsur ilmu, yaitu pengetahuan tentang yang hak dan yang batil berikut ilmu tentang rahasia, faidah dan seluk beluk.
2)     Unsur jiwa, yaitu menyatunya ilmu tersebut ke dalam jiwa sebagai ahli hikmah, sehingga ilmu tersebut mendarah daging.
3)     Unsur amal perbuatan, yaitu ilmu pengetahuan yang menyatu kedalam jiwa itu mampu memotivasi diri untu berbuat. Dengan kata lain, perbuatan itu dimotori oleh ilmu yang menyatu ke dalam jiwanya. Amal perbuatan ini bisa dalam bentuk sikap dan kepribadian atau bisa juga dalam bentuk amal jariyah yang bermanfaat bagi masyarakat dan bisa dijadikan sebagai teladan.
c.    Dengan Maw’idzah Hasanah
Maw’idzah hasanah dalam berdakwah berarti memberi nasehat dengan bahasa yang baik dan dapat menggugah hati, sehingga objek dakwah dapat menerima apa yang dinasehatkan.
d.    Dengan Mujadalah
Artinya berdakwah dengan jalan mengadakan tukar pikiran yang sebaik-baiknya. Imam Al Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”, yang dikutip Amin (1997: 30) mensyaratkan antara lain agar orang-orang yang melakukan mujadalah itu, tidaklah beranggapan bahwa yang satu sebagai lawan bagi yang lannya. Tetapi mereka menganggap bahwa para peserta mujadalah itu sebgai kawan yang saling tolong-menolong di dalam mencari kebenaran.
Sementara ulama’ yang lain melalui sudut pandang yang berbeda menggolongkan metode dakwah menjadi sebelas, yaitu:
a.    Metode Ceramah (Retorika Dakwah)
Ceramah adalah suatu metode dakwah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara dari seorang da'i. Ceramah dapat pula bersifat proganda, kampanye, berpidato, khutbah, sambutan, mengajar, dan sebagainya.
b.    Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah penyampaian materi dakwah dengan cara mendorong obyek dakwah untuk menyatakan suatu hal yang belum dimengerti sementara da'inya memberikan jawaban.
c.    Debat (mujadalah)
Debat adalah metode dakwah dengan cara adu argumen.Debat yang dimaksud disini adalah debat yang baik, adu argument dan tidak tegang (ngotot) serta tidak sampai terjadi pertengkaran. Debat pada dasarnya mencari kemenangan, dalam arti menunjukkan kebenaran dan kehebatan Islam.
d.    Percakapan antar pribadi (percakapan bebas)
Percakapan antar pribadi atau individual conference adalah  percakapan bebas antara seorang da'i dengan individu-individu  sebagai sasaran dakwahnya. Percakapan pribadi ini bertujuan untuk menyampaikan pesan dakwah.
e.    Metode Demonstrasi
Yaitu berdakwah dengan cara memperlihatkan suatu  contoh, baik berupa benda, peristiwa, perbuatan, dan sebagainya. Artinya, suatu metode dakwah, dimana seorang da'I  memperlihatkan suatu atau mementaskan sesuatu terhadap sasarannya (massa), dalam rangka mencapai tujuan dakwah yang ia inginkan.
f.     Pendidikan dan Pengajaran Agama
Pendidikan dan pengajaran dapat pula dijadikan sebagai metode dakwah. Sebab dalam definisi dakwah telah disebutkan bahwa dakwah dapat diartikan dengan dua sifat, yaitu bersifat pembinaan, melestarikan dan membina agar tetap beriman dan pengembangan sasaran dakwah.
g.    Mengunjungi Rumah (silaturrahmi atau home visit)
Metode dakwah ini sangat efektif dalam rangka mengembangkan maupun membina ummat Islam, yaitu dengan cara mengunjungi rumah atau silaturrahmi atau home visit
h.    Metode Konseling
Konseling adalah penelitian timbal balik diantara dua orang individu dimana seorang (konselor) berusaha membantu yang lain(klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan masalah-masalah yang dihadapinya pada saat ini dan pada waktu yang akan datang. Metode konseling memperkuat wawancara secara individual dan tatap muka antara konselor sebagai pendakwah dan klien sebagai mitra dakwah untuk memecahkan masalah.
i.     Metode Karya Tulis
Metode ini termasuk dalam kategori dakwah bi al-qalam (dakwah dengan karya tulis). Tanpa tulisan, peradaban dunia akan lenyap dan punah. Ada hal-hal yang mempengaruhi efektivitas tulisan, antara lain: bahasa, jenis huruf, format, media, dan tentu saja penulis serta isinya. Tulisan yang terpublikasikan bermacam-macam, antara lain: tulisan ilmiah, tulisan sastra, tulisan cerita, tulisan berita, dan lainya.
j.     Metode pemberdayaan masyarakat
Salah satu metode dalam dakwah bil al-hal (dakwah dengan aksi nyata) adalah pemberdayaan masyarakat, yaitu dakwah dengan upaya untuk membangun daya dengan cara mendorong, memotifasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya dengan dilandasi proses kemandirian.
k.    Metode kelembagaan
Metode lainya dalam dakwah bil al-hal adalah metode kelembagaan yaitu pembentukan dan pelestarian norma dalam wadah organisasi sebagai instrumen dakwah untuk mengubah perilaku anggota melalui institusi umpamanya, pendakwah harus melewati proses fungsi-fungsi manajemen yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating), dan pengendalian (controling). Dalam pemaparan mengenai metode dakwah di atas dalam penggunaannya bergantung pada situasi dan kondisi. Artinya, dalam kondisi dan kebutuhan mad'u. analisa dan diagnosa terhadap kebutuhan riil mad'u menjadi kunci sukses dalam menemukan metode yang tepat untuk digunakan dalam proses penyampaian materi dakwah. Sehingga mad'u bisa cepat mencerna materi dakwah yang disampaikan melalui metode yang tepat dan handal dalam membaca kondisi riil mad'u (Asmuni Syukir, 1983: 104-162).
 
Majalah Sebagai Media Komunikasi Massa
Media massa adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan secara serentak kepada khalayak yang berbeda-beda dan tersebar di berbagai tempat. Alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu sendiri bisa berupa media cetak dan elektronik. Dimana kedua alat ini tidak lepas dari dunia pers (Asep Saeful Muhtadi & Agus Ahmad Safei, 2003: 17-18).
Tidak dipungkiri bahwa media massa merupakan produk dari pers. Dengan kata lain, pers merupakan sebutan dari suatu nama institusi sosial yang memproduksi media massa. Sedangkan fungsi media massa adalah terdiri dari dua hal penting, yaitu fungsi pendidikan (education) dan informasi. Merujuk pada penjelasan mengenai media massa, pers dan komunikasi massa, dapat disimpulkan bahwa media massa adalah media komunikasi massa yang merupakan produk dari pers yang menyajikan berbagai informasi kepada masyarakat mengenai fenomena-fenomena atau gejala-gejala sosial yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Baik yang menyangkut masalah sosial, ekonomi, budaya, politik maupun berbagai sektor kehidupan masyarakat lainnya.
Selanjutnya, media massa dan pers berperan sebagai (perantara) terjadinya proses komunikasi massa. Dengan adanya media massa setidaknya dapat diambil beberapa keuntungan. Pertama, kehadiran media massa dapat digunakan sebagai salah satu media yang mampu memberikan informasi kepada masyarakat, baik secara pendidikan, hiburan, maupun pencerahan. Kedua, kehadiran media massa di tengah-tengah kehidupan masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang cukup efektif antara berbagai lapisan masyarakat di berbagai penjuru wilayah. Ketiga, kehadiran media massa dapat difungsikan sebagai alat kontrol sosial dan control terhadap institusi pemerintah yang cukup efektif, baik dalam segi berjalannya pemerintahan maupun perpolitikan. Namun, hal tersebut dapat terlaksana dengan syarat media massa harus mampu bersikap independent. Keempat, media massa juga dapat difungsikan sebagai saranauntuk meminimalisir jumlah angka pengangguran yang ada di masyarakat. Tugas tesebut dapat dilakukan dengan cara merekrut dan memberdayakan masyarakat sebagai crew (Sumber Daya Manusia) dalam media massa yang bersangkutan. Mengingat betapa pentingnya keberadaan media massa di tengah-tengah kehidupan masyarakat, maka sudah selayaknya menjadi tugas bersama untuk melestarikan dan mengkontrol agar media massa tersebut dapat bersikap independen. kehadiran media massa sangat urgen untuk terus dilestarikan dan dikembangkan ditengah-tengah kehidupan mereka.

Majalah Sebagai Media Dakwah
Majalah (magazine) berarti a general storehouse atau gudang yang berisi beraneka ragam informasi. Atau diartikan sebagai penerbitan periodikal, maksudnya alat komunikasi yang berbentuk publikasi yang terbit berkala, umumnya seminggu sekali, sebulan sekali, atau pada waktu-waktu tertentu (Kasman, 2004: 196).
Majalah merupakan salah satu jenis dari media massa. Tidak sedikit majalah beredar dan dibaca seluruh masyarakat Indonesia. Peluang tersebut dapat diambil oleh aktifis media untuk melakukan apasaja, termasuk bisnis, iklan, pencitraan, penyampai pesan, dakwah dan lain sebagainya. Dengan alasan tersebut, maka sangat mungkin jika para da’i memanfaatkan majalah sebagai media dakwah mereka. 
Dengan adanya berbagai rubrik yang disediakan dalam suatu majalah, maka akan sangat memungkinkan suatu majalah diperankan dalam beberapa fungsi sekaligus. Kenyataan tersebut semakin menambah daya tarik majalah diantara media-media yang lain. Alasan lain adalah dakwah melalui media massa jauh lebih efektif dan efisien, terutama bagi khalayak  yang sibuk seperti sekarang ini.
 Khalayak yang sibuk dengan segala aktifitasnya tidak mungkin untuk mengikuti atau mendengarkan secara langsung pesan-pesan da'I dalam sebuah mimbar ataupun secara live di radio ataupun televisi. Dengan alasan itu, maka majalah atau media massa pada umumnya memiliki keistimewaan dari media-media yang lain.
Terdapat beberapa komponen dalam majalah, komponen-komponen tersebut adalah:
1.    Komunikator
Yang dimaksud komunikan di sini adalah orang yang menyampaikan sebuah berita atau inforamsi dalam kegiatan komunikasi, yaitu redaksi majalah yang bersangkutan.
2.    Pesan
Pesan adalah isi atau materi yang disampaikan dalam berita tersebut. Pesan yang disajikan harus mengandung nilai-nilai yang dapat membangkitkan perhatian khalayak. Sehingga jika salah mengambil pesan dapat mengakibatkan keberadaan majalah akan terancam.
3.    Komunikan
Komunikan disini adalah pembaca atau orang yang mengkonsumsi berita (Saeful Muhtadi & Agus Ahmad Safei, 2003: 17-18).  (edy arif tirtana)
Posting Komentar